Kegagalan Argentina dan Mudarat Penguasaan Bola di Piala Dunia 2018

Memang betul sebuah tim akan superior ketika mereka sedang menguasai bola. Namun, menguasai bola pun harusnya tak sekadar melancarkan operan-operan pasif sambil berharap keajaiban. Akan lebih ideal apabila sebuah tim memiliki ide jelas bagaimana serangan akan dilakukan sehingga penguasaan bola tidak mubazir. Lihat saja juego do posicion ala Pep Guardiola yang menuntut penempatan posisi tepat agar aliran bola lebih lancar..
Sayangnya, ada begitu banyak tim di Piala Dunia 2018 yang masih kepayahan dalam menerapkan gaya main seperti ini. Telegraph mengklaim bahwa persentase kemenangan tim-tim yang menguasai bola di atas 65% cuma mencapai 35,7%. Salah satu tim yang jadi korban penguasaan bola adalah Timnas Argentina di laga 16 besar, Sabtu (30/6/2018).
Memang, Albieceleste bisa menghasilkan 3 gol dari 60% penguasaan bola. Namun, gol-gol itu hadir bukan melalui build-up dan kerja sama tim apik, melainkan via aksi-aksi individu Lionel Messi dan kolega. Ujung-ujungnya, Timnas Prancis bisa mengalahkan Argentina 4-3.
Bahkan, Timnas Spanyol, yang meraja dalam urusan penguasaan bola dengan 72,3%, pun juga punya masalah serupa. Beruntung, La Roja pada akhirnya bisa lolos ke 16 besar sebagai kampiun Grup B. Spanyol akan diadang Timnas Rusia dalam laga 16 besar, Minggu (1/7).
Di matchday pertama babak grup, Spanyol ditahan imbang 3-3 oleh Timnas Portugal meski menguasai 67% permainan. Dengan 78% penguasaan bola, Diego Costa dan kolega hanya bisa menang 1-0 atas Iran di matchday kedua. Di matchday terakhir babak grup pun tak jauh beda. Dengan 75% penguasaan bola, Spanyol butuh gol Iago Aspas di menit akhir untuk sekadar imbang 2-2 dengan Timnas Maroko.
Namun, hal yang menimpa Argentina dan Spanyol jelas tak separah Timnas Jerman. Anak-anak asuh Joachim Loew memiliki rata-rata 72% penguasaan bola per laga. Sialnya, Die Mannschaft hanya bisa jadi juru kunci di fase grup.

Jerman takluk 0-1 dari Timnas Meksiko di matchday pertama walau mendominasi 67% penguasaan bola. Mendominasi 75% penguasaan bola lawan Timnas Swedia di matchday kedua, Jerman butuh gol menit akhir Toni Kroos untuk menang 2-1. Dan penguasaan bola hingga 74% urung berujung satu gol pun saat Jerman kalah 0-2 dari Timnas Korea Selatan di matchday terakhir.
Tersendatnya serangan tim-tim di atas saat menguasai juga tak bisa dilepaskan dari faktor lawan mereka. Seluruh lawan sama-sama memilih bermain reaktif untuk meladeni obsesi tim-tim itu dalam penguasaan bola. Dengan penguasaan bola tinggi, sebuah tim biasanya menerapkan high defensive line. Ini menyisakan lubang yang bisa dieksploitasi lewat serangan balik lawan.
