Pencarian populer
17 April 2018 20:18 WIB
0
0
Menakar Jalan Raul Gonzalez sebagai Pelatih
Selebrasi gol Raul Gonzalez. (Foto: JAVIER SORIANO / AFP)
Raul Gonzalez akan menjadi antitesis di antara mereka yang berdiri di pinggir lapangan, bila ia benar menjadi pelatih.
Dunia kepelatihan sepak bola punya satu hukum: Mereka yang tak lantang, yang tak menggebu-gebu, yang tak ambisius, dan yang tak gemar berteriak lantang, akan cepat tersingkir dari pinggir lapangan.
Alex Ferguson selalu punya tempat di dunia kepelatihan karena ialah yang kepalang gigih untuk menguasai setiap jengkal Manchester United. Waktu dan energinya tak akan pernah dihabiskan untuk bermanis-manis dengan media dan memikirkan remeh-temeh lainnya. Kekuatannya selalu digunakan untuk mengendalikan klub dan para pemain.
Jose Mourinho tak akan pernah menjadi yang salah selama jabatan manajer ada di tangannya. Kekalahan sekalipun tak akan pernah menurunkan egonya untuk jadi yang terbenar, lihatlah kembali cerita di ruang ganti Old Trafford.
Sementara Josep 'Pep' Guardiola, namanya menjadi besar karena ia tak mengizinkan pemain-pemainnya menjadi lebih besar daripada rincian taktik yang jadi anak kandung ambisi yang tak pernah padam.
Kepelatihan membutuhkan kekuatan ekstra karena pelatih bukan sekadar perkara meramu taktik, tapi juga persoalan menghadapi tekanan klub, suporter, ataupun media. Raul Gonzalez bersiap memasuki dunia yang seperti ini.
Raul bergelar Pangeran Madrid walau kisah sepak bolanya bermula dari Atletico Madrid. Di Real Madrid, ia mengikuti semua jenjang persepakbolaan. Mulai dari tim C hingga tim utama. 29 Oktober 1994 menjadi debutnya. Bila dihitung-hitung, itu pekan kesembilan sejak liga dimulai dan Real Zaragoza yang menjadi lawan.
Pelatih Madrid waktu itu, Jorge Valdano, kebingungan karena dua penyerang andalannya didera masalah. Bila Emilio Butragueno dihantui penurunan performa, maka Alfonso Perez sedang dilanda cedera. Valdano punya segala macam alasan untuk ragu. Belum pernah bertanding di pertandingan utama, umur Raul pun masih terlampau muda: 17 tahun 124 hari.
Raul tak banyak bicara menanggapi keraguan pelatihnya. “Kalau Anda ingin tim ini menang, silakan mainkan saya. Kalau tidak ingin menang, mainkan saja yang lain.” Beberapa saat setelah mengucapkan kalimat itu, Raul melanjutkan tidurnya dalam bus, seolah-olah laga itu bukan perkara penting.
Raul benar-benar masuk skuat dalam pertandingan itu. Bila debut pemain bintang masa depan karib dengan cerita mengesankan, tidak demikian dengan narasi Raul.

Raul vs Cocu, 2002. (Foto: CHRISTOPHE SIMON / AFP)

Tak sampai semenit memasuki lapangan, ia tiba-tiba ada dalam situasi satu lawan satu dengan kiper. Tendangan keras pun ia lesakkan ke arah gawang dan gagal berbuah gol. Pelatih kesal setengah mati.
Tak cuma sekali, debut Raul adalah cerita tentang kesalahan yang berulang. Kekeliruan demi kekeliruan. Madrid kalah 2-3 dalam laga tersebut. Valdano punya alasan untuk meragukan Raul, tapi kekalahan dalam satu pertandingan tak cukup hebat untuk menghentikan Raul.
“Dia bermain buruk. Dia menggiring bola dengan buruk, mengumpan dengan buruk, dan menembak dengan buruk. Segala hal tentang Raul begitu buruk di laga itu,” seperti itulah cara Valdano menggambarkan Raul di pertandingan pertamanya.
Di dunia kepelatihan nanti, Raul juga akan kembali berteman dengan keraguan-raguan. Direktur-direktur olahraga akan meragukan kemampuannya. Raul boleh hebat sebagai pemain, tapi menjadi pelatih adalah perkara berbeda. Pengalamannya yang nihil, selain melatih anak-anak sekolah tentunya, menjadi alasan terbesar yang membuat klub punya alasan untuk mempertanyakan kapabilitas Raul sebagai pelatih.
Tidak ada yang tahu seperti apa kalimat yang bakal digunakan Raul untuk menanggapi keraguan klub-klub tadi. Namun, bila ia menjawab tantangan debut itu dengan menantang balik sang pelatih, rasa-rasanya Raul juga akan menjawab tantangan di debut kepelatihannya dengan cara yang serupa.
Raul pernah jadi medioker saat ia masih berstatus sebagai anak bawang di Madrid. Kesan pertama yang muncul di pikiran tim kepelatihan Madrid saat itu, ia penyerang muda berpostur bungkuk dengan kecepatan yang payah.
Namun, Valdano sendiri yang melihat seperti apa Raul berlatih. Di mata Valdano, Raul bukan pemain dengan bakat yang hebat-hebat amat. Malahan, Raul cenderung tempramen ketimbang berbakat.


Dia bermain buruk. Dia menggiring bola dengan buruk, mengumpan dengan buruk, dan menembak dengan buruk. Segala hal tentang Raul begitu buruk di laga itu.

- Jorge Valdano, tentang debut Raul.

Sifatnya yang tempramental itu pula yang membikin Raul cukup sering kedapatan terlihat marah dengan diri sendiri. Lantas, ia melampiaskan kemarahan itu dengan menambah jam latihan, menjadi orang terakhir yang meninggalkan tempat latihan, menjadi orang pertama yang memasuki arena latihan.
Entah seperti apa klub yang bakal ditangani Raul nanti. Mungkin klub besar Eropa, mungkin juga klub yang namanya saja tak pernah terdengar. Apa pun klubnya nanti, selalu ada pemain yang buruk. Mungkin ia anak baru, mungkin pula ia pemain tua yang sudah tak seprima dulu. Atau, bisa saja pemain yang tak istimewa, yang kemampuannya hanya di kisaran rata-rata.
Seorang pemain akan kehilangan kenyamanannya bila ia tak pernah mendapat kepercayaan bermain. Sepak bola adalah perkara yang melibatkan manusia, makanya ia tak pernah terhindar dari kekeliruan. Celakanya, sepak bola adalah arena ambisi. Kekeliruan sekali atau dua kali bisa dinilai membahayakan langkah tim. Akibatnya, jam bermain pemain ini dipangkas hingga pendek.
Apa yang akan dilakukan Raul pada pemain macam ini jelas masih menjadi tanda tanya. Mungkin mereka berdua akan mengambil waktu berbicara, merinci-rinci apa yang sebenarnya jadi permasalahan si pemain. Mungkin, bisa juga sesekali sambil mendengar cerita-cerita dungu Raul di awal-awal kariernya sebagai pesepak bola. Yang jelas, dalam pembicaraan itu tak akan ada emosi yang meledak-ledak, persis perjalanan karier Raul yang jauh dari pemberitaan tentang tingkah tak terkendali yang jamak terjadi pada pesepak bola.

Real Madrid, Bernabeu 2003. (Foto: PIERRE-PHILIPPE MARCOU / AFP)

Setelah pembicaraan itu selesai, maka Raul sendirilah yang akan menyusun jam-jam latihan ekstra buat si pemain. Serupa Raul yang dulu tak segan untuk menambah jam latihannya sendiri, agaknya ia pun tak akan keberatan untuk memimpin sesi latihan dengan jam yang lebih panjang yang hanya dihadiri oleh si pemain payah tadi.
Entah berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh Raul untuk membentuk pemain tadi, tapi pemain payah tadi tentunya bisa bertanya kepada Julian Draxler. Saat masih berkostum Schalke 04, Draxler menyebut Raul sebagai mentor terbaiknya.
Schalke adalah klub pertama di catatan karier Draxler sebagai pesepak bola senior. Sebagai pemain baru, ia merasa beruntung bisa menjadi rekan setim Raul. Kebersamaan Raul dan Draxler memang tak lama. Pindah ke Schalke tahun 2010, Raul hengkang ke klub asal Qatar, Al Sadd SC, pada tahun 2012. Sementara Draxler, ia menetap di Schalke sejak 2011 hingga 2015.
"Raul itu pemain yang berpengalaman dan berpengetahuan. Usianya waktu itu memang sudah 38 tahun, tapi ia tetap membuktikan sebagai salah satu yang terbaik. Saran terbaik yang pernah ia berikan kepada saya adalah ketika berhadapan satu lawan satu dengan kiper."
"Ia bilang kepada saya, yang terpenting dalam situasi seperti ini adalah momentum untuk menendang bola melewati kiper. Kita semua tahu, Raul adalah pemain yang hebat menyoal mencetak gol dengan tendangan chip."
Draxler mengaku, Raul punya pengaruh besar dalam hidupnya. Bagi Draxler, Raul adalah pesepak bola terhebat yang pernah bermain dalam tim yang sama dengannya. Lantas, cerita serupa bukannya tak mungkin kembali terulang pada siapa pun yang menjadi anak didik Raul nantinya.
Dunia kepelatihan adalah arena yang sengit. Di tengah-tengah era persepakbolaan yang begitu memuja kemenangan, gonta-ganti pelatih menjadi perkara biasa. Raul pun sebenarnya pernah menyayangkan hal serupa saat dimintai pendapat tentang Madrid yang sekarang. Baginya, 11 pelatih dalam kurun 13 tahun itu sudah kelewatan.
Raul pun akan mendapat ancaman serupa di karier kepelatihannya nanti. Klub bisa saja merasa tak sabar karena tak kunjung meraih target dan hasil memuaskan. Bila pemecatan itu benar-benar menimpa Raul, maka rasanya ia akan menanggapinya dengan biasa-biasa saja. Persis dengan apa yang dilakukannya ketika terusir dari Real Madrid beberapa saat setelah kedatangan Cristiano Ronaldo.
Yang perlu ia lakukan hanyalah menerima, memastikan persoalan administrasi sudah selesai, mengemasi barang-barang pribadinya di ruang ganti, berpamitan sebentar, dan pulang ke rumah. Tak ada yang perlu dibesar-besarkan, karena bagaimanapun, Raul tahu bahwa ia selalu punya tempat untuk bersepak bola.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2018 © PT Dynamo Media Network
Version: web: