Mengapresiasi 100 Gol Ajax Amsterdam

Ajax Amsterdam tak berhenti membuat sensasi. Setelah sukses menjungkalkan Real Madrid di panggung Liga Champions, de Godenzonen sukses menorehkan catatan impresif di ajang domestik.
Mereka menjadi tim pertama yang berhasil menembus 100 gol dari tujuh liga top Eropa. Sebagai perbandingan, Paris Saint-Germain ada di posisi kedua dengan 89 gol, disusul Manchester City lewat 83 gol dan Barcelona yang baru menyentuh angka 81.
Ajax mendulang raihan tersebut usai membungkam Willem II 4-1 di Eredivisie akhir pekan lalu. Kebetulan, PSV Eindhoven hanya bermain imbang 3-3 dengan Vitesse sehari setelahnya. Ajax pun merangsek ke puncak klasemen sementara.
Meski sama-sama mengoleksi 72 angka, Ajax unggul jauh soal selisih gol. PSV baru melesakkan 87 gol dari 29 pertandingan, atau 13 gol lebih sedikit ketimbang Ajax. Memang klub yang memiliki nama panjang Philips Sport Vereniging itu unggul dari rendahnya angka kebobolan. Akan tetapi, marginnya tak begitu signifikan. PSV yang baru 22 kali kemasukan cuma unggul tipis dari Ajax yang telah kebobolan 26 gol.
Keseimbangan jadi kunci kekuatan Ajax di bawah arahan Erik ten Hag. Dengan begitu, agresivitas lini serang dan full-back menjadi terjaga. Terlebih, mantan murid Pep Guardiola itu juga mengadopsi pakem false-nine selain juga mengandalkan penyerang tengah sebagai juru gedor utama. Maka tak heran bila terdapat empat pemain yang sudah mengemas dua digit gol, Dusan Tadic (20), Hakim Ziyech (15), Klaas-Jan Huntelaar (11), dan Kasper Dolberg (10).
Sejatinya, catatan 100 gol di Eredivisie adalah hal yang terbilang lumrah. Sejak pertama kali bergulir pada 1956/57, tercatat sudah 18 kali kontestan mereka menembus angka 100. Bisa ditebak, Ajax jadi produsen gol terbanyak sepanjang sejarah kala mengukir 122 gol pada musim 1966/67.
Eredivisie juga bukan ekosistem yang kompetitif. Meski memiliki klub yang pernah menjuarai kompetisi Eropa macam Ajax, PSV, dan Feyenoord Rotterdam, gap dengan kontestan lainnya cukup kentara. Itulah mengapa tak jarang pertandingan berakhir dengan skor mencolok alias besar.
Duel klub sekelas Fortuna Sittard dan Willem II September lalu berakhir 4-4. Sementara duel bertajuk De Klassieker yang mempertemukan Feyenoord dan Ajax berujung dengan kedudukan 6-2. Untuk margin kemenangan terbesar Eredivisie musim ini masih dipegang Ajax kala menghantam De Graafschap delapan gol tanpa balas Desember lalu.
Bila dirata-rata, setidaknya tercipta 3,43 gol di tiap pertandingan Eredivisie musim ini. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibanding Premier League yang cuma menyentuh 2,83. Baru kemudian Serie A dengan rata-rata 2,7 serta La Liga yang hanya mencapai 2,59.
Namun, bukan berarti pencapaian Ajax tak layak mendapat apresiasi. Memproduksi 100 gol bukanlah hal yang mudah.
Terakhir kali kontestan Eredivisie menembus 100 gol terjadi pada edisi 2012/13. PSV jadi tim yang dimaksud, setelah berhasil mengemas 102 gol dalam 34 pertandingan. Ironisnya, justru Ajax yang menjadi juara saat itu.
Bergeser ke ranah Liga Champions, di sana kredibilitas produktivitas Ajax juga tertuang. Matthijs de Ligt dan kawan-kawan menjadi tim terproduktif sejauh ini dengan 29 gol--termasuk gol yang mereka buat di babak play-off.
Kamis (10/4/2019) WIB dini hari jadi ajang pembuktian terbaru Ajax. Di Johan Cruyff Arena, mereka bakal menjamu Juventus dalam leg pertama perempat Liga Champions. Yah, musuh yang ideal untuk menguji prestasi 100 gol mereka.
