kumparan
3 Okt 2018 16:53 WIB

Lorenzo Insigne dan Kelahiran Kembali Fantasista

Lorenzo Insigne di pertandingan menghadapi Torino. (Foto: Reuters/Massimo Pinca)
Ketika Gian Piero Ventura dicopot sebagai commissario tecnico Tim Nasional Italia, nama Carlo Ancelotti ikut didengungkan sebagai salah satu kandidat pengganti. Pada dasarnya, kala itu nama Ancelotti ikut dicatut karena dia memiliki rekam jejak yang sulit disamai pelatih Italia aktif mana pun saat ini. Plus, kala itu dia tengah menganggur usai dipecat oleh Bayern Muenchen.
ADVERTISEMENT
Namun, rekam jejak saja seharusnya tidak cukup untuk jadi patokan. Kemampuan mengidentifikasi kelebihan dan kekurangan tim, lalu mencari solusi terbaik untuk mengeluarkan segala potensi, adalah hal mutlak untuk menilai kepantasan seorang pelatih. Dalam hal ini, rupanya, Ancelotti memang lebih unggul dibandingkan Ventura.
Ketika Italia sedang menjalani Pra-Piala Dunia 2018, satu masalah yang sepertinya sulit sekali dicari jalan keluarnya adalah bagaimana mengutilisasi Lorenzo Insigne dengan baik dan benar. Sebab, pemain asli Napoli itu dianggap sebagai satu-satunya peman yang mampu memberi percik api bagi permainan Gli Azzurri yang kerapkali tampak mati suri.
Ventura bukannya tak berusaha. Dalam rezim kepelatihannya, Insigne sudah dicoba bermain di tiga posisi berbeda: penyerang sayap kiri, gelandang sayap kiri, sampai gelandang tengah. Hasilnya, ya, begitu-begitu saja. Insigne gagal bersinar dan Italia urung berangkat ke Rusia meskipun sudah menyiapkan jersi anyar.
ADVERTISEMENT
Usai Piala Dunia, Ancelotti datang ke Napoli menggantikan Maurizio Sarri. Di bawah Sarri, Insigne bermain sebagai penyerang sayap kiri yang senantiasa berkolaborasi dengan Marek Hamsik dan Faouzi Ghoulam atau Mario Rui. Bersama Sarri, Insigne sudah dianggap cukup moncer, mengingat dia mampu mencetak gol di sejumlah laga penting.
Itulah yang mendasari adanya anggapan bahwa Insigne memang semestinya dimainkan sebagai penyerang sayap kiri. Anggapan tersebut memang sama sekali tidak salah. Dengan modal kecepatan, kelincahan, teknik yang mumpuni, dan sepakan akurat, Insigne adalah ancaman besar dari sisi kiri. Akan tetapi, anggapan tersebut tidak benar-benar pas. Sebab, ternyata ada posisi yang kini lebih nyaman dilakoni oleh Insigne.
Musim ini bersama Napoli, Insigne selalu bermain di delapan laga yang sudah dilewati. Dari delapan laga itu, memang dia masih lebih kerap bermain sebagai penyerang sayap kiri, yakni sebanyak empat kali. Akan tetapi, dalam empat pertandingan lainnya, Insigne selalu bermain di tengah. Menariknya, Insigne yang beroperasi di area sentral itu rupanya lebih produktif ketimbang Insigne yang biasanya.
ADVERTISEMENT
Dari empat laga sebagai penyerang sayap kiri, Insigne 'hanya' mampu mencetak dua gol. Peran ini dilakoninya ketika Napoli masih berada dalam masa transisi, di mana Ancelotti masih menerapkan pakem dasar 4-3-3. Formasi itu sendiri merupakan warisan Sarri yang sudah begitu fasih dimainkan oleh para pemain Napoli.
Memang, pakem dasar 4-3-3 milik Ancelotti itu tidaklah sama dengan 4-3-3 yang dulu digunaan Sarri. Komposisi pemainnya berbeda dan cara bermainnya pun lain. Dalam formasi itu, tak ada lagi Dries Mertens sebagai false nine, dan posisinya digantikan oleh Arkadiusz Milik yang bisa bermain sebagai target man. Selain itu, ketiadaan Jorginho membuat Ancelotti memutar otak dengan memindah Marek Hamsik ke area tengah-dalam untuk bermain sebagai regista.
ADVERTISEMENT
Perlahan, perubahan mulai diperlihatkan oleh Napoli. Dalam empat laga berikutnya, formasi 4-2-3-1 dan 4-4-2 yang jadi andalan. Di sini, Insigne selalu bermain di area sentral. Jika Napoli bermain dengan 4-2-3-1, Insigne akan ditempatkan sebagai gelandang serang. Lalu, jika Napoli berlaga dengan 4-4-2, Insigne bakal ditugasi untuk bermain sebagai penyerang tengah, walau pada praktiknya dia adalah seorang seconda punta yang bermain lebih ke dalam.
Lorenzo Insigne memimpin selebrasi pemain-pemain Napoli. (Foto: Reuters/Massimo Pinca)
Di area sentral itu, Insigne mampu mendapat keleluasaan. Ruang geraknya, tiba-tiba saja, jadi begitu luas. Inilah yang rupanya benar-benar dibutuhkan oleh pemain berusia 27 tahun tersebut. Dengan ruang yang lebih besar, Insigne mampu mencetak tiga gol dan satu assist dari empat pertandingan.
Penempatan Insigne di area sentral ini sebenarnya adalah sebuah langkah berbau nostalgia. Di masa lalu, pemain-pemain seperti Insigne selalu dimainkan di area tiga perempat lapangan. Itulah mengapa, pemain-pemain itu disebut sebagai trequartista. Para trequartista itu biasanya memiliki kemampuan teknik dan daya kreasi dahsyat, sehingga mereka kerap pula disebut fantasista.
ADVERTISEMENT
Insigne adalah fantasista yang dilahirkan kembali oleh Ancelotti. Sebagai pemain yang tampil di tempat yang dulu jadi ladang kreasi para legenda macam Gianni Rivera, Sandro Mazzola, dan Roberto Baggio, Insigne pun menunjukkan bahwa dia betul-betul layak disebut sebagai fantasista.
Soal gol, di Napoli dialah yang paling unggul dengan koleksi lima. Bahwa dia berhasil jadi pencetak gol terbanyak klub itu bukanlah fakta mengejutkan karena di tiap laganya dia memang jadi pemain yang paling kerap menembak dengan catatan 4,7.
Kemudian, soal mengkreasi peluang, Insigne pun jadi salah satu yang terdepan dengan catatan 2,4 umpan kunci per laga. Untuk urusan itu Insigne hanya kalah dari Jose Callejon (3,8) dan dari 2,4 umpan kunci per laga tadi, salah satunya telah berbuah menjadi assist.
ADVERTISEMENT
Arek Milik merayakan gol bersama Piotr Zielinski (kanan) dan Lorenzo Insigne. (Foto: Reuters/Ciro De Luca)
Bukti lain bahwa Insigne telah menjadi trequartista sejati adalah catatan dribel per laganya. Di Napoli, Insigne bukan pemain yang paling rajin mendribel bola. Catatannya hanya ada di angka 0,9 per laga dan itu masih kalah dibanding Kevin Malcuit (2), Allan Marques (1,9), Adam Ounas (1,7), dan Amadou Diawara. Namun, justru di situlah poinnya.
Dengan bermain di tiga perempat lapangan, Insigne tak lagi harus kerap-kerap mendribel karena pada dasarnya, posisi bermainnya sudah cukup di depan. Insigne kemudian menyalurkan kreativitasnya tadi dengan umpan dan tembakan. Musim lalu, Insigne masih harus melakukan 1,7 dribel per laga, tetapi musim ini catatan itu terpangkas sampai separuhnya.
Pada prinsipnya, musim ini Insigne dibuat menjadi lebih efektif dan efisien. Meski begitu, Insigne tentu tidak bisa mengangkat timnya sendirian. Untuk memaksimalkan Insigne, selain memindah posisi dan memberinya peran baru, Ancelotti juga meringankan beban sang pemain dengan membangun tim untuk mengakomodasinya.
ADVERTISEMENT
Salah satu cara Ancelotti untuk membantu Insigne adalah dengan memberi kesempatan lebih kepada Milik. Sejak awal, Ancelotti memang sudah menegaskan bahwa pos penyerang tengah Napoli adalah kepunyaan Milik, walaupun dalam beberapa kesempatan Mertens masih diberi porsi yang cukup besar.
Keberadaan Milik ini membuat permainan Napoli jadi lebih lugas dan lebih terfokus pada satu titik. Milik, sebagai penyerang dengan postur besar, memang ideal untuk dijadikan seorang target man. Dia diperintahkan untuk jadi titik fokal serangan, di mana bola lebih sering diarahkan langsung pada dirinya untuk kemudian disebarkan lagi ke belakang, khususnya kepada Insigne dan Piotr Zielinski.
Heatmap Milik vs Parma (Foto: WhoScored)
Heatmap Insigne vs Parma (Foto: WhoScored)
Upaya Ancelotti itu berbuah hasil dengan cepat. Milik, pada akhirnya, jadi penyerang yang lebih dulu menciptakan assist dibanding Insigne, tepatnya pada pertandingan pekan keempat. Yang menarik, assist itu diberikan Milik kepada Insigne yang jadi pencetak gol tunggal kemenangan Napoli. Menariknya lagi, ketika akhirnya Insigne bisa mencatatkan assist pada laga pekan keenam kontra Parma, yang jadi penikmat adalah Milik sendiri.
ADVERTISEMENT
Dua pertandingan tersebut dilakoni Napoli dengan memainkan formasi 4-4-2, atau 4-4-1-1 jika Insigne mau dihitung sebagai pemain yang berada di belakang penyerang. Dengan menduetkan dua penyerang berbeda tipe di lini depan, Ancelotti tak hanya mengoptimalkan peran Insigne, tetapi juga Milik. Kedua pemain tersebut pun kini mulai bisa membentuk kolaborasi manis yang begitu menguntungkan Napoli.
Ketika Insigne dan Milik dimainkan bersama dalam formasi 4-4-2 tadi, mereka berdua masing-masing punya peran spesifik. Milik, dalam laga melawan Parma itu, memang tidak pernah diam di satu titik saja. Akan tetapi, mantan penggawa Ajax itu tetap menghabiskan lebih banyak waktu di area kotak penalti lawan ketimbang Insigne. Sebaliknya, Insigne bermain sedikit di belakang tandemnya itu.
ADVERTISEMENT
Tak jarang pula kedua orang itu melakukan kolaborasi di area sentral pertahanan Parma. Pada akhirnya, gol-gol yang mereka cetak pada laga itu pun berasal dari serangan-serangan di sektor tengah tadi. Kolaborasi Insigne-Milik ini kurang lebih mirip dengan kolaborasi antara Antoine Griezmann dan Diego Costa di Atletico Madrid.
Di sinilah sebenarnya identitas Napoli milik Ancelotti bisa disaksikan. Memang benar bahwa di bawah arahan pria berjuluk Carletto itu tidak ada lagi umpan-umpan cepat ala Sarri. Akan tetapi, membuat Insigne jadi pewaris takhta para fantasista legendaris Italia bisa jadi peninggalan yang tak ternilai harganya dari Ancelotti untuk Napoli.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan