Pantaskah Gunansar Mandowen Gantikan Peran Egy Maulana Vikri?

Tak ada Egy Maulana Vikri di skuat Tim Nasional (Timnas) Indonesia U-19 dalam gelaran Piala AFF U-18 2018 yang dihelat pada 1-14 Juli mendatang. Sebabnya, Egy tengah mempersiapkan diri menatap musim baru Liga Polandia (Ekstraklasa) bersama Lechia Gdanks.
Tanpa Egy, Timnas U-19 kehilangan sosok protagonisnya. Ada banyak alasan mengapa keberadaan pemain kelahiran Medan itu begitu vital di skuat 'Garuda Nusantara'. Satu diantaranya adalah bagaimana Egy mengubah beban yang dipikulnya menjadi anugerah bagi yang lainnya.
Pemain berusia 17 tahun tersebut sangat lihai mengolah si kulit bundar. Kemampuannya menjaga bola agar lebih lama berada di kakinya tak bisa dipandang sebelah mata. Dengan skill itu, Egy bisa memberikan waktu kepada pemain lainnya untuk mencari ruang.
Bermain di pos gelandang serang membikin potensi Egy keluar. Alumnus Diklat Ragunan itu tak cuma andal sebagai seorang kreator serangan, tetapi juga ganas dalam mengakhiri serangan. Predikat pencetak gol terbanyak yang didapatnya dalam ajang Piala AFF U-18 2017 jadi bukti sahih.
Efek keberadaan Egy di Timnas U-19 tak hanya menyoal hal-hal taktis, melainkan juga hal-hal non teknis yang tak kasatmata. Egy tahu betul bagaimana cara mengangkat mental rekan-rekannya. Ia juga menjadi pangkal kepercayaan diri skuat asuhan Indra Sjafri itu dalam setiap pertandingan. Singkatnya, pengaruh Egy tak cuma terjadi di atas lapangan.
Persoalannya, Egy sudah dipastikan tak bakal bergabung dengan Timnas U-19 dalam ajang Piala AFF U-18. Dia akan konsentrasi penuh pada kariernya di Benua Biru. Untuk itu, Indra harus sesegera mungkin mencari penggantinya.
Lalu, siapakah pemain yang bisa menggantikan peran Egy atau setidaknya dapat menambal kekosongan yang ditinggalkan oleh Egy? Jawabannya ada pada sosok pemain Persipura Jayapura, Gunansar Mandowen.
Dibandingkan dengan pemain tengah yang dibawa oleh Indra untuk mengikuti pemusatan latihan di Yogyakarta, Gunansar memang paling komplet. Kemampuan melepas umpan terobosan tak bisa dikatakan buruk. Dribel bolanya tak jauh berbeda dengan Egy. Pun demikian dengan keahliannya memberikan tekanan pada pemain belakang lawan.

Secara karakteristik permainan, Gunansar sangat cocok menggantikan Egy yang berperan free role plus kelicinannya ketika masuk ketika berada di sepertiga pertahanan lawan. Jika ingin bukti, mari tengok gol yang dicetak Gunansar ke gawang PS Tira.
Dengan kecepatannya, Gunansar dapat merangsek ke dalam kotak penalti lawan. Satu satu sentuhannya dapat mengelabui pemain belakang PS Tira yang mencoba mengadang. Pemain berusia 17 tahun itu terus berlari. Saat sudah satu lawan satu dengan kiper, Gunansar dengan tenang mencukil bola.
Tuah dari gol itu, Gunansar tercatat dalam sejarah sepak bola Indonesia sebagai pemain termuda yang mencetak gol di ajang Liga 1. Ia sukses mencetak gol di usianya yang baru memasuki 17 tahun 7 bulan dan 20 hari.
Tak heran bila Gunansar mendapatkan menit bermain yang baik bersama Persipura. Disitat transfermrkt, Gunansar telah bermain selama 640 menit. Sebuah catatan yang menggambarkan bahwa Gunansar merupakan pemain muda yang berpotensi.
Hal positif lainnya adalah pengalaman Gunansar berseragam Timnas Indonesia. Ya, pada 2015, Gunansar sempat memperkuat Timnas U-16 yang diasuh oleh Fakhir Husaini. Sayang, harapannya (dan juga penggawa Timnas U-16 lainnya) untuk berlaga di Piala AFF U-16 harus sirna menyusul sanksi yang diberikan FIFA kepada PSSI.
Pada dasarnya, secara teknik dan kualitas, Gunansar tak jauh berbeda dengan Egy. Oleh karena itu, opsi menggantikan peran Egy dengan Gunansar di atas lapangan bisa menjadi opsi yang layak dicoba.
Sepakat?
