Pencarian populer

Mengapa Liverpool Gagal Menang walau Bermain Lebih Rapi dari Arsenal?

Para pemain Arsenal dan Liverpool berduel. (Foto: Reuters/Matthew Childs)

Liverpool harus menerima kenyataan. Menghadapi Arsenal, sebenarnya kemenangan hampir mereka dapat. Sayangnya, kemenangan itu sirna delapan menit jelang waktu normal pertandingan tuntas.

Pada pekan ke-11 Premier League 2018/19, Liverpool bertandang ke Stadion Emirates untuk menghadapi sang empunya stadion, Arsenal, pada Minggu (4/11/2018) dini hari WIB. Bermain di kandang lawan, Liverpool sebetulnya mampu tampil lebih efektif daripada tuan rumah.

Hal ini terlihat dari catatan statistik dalam pertandingan tersebut. Meski kalah dalam penguasaan bola (38% berbanding 62% milik Arsenal). Namun, dari segi peluang yang diciptakan, Liverpool mampu unggul atas Arsenal dengan torehan 13 tembakan berbanding 12 tembakan. Jarang menguasai bola, Liverpool malah menjadi tim yang sukses mencetak gol pertama.

Pada menit 61, memanfaatkan situasi kemelut di depan gawang, James Milner berhasil menceploskan bola ke gawang Bernd Leno untuk membawa Liverpool unggul. Keunggulan yang pada akhirnya sirna setelah Alexandre Lacazette sukses menyamakan kedudukan lewat sepakan ciamiknya.

Sempat unggul, lalu apa yang membuat kemenangan Liverpool dalam laga ini pada akhirnya harus melayang?

Liverpool, di bawah asuhan Juergen Klopp, adalah tim yang kerap tampil menekan. Hal ini benar-benar mereka terapkan dalam laga melawan Arsenal. Gegenpressing yang menjadi ciri khas dari tim Klopp ditampilkan para pemain Liverpool.

Saat para pemain Arsenal menguasai bola, bahkan sejak di wilayah pertahanan sendiri, Liverpool langsung melancarkan tekanan agresif. Jika bola masih berada di wilayah pertahanan Arsenal, tekanan diberikan dengan cara menempatkan tiga pemain depan sejajar, dengan jarak antar pemain depan yang tidak terlalu jauh.

Tujuan dari tekanan ini adalah untuk menghancurkan proses build-up Arsenal sejak awal. Jika lolos dari situ, tekanan semakin menguat sedikit demi sedikit, dan akhirnya sistem tiga orang menekan satu orang akan diterapkan ketika para pemain Arsenal sukses sampai di wilayah pertahanan Liverpool.

Sistem tekanan seperti itu memang sukses bikin permainan Arsenal kacau. Namun, yang tak diduga Liverpool, Arsenal juga menerapkan hal yang sama. Hal inilah yang menjadi kejutan bagi mereka, terutama di babak pertama. Karena sistem pertahanan yang sama, babak pertama berakhir imbang, dihiasi oleh sulitnya kedua tim menciptakan alur serangan yang rapi.

Baru di babak kedua, tampak perubahan yang dilakukan Liverpool. Tekanan agresif masih mereka lancarkan. Bedanya, kali ini ditambah dengan kekompakan empat bek Liverpool di lini belakang. Kekompakan mereka ini terlihat saat menerapkan jebakan offside, yang acap membikin Lacazette, Pierre-Emerick Aubameyang, bahkan Mesut Oezil sekalipun mati kutu.

Hal ini berbeda dengan pertahanan Arsenal yang jarak antara pemain, terutama jarak antara empat beknya, begitu renggang. Perbedaan ini yang membuat Liverpool mampu mengungguli Arsenal di babak kedua.

Tapi, bukan berarti Liverpool tidak melakukan kesalahan. Menurunnya agresivitas tekanan, terutama setelah mereka unggul via gol Milner, membuat Arsenal bangkit. Permainan mereka yang jadi lebih dalam setelah unggul mengundang para pemain Arsenal untuk menekan, ditambah lagi para pemain Arsenal juga disusupi hasrat ingin mencetak gol penyama kedudukan.

Liverpool pun kelimpungan. Ingin menekan balik, mereka tak kuasa karena Arsenal sudah lebih agresif dalam menekan. Ingin menyerang balik, mereka sulit menciptakan pola serangan yang apik. Akhirnya, gol penyama kedudukan itu datang via sepakan Lacazette, menghilangkan keunggulan sekaligus kemenangan Liverpool.

Kabar baik bagi para pendukungnya, Liverpool masih pantas untuk bersenang diri. Hasil imbang melawan Arsenal ini mempertahankan rekor tidak kalah mereka di ajang liga. Sejauh ini, Liverpool sudah mencatatkan delapan kemenangan dan tiga hasil imbang dari 11 laga yang mereka jalani di Premier League. Total 27 poin sudah mereka dapat.

Namun, ancaman datang dari Chelsea maupun Manchester City yang baru akan bermain pada Minggu (4/11) malam WIB. Keduanya masih sangat mungkin menyusul Liverpool di peringkat pertama, mengingat selisih poin di antara mereka begitu tipis.

Selain itu, hasil imbang Liverpool ini juga menjadi pelajaran, bahwa ketika menerapkan pertahanan dalam, mereka harus sadar kalau tekanan dari lawan akan meningkat. Bagaimana cara mereka mewaspadainya, itu yang akan jadi pelajaran bagi mereka. Liverpool memang harus jadi dewasa. Yang menjadi persoalan, dewasa bukan cuma perkara bermain lebih efektif, tapi juga bermain lebih cerdas.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Minggu,19/05/2019
Imsak04:25
Subuh04:35
Magrib17:47
Isya18:59
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.20