Man United vs Juventus: Serang, Serang, Serang!

Lima belas tahun terpisah, Manchester United dan Juventus akhirnya bersua kembali. Di matchday ketiga fase grup Liga Champions musim 2018/19, Rabu (24/10/2018) dini hari WIB, United akan menjamu Juventus di Old Trafford.
Dalam kurun waktu 15 tahun itu, ada banyak sekali yang sudah berubah. Tak ada lagi Sir Alex Ferguson dan Marcello Lippi. Pemain-pemain yang dulu terlibat dalam pertandingan terakhir antara kedua tim ini pun sudah angkat kaki, termasuk Gianluigi Buffon yang hengkang menuju Paris Saint-Germain pada musim panas lalu.
Kini, United dan Juventus sudah punya wajah berbeda. Meski demikian, gengsi pertarungan ini tetap masih setinggi dulu. Terlepas dari keringnya prestasi United akhir-akhir ini, mereka masih merupakan tim terpopuler dari Inggris. Sementara itu, Juventus kini telah bangkit dari masa-masa sulit dan sudah kembali menjadi tim terbaik Italia.
Walau demikian, Manchester United harus mengakui bahwa di hadapan Juventus yang sekarang, mereka adalah underdog. Sejak musim 2011/12, Juventus telah berhasil menyapu bersih gelar juara Serie A. Selain itu, dalam kurun waktu yang sama, mereka juga sudah menjuarai Coppa Italia sebanyak empat kali serta lolos ke final Liga Champions dua kali.
Musim ini, tren performa Juventus juga lebih baik. Sebelum ditahan imbang Genoa akhir pekan lalu, 'Si Nyonya Tua' sudah berhasil mengemas tujuh kemenangan beruntun di liga. Lalu, dua kemenangan dari dua matchday pertama Liga Champions juga sudah berhasil dikantongi.
Sebaliknya, United sama sekali belum mampu menunjukkan tanda-tanda bakal kembali jadi tim juara di Inggris sepeninggal Ferguson. Sejak 2013, 'Iblis Merah' belum pernah lagi jadi juara liga. Trofi yang mereka raih pun, minus gelar Liga Europa musim 2016/17, berasal dari kompetisi-kompetisi 'kelas dua' seperti Piala FA, Piala Liga, serta Community Shield.
Soal performa, United lebih tak layak lagi jadi unggulan. Di Premier League, saat ini mereka ada di posisi sepuluh hasil empat kali menang, dua kali imbang, dan tiga kali kalah. Sedangkan, di Liga Champions mereka baru bisa menang atas Young Boys. Kondisi ini kian diperparah dengan prahara yang melibatkan pelatih mereka, Jose Mourinho, dengan sejumlah pemain seperti Paul Pogba dan Anthony Martial.
Kendati demikian, bukan berarti United harus kalah sebelum berperang. Pasalnya, dalam dua pertandingan terakhir mereka sudah menunjukkan tanda-tanda perbaikan. Kemenangan atas Newcastle United dan hasil imbang kontra Chelsea menunjukkan bahwa para pemain The Red Devils masih tahu caranya berjuang. Di dua laga tersebut, mereka sukses bangkit usai tertinggal lebih dulu dan inilah yang sebelum-sebelumnya gagal mereka tunjukkan.
Martial adalah pemimpin dari kebangkitan United tersebut. Dalam dua pertandingan terakhir, penyerang asal Prancis itu sudah mengemas tiga gol. Hubungannya dengan Mourinho pun tampaknya sudah membaik. Tanpa Alexis Sanchez yang masih cedera, Martial hampir bisa dipastikan bakal jadi tumpuan Mourinho lagi. Terlebih, dia sudah mencetak satu gol di Liga Champions saat menghadapi Young Boys.
Lewat Martial, Mourinho menunjukkan bahwa dia sekarang sudah mulai tahu apa yang harus dilakukan. Sebelumnya, Pogba pernah mengkritik taktik defensif pelatih asal Portugal itu dengan berkata bahwa semestinya, klub seperti United harus bermain menyerang, menyerang, dan menyerang, utamanya jika bermain di kandang.

Pogba mendapat masalah karena ucapannya itu. Dia kini dilarang berbicara pada media dan ban kaptennya pun dicopot. Akan tetapi, apa yang dikatakan Pogba itu benar. Sebab, hanya dengan menyeranglah Mourinho bisa mengatasi masalah bernama pertahanan. Dalam dua pertandingan terakhir, Mourinho secara tak langsung sudah mempraktikkan filosofi Ferguson yang berbunyi 'pertahanan terbaik adalah menyerang'.
Kebangkitan United itulah yang harus diwaspadai betul oleh Juventus. Apalagi, sebenarnya penampilan mereka belum betul-betul meyakinkan. Pertandingan melawan Genoa adalah buktinya. Dalam laga tersebut, Juventus masih kurang kreatif kala menyerang dan belum benar-benar kokoh dalam bertahan.
Masalah kreativitas Juventus itu biasanya muncul ketika tim lawan bermain defensif di kedalaman. Sementara, masalah pertahanan itu hadir setiap kali Leonardo Bonucci turun gelanggang. Bayangkan saja, dari enam gol yang diderita Juventus musim ini, lima di antaranya merupakan akibat dari kealpaan Bonucci dalam menunaikan tugasnya.
Menariknya, dua kelemahan Juventus itu adalah dua hal yang bisa dengan mudah dieksploitasi oleh Manchester United. Soal bertahan di kedalaman, Mourinho adalah ahlinya. Delapan tahun silam dia membawa Internazionale juara Liga Champions dengan cara demikian. Lalu, soal eksploitasi Bonucci yang lemah di bola-bola atas itu, United punya Romelu Lukaku yang jago duel udara.
Meski demikian, jika United bermain seperti itu, risikonya tetap saja cukup besar, terutama dalam hal bertahan. Sebab, bek-bek yang dimiliki Mourinho saat ini bukanlah Lucio dan Walter Samuel, melainkan Chris Smalling dan Victor Lindeloef. Sedalam-dalamnya mereka bertahan, dua bek United itu rentan berbuat salah dan Juventus punya pemain-pemain depan yang bisa menghukum mereka.
Cristiano Ronaldo jelas layak dikedepankan untuk jadi penyiksa pertahanan United. Pemain 33 tahun ini begitu aktif dalam melancarkan tembakan di Serie A dengan catatan 8 tembakan per pertandingan. Tembakan yang dilepaskan Ronaldo pun begitu bervariasi, mulai dari tendangan dari luar kotak sampai sundulan dan sontekan di mulut gawang.

Ronaldo pastinya tak sendiri. Juventus masih punya pemain-pemain seperti Paulo Dybala, Douglas Costa, hingga Federico Bernardeschi yang bisa menjadi penyuplai bola serta pencetak gol. Sayangnya, pada pertandingan nanti Bianconeri tidak akan diperkuat Mario Mandzukic yang mengalami cedera engkel.
Cedera yang dialami Mandzukic itu menambah masalah bagi Juventus. Sebab, sebelum kehilangan sosok asal Kroasia tersebut, Juventus sudah terlebih dahulu kehilangan dua gelandangnya, Emre Can dan Sami Khedira. Dengan demikian, saat ini Massimiliano Allegri hanya memiliki tiga gelandang di skuatnya, yakni Miralem Pjanic, Rodrigo Bentancur, serta Blaise Matuidi.
Menilik dari apa yang selama ini diperbuat Allegri, ketiga gelandang itu kemungkinan tetap akan tampil bersamaan. Sepanjang musim, Allegri sudah memainkan dua formasi berbeda, yakni 4-3-3 dan 3-5-2. Dua formasi itu sama-sama membutuhkan tiga gelandang untuk turun secara bersamaan. Namun, apabila sang pelatih merasa bahwa menurunkan tiga gelandang sekaligus adalah keputusan riskan, dia bisa kembali memainkan pakem 4-2-3-1.
Jika Allegri memilih 4-2-3-1, maka Pjanic dan Matuidi kemungkinan akan menjadi poros ganda. Di depannya, Dybala, Costa, dan Bernardeschi atau Juan Cuadrado akan menjadi penyokong bagi Ronaldo. Formasi ini sendiri, di atas kertas, bakal membuat Juventus tak melulu mengandalkan umpan silang untuk membongkar pertahanan lawan.
Dari kubu United, Scott McTominay dan Marouane Fellaini dipastikan tidak akan memperkuat lini tengah. Namun, mereka masih memiliki Paul Pogba, Fred, Ander Herrera, Nemanja Matic, dan Andreas Pereira untuk jadi pilihan. Merujuk pada keberhasilan di dua laga terakhir, Mourinho kemungkinan besar akan kembali memainkan formasi 4-3-3, di mana Pogba, Fred, serta Matic jadi penghuni lini tengah.

Bicara soal Pogba, pemain satu ini diharapkan bakal memberikan sesuatu yang spesial. Selain karena sejauh ini dia belum bisa menjawab kritikan dengan baik, laga melawan Juventus akan jadi ajang pembuktian pribadi bagi pemain asal Prancis itu.
Selama ini, Pogba milik United selalu dibanding-bandingkan dengan Pogba-nya Juventus. Bersama Juventus, mantan pemain akademi Le Havre itu mampu tampil trengginas sampai-sampai dirinya dihargai 100 juta euro. Namun, di United dirinya belum mampu menjustifikasi harga mahal tersebut. Rasanya, tak ada lawan yang lebih pas bagi Pogba untuk membuktikan kelasnya.
Hal nyaris serupa bisa terjadi pada Ronaldo. Memang benar bahwa ketika berkostum Real Madrid, dia sudah pernah membuat United menderita. Namun, Juventus adalah ajang pembuktian berbeda baginya. Ronaldo mendapat kartu merah di laga pertama Liga Champions sehingga dia tidak bisa berkontribusi banyak dan harus absen pada laga kedua.
Menghadapi United adalah kesempatan besar bagi CR7 untuk membuktikan bahwa dirinya memang masih pantas dihargai lebih dari 100 juta euro. Seperti kata Mourinho, Juventus tidak butuh Ronaldo untuk menjuarai Serie A, melainkan Liga Champions. Ini adalah tantangan besar pertama bagi Ronaldo di Juventus.
Akhir kata, baik United maupun Juventus sama-sama memiliki plus dan minusnya masing-masing. Minus milik Juventus memang untuk saat ini terbilang lebih sedikit. Akan tetapi, United juga punya senjata-senjata yang mematikan. Selain itu, Old Trafford seharusnya bakal bisa pula memberikan suntikan energi bagi Antonio Valencia dan kawan-kawan. Maka, dalam laga nanti United seharusnya bisa memberi perlawanan hebat pada Juventus.
