Pencarian populer

Juventus vs Napoli: Duel Dua Raksasa Minim Cela

Striker Juventus, Mario Manadzukic (kanan), berebut bola dengan bek Napoli, Elseid Hysaj. (Foto: AFP/Marco Bertorello)
"Dalam hidup, Anda perlu menunjukkan respek dan mereka melakukan perayaan terlalu cepat. Pada akhirnya, justru kamilah yang berpesta," kata Giorgio Chiellini usai Juventus menang 3-2 atas Internazionale di pekan ke-35 musim lalu.
ADVERTISEMENT
'Mereka' yang dimaksud Chiellini bukanlah Inter, melainkan Napoli. Pernyataan itu muncul setelah para suporter Napoli melakukan selebrasi besar-besaran di Naples menyusul kemenangan Partenopei atas Juventus di Allianz Stadium.
Kala itu, pada laga pekan ke-34 Napoli menang 1-0 lewat tandukan Kalidou Koulibaly di menit-menit akhir. Kemenangan itu membuat selisih poin antara mereka dan Juventus menipis jadi satu angka.
Namun, pada pekan berikutnya, Napoli kalah telak 0-3 di markas Fiorentina. Koulibaly yang jadi pahlawan pada laga kontra Juventus menjadi pesakitan di laga itu lewat kartu merah yang diterimanya. Tak lama setelah Napoli menelan kekalahan, Juventus berhasil memetik kemenangan atas Inter tadi lewat gol Gonzalo Higuain di masa injury time.
Di titik itulah perlawanan Napoli tamat. Mereka memang berhasil meraih satu hasil imbang dan dua kemenangan pada tiga pertandingan sisa, tetapi itu semua tidak cukup untuk menahan laju Juventus. Di akhir, seperti kata Chiellini, Juventus-lah yang berpesta. Dengan raihan 95 poin -- unggul empat angka atas Napoli -- mereka menyegel Scudetto untuk tujuh kali secara beruntun.
ADVERTISEMENT
Memori pahit itu belum benar-benar hilang dari benak Napoli. Sebelum laga melawan Fiorentina di pekan keempat musim 2018/19, Allan Marques masih berbicara soal kegagalan timnya di musim lalu tersebut. Dia pun, ketika itu, menargetkan revans atas La Viola dan target itu berhasil dicapai lewat kemenangan 1-0.
Di pekan ketujuh, Sabtu (29/9/2018) malam WIB, Napoli akan bertamu ke markas Juventus. Namun, Napoli yang ini bukanlah Napoli yang dulu. Mereka tak lagi diasuh oleh Maurizio Sarri, melainkan oleh Carlo Ancelotti dan segalanya terlihat berbeda.
Kendati begitu, pelatih Juventus, Massimiliano Allegri, menganggap bahwa Napoli yang ini sama berbahayanya. Selepas laga tengah pekan menghadapi Bologna, Allegri berkata bahwa Napoli masih merupakan rival utama Juventus. Tak cuma itu, pelatih yang akrab disapa 'Max' itu menyebutkan bahwa keberadaan Ancelotti membuat Napoli jadi lebih tenang.
ADVERTISEMENT
Carlo Ancelotti, pelatih terbaru Napoli. (Foto: REUTERS/Clodagh Kilcoyne)
Ucapan Allegri itu sama sekali tidak berlebihan. Memang benar bahwa Juventus saat ini masih memiliki catatan sempurna dengan enam kemenangan dari enam pertandingan, sementara Napoli telah menelan satu kekalahan. Namun, di lima pertandingan lainnya, Lorenzo Insigne cs. mampu melakukan sapu bersih. Maka, saat ini posisi Napoli di klasemen pun persis di bawah Juventus dengan selisih hanya tiga angka.
Di bawah Ancelotti, Napoli tak lagi bermain dengan formasi 4-3-3 seperti pada masa Sarri, melainkan 4-4-1-1. Jika pada era Sarri posisi ujung tombak dipegang oleh Dries Mertens, kali ini Arkadiusz Milik-lah yang mengemban tanggung jawab tersebut. Sejauh ini, Milik sama sekali tidak mengecewakan karena dari lima pertandingan (empat sebagai starter), penyerang Polandia itu telah mencetak 3 gol dan 1 assist.
ADVERTISEMENT
Menariknya, Milik sebenarnya bukanlah eksekutor utama dalam sistem penyerangan Napoli. Pemain yang direkrut dari Ajax itu sebenarnya merupakan sosok target man yang jadi poros umpan di lini depan. Ancelotti menempatkan Milik untuk mengoptimalkan peran pemain-pemain lini kedua macam Insigne, Piotr Zielinski, Allan, serta Jose Callejon. Hasilnya pun moncer karena sampai saat ini Insigne telah mengemas 5 gol plus 1 assist.
Perubahan sistem permainan itu bukan satu-satunya perubahan yang dilakukan oleh Ancelotti. Seperti yang disebutkan Allegri, Napoli saat ini lebih tenang dan itu telah terbukti dari dua kemenangan yang mereka rengkuh di dua pertandingan pertama musim. Saat menghadapi Lazio dan Milan, Napoli tertinggal lebih dulu. Namun, mereka mampu bangkit sampai akhirnya meraih poin penuh.
ADVERTISEMENT
Skuat Napoli rayakan kemenangan atas Parma. (Foto: REUTERS/Ciro De Luca)
Artinya, mental para pemain Napoli sekarang lebih kuat. Bahkan, kekalahan yang mereka derita dari Sampdoria di pekan ketiga itu, boleh dikatakan, tidak lahir dari buruknya mental para pemain, melainkan karena masalah taktikal. Saat itu, kendati dalam posisi tertinggal cukup jauh, Napoli tak pernah berhenti melakukan gempuran dan inilah yang wajib diwaspadai oleh Juventus.
Nah, bicara soal problem taktikal, masalah yang dimiliki Napoli sebenarnya merupakan masalah klasik tim yang menerapkan possession football. Ya, meskipun Napoli sudah tak lagi dilatih Sarri, sisa-sisa filosofi Sarri itu masih terasa betul. Buktinya, dengan catatan penguasaan bola 55,3%, Napoli masih menjadi salah satu tim terunggul di Serie A untuk urusan itu, tepatnya di urutan keempat.
ADVERTISEMENT
Dari situ, masalah muncul ketika tim lawan memiliki kapabilitas dalam melakukan serangan balik. Inilah yang jadi pembunuh Napoli pada laga menghadapi Sampdoria. Perubahan sistem permainan dari 4-3-3 menjadi 4-4-1-1 juga berkontribusi atas masalah ini karena dengan formasi 4-4-1-1, Napoli jadi punya lebih sedikit pemain di area sentral untuk mencegah lawan melancarkan blitzkrieg.
Celaka bagi Napoli, Juventus di bawah Allegri adalah ahlinya serangan balik. Gol Higuain yang jadi penentu kemenangan 'Si Nyonya Tua' pada perjumpaan di San Paolo musim lalu adalah produk dari sebuah serangan balik. Di musim ini, Juventus pun telah berhasil mencetak satu gol dari situasi seperti ini, tepatnya kala menghadapi Frosinone di pekan kelima.
Federico Bernardeschi merayakan gol bersama Cristiano Ronaldo. (Foto: Reuters/Ciro De Luca)
Dalam urusan melakukan serangan balik, Juventus memang diuntungkan dengan kecepatan para pemainnya, terutama mereka yang beroperasi di sektor sayap. Federico Bernardeschi, Cristiano Ronaldo, Joao Cancelo, Juan Cuadrado, Alex Sandro, serta Paulo Dybala adalah ancaman serius bagi Napoli dalam situasi seperti ini. Napoli cukup beruntung karena pemain tercepat Juventus, Douglas Costa, masih harus absen lantaran hukuman larangan bermain dan cedera.
ADVERTISEMENT
Meski demikian, serangan balik bukanlah satu-satunya opsi Juventus. Saat ini, mereka adalah tim dengan catatan penguasaan bola terbaik di Serie A. Artinya, Miralem Pjanic dkk. juga memiliki kemampuan untuk mengontrol pertandingan. Satu-satunya masalah Juventus saat ini adalah cara menyerang yang monoton.
Umpan silang, sampai sejauh ini, masih menjadi andalan utama Juventus dalam menciptakan peluang. Situs resmi Serie A mencatat bahwa Juventus sudah membuat 127 umpan silang, hanya kalah dari catatan milik Inter (139).
Hal itu bisa jadi kelebihan sekaligus kekurangan bagi Juventus. Umpan silang bisa jadi kelebihan karena Napoli tergolong lemah dalam mengantisipasi bola-bola atas. Menurut catatan WhoScored, Napoli hanya sanggup memenangi 9,3 duel udara di tiap laganya. Ini merupakan catatan terburuk ketiga di Serie A. Di sisi lain, umpan silang juga bisa jadi kelemahan bagi Juventus karena bisa mereduksi opsi lain dalam menciptakan kans.
ADVERTISEMENT
Juan Cuadrado, tukang crossing andalan Max Allegri. (Foto: AFP/Alberto Pizzoli)
Adapun, untuk pertandingan besok, selain Douglas Costa, pemain Juventus lain yang bakal absen adalah Sami Khedira serta Mattia De Sciglio. Ketiadaan Khedira itu, sampai sejauh ini, sudah bisa digantikan dengan baik oleh Emre Can yang baru datang pada bursa transfer musim panas lalu. Sementara, absennya De Sciglio sama sekali bukan masalah karena eks bek Milan itu memang bukan pemain utama.
Dari kubu Napoli, praktis tak ada pemain inti yang akan absen. Napoli bakal turun dengan pemain-pemain terbaik yang mengantarkan mereka pada lima kemenangan dari enam pertandingan. Hanya, yang harus dipikirkan oleh Ancelotti adalah siapa sosok yang paling pantas untuk jadi kiper utama. Orestis Karnezis-kah atau David Ospina? Sebab, keberadaan kiper utama yang permanen akan membuat koordinasi dengan para bek jadi lebih lancar.
ADVERTISEMENT
Pada akhirnya, Juventus sebagai tuan rumah, juara bertahan, dan tim yang punya pemain lebih baik, di atas kertas akan lebih diunggulkan. Akan tetapi, Napoli punya senjata berupa motivasi ekstra. Plus, cara bermain mereka yang agresif bisa membuat Juventus kesulitan meski bermain di hadapan publik sendiri. Sehingga, Juventus harus berupaya dua, tiga kali lebih keras untuk bisa meraup poin maksimal.
=====
Juventus akan menjamu Napoli pada pertandingan Serie A pekan ketujuh di Allianz Stadium, Sabtu (29/9/2018) malam pukul 23:00 WIB.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.80