kumparan
9 Sep 2019 13:17 WIB

Lebih dari Sekadar Pelatih, Akira Nishino Adalah Guru Sepak Bola

Akira Nishino, pelatih Timnas Thailand. Foto: AFP/Chalinee Thirasupa
Hanya dua bulan sebelum Piala Dunia 2018 mulai digelar Vahid Halilhodzic harus menerima kabar buruk itu. Pelatih asal Bosnia-Herzegovina tersebut dipecat dari jabatan pelatih kepala Tim Nasional Jepang menyusul hasil buruk dalam rangkaian uji tanding jelang turnamen.
ADVERTISEMENT
Delapan tahun sebelumnya Halilhodzic sudah pernah merasakan hal serupa. Bedanya, kala itu yang memecat dirinya adalah Pantai Gading dan pemecatan dilakukan empat bulan sebelum turnamen berlangsung. Di Pantai Gading, posisi Halilhodzic digantikan oleh Sven-Goeran Eriksson.
Apesnya nasib Halilhodzic di Jepang kemudian menjadi berkat bagi Akira Nishino yang sebelumnya menjabat sebagai direktur teknik Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA). Nishino, yang kala itu sudah berusia 63 tahun, diberi tanggung jawab memimpin Jepang di Piala Dunia 2018.
Sesungguhnya, apa yang terjadi tidaklah ideal bagi Jepang. Sebab, sudah tiga tahun lamanya mereka bermain di bawah Halilhodzic yang punya filosofi sepak bola bertolak belakang dengan Nishino. Di bawah Halilhodzic, Jepang bertransformasi menjadi tim yang mengandalkan pertahanan kokoh dan serangan balik.
ADVERTISEMENT
Bicara soal hasil, Jepang asuhan Halihodzic sebenarnya tidak buruk-buruk amat. Nyatanya, mereka mampu lolos ke Piala Dunia 2018 sebagai juara grup di ronde kedua kualifikasi. Jepang sukses mengungguli negara-negara macam Arab Saudi, Australia, serta Uni Emirat Arab.
Vahid Halihodzic melatih Nantes pada musim 2018/19. Foto: AFP/Sebastien Salom Gomis
Meski demikian, hasil tidak selalu bisa dijadikan patokan. Cara bermain Jepang di bawah Halilhodzic rupanya jauh dari kata memuaskan. Banyak pihak yang merasa eks pelatih Paris Saint-Germain itu sudah merusak identitas sepak bola Jepang, termasuk pemain-pemain seperti Keisuke Honda dan Shinji Kagawa.
Ketidakpuasan itu kemudian terwujud dalam memburuknya penampilan Jepang di uji tanding tadi. Dari sembilan pertandingan yang dilakoni, Jepang cuma menang tiga kali, itu pun atas tim-tim yang di atas kertas tidak masuk kategori tim elite. Salah satu penampilan terburuk Jepang ketika itu adalah ketika mereka dihajar Korea Selatan dengan skor telak 1-4.
ADVERTISEMENT
Maka, palu pun diketuk. Riwayat kepelatihan Halilhodzic di Timnas Jepang tamat. Karena waktu yang mepet, JFA pun kehabisan pilihan. Itulah mengapa, Nishino yang memang memahami persepakbolaan Jepang ditunjuk sebagai pelatih.
Di bawah asuhan Nishino, Jepang tampil jauh lebih baik. Identitas sepak bola mereka kembali tampak. 'Samurai Biru' memang akhirnya harus tersingkir di perdelapan final usai kalah dari Belgia. Namun, performa mereka di laga tersebut membuat semua pemirsa sepak bola berdecak kagum.
Belgia, yang di akhir turnamen sukses menjadi semifinalis, dibuat kalang kabut. Jepang menampilkan sepak bola yang atraktif dan proaktif dengan umpan pendek dari kaki ke kaki. Kelincahan dan kecerdasan pemain Jepang dalam bergerak membuat Belgia harus tertinggal dua gol lebih dulu.
ADVERTISEMENT
Genki Haraguchi dan Takashi Inui jadi pencetak gol Jepang pada laga tersebut. Sayangnya, keunggulan Jepang itu akhirnya tak bertahan. Belgia yang memang punya pemain dengan kualitas lebih bagus akhirnya mampu bangkit dan mencetak tiga gol. Walau begitu, mereka butuh menit keempat tambahan waktu untuk bisa memastikan kemenangan lewat Nacer Chadli.
Video
Pertandingan menghadapi Belgia itu menunjukkan kepada dunia betapa besarnya potensi sepak bola Jepang. Mereka punya identitas yang jelas dan, dengan pendekatan yang tepat, Jepang bisa menyakiti siapa pun. Penunjukan Nishino yang mendadak itu rupanya mampu membawa berkat.
Padahal, Nishino awalnya sempat diragukan karena ketika ditunjuk dia sudah lama tidak melatih. Tiga tahun lamanya pria kelahiran Saitama itu absen dari pinggir lapangan. Namun, bukan berarti Nishino tidak punya kualitas. Ada kalanya dia disebut-sebut sebagai salah satu pelatih terbaik Jepang.
ADVERTISEMENT
Nishino dulunya pernah menjadi pemain yang cukup hebat. Akan tetapi, ketika dia masih aktif bermain, Jepang belum memiliki kompetisi sepak bola profesional. Ketika memperkuat tim nasional pada Piala Dunia 1978, Nishino berstatus sebagai mahasiswa Universitas Waseda.
Setelah pensiun pada 1990 Nishino langsung banting setir menjadi pelatih. Awalnya dia dipercaya untuk menangani Timnas U-20 Jepang. Namun, baru pada 1996 dia mulai mencuat sebagai sosok pelatih yang layak diperhitungkan.
Ketika itu, bersama Timnas U-23 di Olimpiade Atlanta, Nishino mampu membawa Jepang menang 1-0 atas Brasil dalam pertandingan yang disebut sebagai 'Keajaiban di Miami'. Sayang, Jepang akhirnya gagal lolos dari fase grup karena kalah selisih gol dari Brasil dan Nigeria.
Video
Usai berkiprah di tim nasional level junior, Nishino akhirnya terjun ke dunia kepelatihan level klub. Bersama Kashiwa Reysol, Nishino langsung menunjukkan tangan dinginnya dengan mengantarkan klub tersebut menjuarai Piala J.League edisi 1999.
ADVERTISEMENT
Bukan kebetulan Kashiwa jadi tempat Nishino memulai karier sebagai pelatih klub. Ketika bermain dulu dia pernah menjadi bagian dari klub semiprofesional milik perusahaan Hitachi. Klub yang dulu diperkuat Nishino itu kemudian bertransformasi menjadi Kashiwa.
Nishino sendiri tidak cuma berprestasi di ajang Piala J.League. Di J.League sendiri dia berhasil mengantarkan Kashiwa finis di urutan tiga selama dua musim berturut-turut. Nishino pun lantas diganjar penghargaan pelatih terbaik. Namun, itu semua tidak cukup bagi Kashiwa dan Nishino pun dipecat.
Pemecatan Nishino ini terjadi pada 2001. Setahun kemudian dia bergabung dengan Gamba Osaka dan di klub inilah Nishino menjalani tahun-tahun terbaiknya sebagai pelatih. Selama sembilan tahun melatih Gamba, dia sukses mempersembahkan masing-masing satu gelar J.League, Piala J.League, Piala Super Jepang, dan Liga Champions Asia serta dua trofi Piala Kaisar.
ADVERTISEMENT
Berkat keberhasilan menjuarai Liga Champions Asia pada 2008 itu Gamba kemudian berhak untuk berlaga di Piala Dunia Antarklub. Pada ajang tersebut Nishino menunjukkan kehebatannya sebagai pelatih ketika berhadapan dengan Sir Alex Ferguson di babak semifinal.
Gamba akhirnya kalah dengan skor 3-5 pada pertandingan itu. Akan tetapi, apa yang terjadi pada laga Belgia vs Jepang di Piala Dunia 2018 sebenarnya sudah terjadi lebih dulu pada pertandingan tersebut. Gamba bermain dengan begitu galak dan membuat Manchester United kelimpungan. Mereka memang kalah tetapi penampilan mereka tak bisa dilupakan begitu saja.
Video
Boleh dikatakan, penampilan Gamba di semifinal Piala Dunia Antarklub 2008 itu jadi puncak karier Nishino di level klub. Pasalnya, sesudah itu dia tidak lagi mampu meraih gelar bersama tim mana pun, entah itu Gamba, Vissel Kobe, maupun Nagoya Grampus yang jadi klub terakhir Nishino.
ADVERTISEMENT
Dalam kolomnya di ESPN, John Duerden menjelaskan apa yang membuat Nishino jadi kehilangan sentuhan. Katanya, Nishino adalah pelatih yang kelewat konservatif. Namun, konservatisme Nishino ini tidak sama dengan konservatisme ala Jose Mourinho.
Konservatisme Nishino ditunjukkan lewat bagaimana kekehnya dia bertahan dengan filosofi sepak bola khas Jepang. Sementara itu, konservatisme ala Mourinho bisa dipandang sebagai sebuah keengganan untuk memainkan sepak bola ekspansif. Dengan kata lain, Nishino boleh disebut sebagai pelatih yang naif.
Meski demikian, tulis Duerden, naifnya Nishino tadi adalah jalan keluar paling realistis bagi Jepang usai memecat Halilhodzic. Mereka tak punya banyak waktu dan pemahaman Nishino akan filosofi sepak bola Jepang menjadi solusi terbaik di situasi sulit tadi. Hasilnya pun tidak mengecewakan.
ADVERTISEMENT
Kini, Nishino sudah tidak lagi bersama Timnas Jepang. Sejak 17 Juli 2019 lalu dia sudah ditunjuk untuk menangani Timnas Thailand, baik di level senior maupun U-23. Selasa (10/9) malam WIB, Nishino akan memimpin anak-anak asuhnya menghadapi Timnas Indonesia di Stadion Utama Gelora Bung Karno.
Akira Nishino (kanan) ketika diresmikan jadi pelatih Timnas Thailand. Foto: AFP/Toshifumi Kitamura
Bagi Thailand sendiri, menunjuk Nishino adalah sebuah pernyataan bahwa mereka punya tujuan tinggi. Thailand tak lagi puas dengan menjadi raja di Asia Tenggara. Mereka ingin menaikkan status dari jagoan level regional menjadi jagoan level kontinental.
Dalam diri Nishino, Thailand tak cuma mendapatkan sosok pelatih, melainkan guru sepak bola. Artinya, Thailand tidak cuma mengincar hasil positif untuk jangka pendek, tetapi juga prestasi menterang di masa mendatang. Status Nishino sebagai pelatih tim senior dan U-23 mempertegas hal tersebut.
ADVERTISEMENT
Nishino sendiri mengaku terkesan dengan kualitas pemain-pemain Thailand dan itu tidak mengejutkan. Tim 'Gajah Perang' saat ini dihuni oleh pemain-pemain yang kaya pengalaman di level Asia. Mayoritas memang masih bermain di liga domestik tetapi klub-klub macam Buriram United sudah tidak asing lagi dengan kompetisi Liga Champions Asia dan Piala AFC.
Selain itu, di skuat Thailand saat ini juga ada nama-nama yang berkiprah di luar negeri. Kiper mereka, Kawin Thamsatchanan, bermain di OH Leuven, klub Belgia milik Keluarga Srivaddhanaprabha. Sementara, Theerathon Bunmathan (Yokohama F. Marinos) dan Chanatip Songkrasin (Consadole Sapporo) bermain di J.League.
Di antara mereka, hanya Thamsatchanan yang saat ini statusnya merupakan pemain pelapis. Bunmathan dan Songkrasin, sementara itu, adalah andalan di klubnya masing-masing. Dengan keberadaan dua pemain terbaik Thailand di Liga Jepang, penunjukan Nishino sebagai pelatih semakin masuk akal.
ADVERTISEMENT
Walau begitu, sampai sejauh ini, Nishino belum bisa memberi banyak bukti. Dia baru memimpin Thailand bertanding satu kali—melawan Vietnam di Kualifikasi Piala Dunia 2022—dan laga itu berakhir imbang 0-0. Sebelum laga itu Nishino sempat dikritik lantaran cuma membawa dua penyerang dalam timnya.
Menanggapi hal tersebut, pelatih Timnas Indonesia, Simon McMenemy, berujar bahwa Thailand saat ini memang masih butuh waktu untuk menemukan bentuk terbaiknya.
"Thailand masih transisi di bawah pelatih baru seperti saat melawan Vietnam, tetapi tetap berbahaya pemainnya. Masih ada Chanathip (Songkrasin). Ada pula Supachok (Sarachat). Kita tonton pertandingan dia bersama Buriram (United)," ujarnya seperti ditulis laman resmi PSSI.
McMenemy benar. Apa pun situasinya, Indonesia memang selalu harus mewaspadai Thailand yang selama ini menjadi momok paling mengerikan. Dari 67 pertandingan sejak 1957, Indonesia cuma bisa menang 25 kali dan sudah kalah 38 kali. Dalam dua laga terakhir Indonesia bahkan selalu kalah.
ADVERTISEMENT
Meski demikian, Indonesia dan Thailand kini sama-sama berada di titik nol dengan kehadiran pelatih baru. Kedua tim sama-sama belum pernah menang di ajang kompetitif dan pertandingan nanti bakal jadi perebutan momentum.
Nishino bakal datang dengan filosofinya, McMenemy dengan kegemarannya mengubah-ubah taktik. Ini adalah pertandingan antara idealisme dan pragmatisme. Bagi Indonesia, kemenangan akan jadi pelipur lara usai dikalahkan Malaysia. Bagi Thailand, ini adalah pembuktian bahwa menunjuk Nishino bukan sebuah kesalahan.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan