kumparan
19 Nov 2018 8:16 WIB

Menanti Kepulangan Sepak Bola ke Tanah Inggris

Jesse Lingard merayakan gol ke gawang Kroasia. (Foto: REUTERS/Darren Staples)
Bagi orang-orang Inggris, Piala Dunia 2018 sempat menghidupkan kembali satu kisah bahwa negeri mereka adalah rumah bagi sepak bola. Sialnya, kisah itu tetap menjadi folklor karena segala hal yang terjadi di Rusia membuktikan bahwa sepak bola tidak membutuhkan Inggris sebagai rumah. Bahwa sepak bola ada di mana-mana, termasuk Kroasia.
ADVERTISEMENT
Tim besutan Zlatko Dalic itu memang tidak menutup pesta sepak bola sejagat itu dengan gelar juara. Tapi, mereka berhasil menjejak ke final. Bagi negeri seperti Kroasia, di tengah segala kecamuk yang menghantam ranah sepak bola mereka, status sebagai finalis Piala Dunia adalah pencapaian luar biasa. Raihan yang membuktikan bahwa sepak bola adalah perantau sejati, yang tak sungkan untuk tinggal di ranah sepak bola Kroasia yang carut-marut.
Semangat itu pulalah yang dibawa Kroasia ke UEFA Nations League 2018. Ini memang bukan turnamen semasyhur Piala Dunia. Namun, kompetisi tetaplah kompetisi. Tak ada satu kompetisi pun yang terlalu remeh sehingga pantas buat tidak dimenangi dan tak diseriusi. Apalagi, UEFA Nations League menjadi ajang pembuktikan bahwa segala pencapaian Kroasia di Rusia bukan kebetulan semata. Turnamen yang bisa menjadi tiang pancang dominasi sepak bola Kroasia.
ADVERTISEMENT
Sayangnya, harapan tinggal cerita, semangat berganti rupa menjadi penyesalan. Alih-alih mencapai semifinal, Kroasia justru terdegrasasi ke Liga B akibat kekalahan 1-2 dari Timnas Inggris pada Minggu (18/11/2018).
Tadinya, laga yang digelar di Stadion Wembley itu terlihat berpihak pada Kroasia. Bukan pernyataan berlebihan karena Kroasia unggul lebih dulu berkat gol Andrej Kramaric. Namun, itu semua hanya sampai di menit 78, tepat sebelum Jesse Lingard berhasil mencetak gol penyama kedudukan untuk The Three Lions. Klimaksnya, Harry Kane berhasil membalikkan kedudukan pada menit 85 lewat skema bola mati.
Kemenangan ini adalah torehan positif yang pantas menjadi kawan Inggris. Pasalnya, tim asuhan Gareth Southgate itu memang dominan. Dari segi penguasaan bola, mereka unggul 62%. Menilik aspek agresivitas, Inggris unggul dengan 17 upaya tembakan yang delapan di antaranya mengarah ke gawang. Bandingkan dengan tiga tembakan tepat sasaran dari 12 upaya yang dibukukan oleh Kroasia. Itu belum ditambah dengan kemenangan duel udara Inggris yang mencapai angka 21, berbanding dengan 12 kemenangan duel udara Kroasia.
ADVERTISEMENT
Kekecewaan pemain Kroasia setelah dikalahkan 1-2 oleh Inggris. (Foto: REUTERS/David Klein)
Sambil tetap mengenang pencapaian lawannya di Piala Dunia, jalannya laga yang demikianlah yang membuat Dalic sepakat bahwa 'sepak bola' memang tengah menghampiri Inggris. Sepak bola di sini bukan sekadar permainan 11 lawan 11, tapi potensi Inggris meraih prestasi.
"Timnas Inggris diisi oleh pemain-pemain muda yang cepat. Sebentar lagi, sepak bola akan benar-benar pulang ke Inggris. Saya pikir, mereka sudah menunjukkan potensi itu sejak Piala Dunia. Penampilan mereka sudah melebihi ekspektasi. Mereka memiliki skuat muda dan cepat yang sangat penting bagi sepak bola modern," jelas Dalic, dilansir Skysport.
"Saya ingin memberikan ucapan selamat ke Inggris karena mereka memang pantas menang dan melangkah ke babak semifinal UEFA Nations League," ucap Dalic.
ADVERTISEMENT
Usai Piala Dunia 2018, penampilan Kroasia memang merosot. Dalam enam pertandingan, baik persahabatan maupun kompetisi resmi, Kroasia hanya menang dua kali. Sementara, empat laga lain berakhir dengan dua kekalahan dan dua hasil seri. Namun, asa Kroasia untuk menutup laga melawan Inggris itu dengan kemenangan memang sempat membumbung. Pasalnya, di pertandingan sebelumnya, Kroasia baru saja menang 3-2 atas Spanyol. Terlebih, Kroasia pula yang menendang Inggris di babak semifinal Piala Dunia.
Ya, begitulah, sepak bola memang tak selalu berkisah tentang harapan yang menjadi kenyataan. Ia, sepak bola, tidak selamanya berteman karib dengan masa lalu. Kalau Kroasia tidak percaya, mungkin mereka bisa bertanya pada Southgate dan anak-anak asuhnya itu. Karena toh, kalimat-kalimat itu juga yang sedapat-dapatnya dipahami dan dihidupi oleh Inggris.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan