kumparan
16 Mei 2018 9:02 WIB

Islandia, Negara dengan Populasi Terkecil yang Lolos ke Piala Dunia

Timnas Islandia melangkah ke Piala Dunia 2018. (Foto: Haraldur Gudjonsson / AFP)
Kemenangan 2-0 atas Kosovo, Selasa (10/10/2017) dini hari WIB, mengubah wajah Islandia. Mereka tak lagi pantas dianggap lemah. Mereka tak boleh lagi dipandang sebelah mata.
ADVERTISEMENT
Skor tersebut cukup memastikan Timnas Islandia mendapatkan satu tiket untuk berangkat ke Piala Dunia 2018. Keberhasilan itu membuat mereka menyandang status sebagai negara dengan populasi terkecil yang lolos ke Piala Dunia.
“Keberhasilan kami lolos ke Piala Dunia seakan menjadi bukti kepada dunia,” kata Gudni Bergsson, Presiden Federasi Sepak Bola Islandia (KSI), kepada Economist. “Bertahun-tahun kami hanya mampu menyaksikan turnamen tersebut di televisi. Sekarang, kami akan bermain di sana.”
Bergsson tak sedikit pun bermaksud untuk menyombongkan diri. Dilihat sebagai negara, mereka hanya punya 330 ribu penduduk. Secara kasar, jumlah pria di sana, bisa saja setengah angka tersebut. Lantas, dengan jumlah penduduk yang sedikit, sumber daya apa yang membuat sepak bola Islandia bisa begitu bersinar?
ADVERTISEMENT
Pertanyaan di atas membuat Bergsson mengingat masa lalu sepak bola Islandia.
Pada akhir 1990-an, KSI melakukan kunjungan kerja ke Norwegia. Selain mempelajari metode pengembangan sepak bola usia dini, maksud kedatangan mereka ke sana adalah mencari tahu bagaimana rumput artifisial punya pengaruh besar terhadap perkembangan sepak bola di Norwegia sebelah utara.
Nah, iklim daerah tersebut hampir sama dengan Islandia. Pulang dari sana, mereka membawa cetak biru lapangan sepak bola dengan rumput artifisial. Beberapa waktu kemudian, mereka mengembangkan konsep bermain sepak bola dalam ruangan dan lapangan mini yang dimaksudkan demi menarik perhatian anak-anak untuk bermain sepak bola.
Sejak 2000, KSI telah membangun sekitar tujuh lapangan sepak bola dalam ruangan, 20 lapangan dengan rumput artifisial, dan lebih dari 150 lapangan mini untuk anak usia sekolah hingga komunitas lokal. Dari sekian yang dibangun oleh KSI, terdapat satu pusat pelatihan yang terkenal hingga penjuru Eropa, Breidablik.
ADVERTISEMENT
Menyebut Breidablik sebagai salah satu yang terbaik di Eropa bukan hal yang salah. Dalam laporan Telegraph, mereka—dan sebagian besar pusat pelatihan sepak bola Islandia—punya beberapa fasilitas sepak bola dalam ruangan (in door -red) nomor satu. Di sana, anak-anak tidak hanya akan bermain sepak bola, tapi juga belajar matematika hingga ilmu-ilmu sosial.
Tak hanya dari segi fasilitas. Dari segi pelatih, Breidablik juga punya yang terbaik. Semua pelatih yang bersertifikat UEFA, punya metode pelatihan modern yang dijamin tak ketinggalan zaman. Seluruh pelatih di sini bahkan disebut punya bayaran tinggi, meski diterangkan pula bahwa kebanyakan dari mereka menjadikan juru taktik sebagai pekerjaan kedua.
Fasilitas dan pelatih nomor satu tak mungkin datang dengan sendirinya. Dibutuhkan uang yang cukup besar untuk membayar mereka. Nah, di sinilah letak kecerdasan Islandia. Sadar terhadap tingginya minat sepak bola, mereka mengajak pemerintah daerah untuk ikut berpartisipasi. KSI dan pemerintah daerah patungan untuk membiayai anggaran operasional yang tak kecil.
ADVERTISEMENT
Timnas Islandia melangkah ke Piala Dunia 2018. (Foto: Haraldur Gudjonsson / AFP)
Dari sistem yang dibangun oleh KSI dan pemerintah daerah inilah, muncul Breidablik-breidablik lainnya. Sistem ini melengkapi mental bermain pemain-pemain Islandia yang dikenal punya darah pantang menyerah.
Karena terletak jauh di barat laut Eropa, Islandia mau tidak mau menerima nasib untuk diisolasi. Faktor alam yang diisi oleh beberapa gunung berapi juga memaksa mereka sadar diri. Kondisi tersebut pada akhirnya memaksa mereka untuk menjadi bangsa yang mandiri dan punya daya juang tinggi.
“Fasilitas terbaik yang dibangun oleh pemerintah dan KSI mendukung mental orang-orang Islandia yang memang dididik untuk haus kemenangan. Kenyataan ini membuat mereka terus menerus menempa diri untuk menjadi yang terbaik. Tak peduli apakah itu di sepak bola atau lainnya,” kata Magnus Magnusson, salah satu agen pemain asal Islandia.
ADVERTISEMENT
“Banyak anak bisa dengan mudah berlatih sepak bola. Namun, untuk menjadi pemain sepak bola profesional, dibutuhkan konsistensi dan kemauan untuk bertahan di kondisi sulit. Jika di negara lain banyak bakat yang terbuang karena gagal, tidak demikian di Islandia. Di sini, mereka dididik untuk melawan itu semua dengan bekerja keras.”
Mental yang telah ditempa sedemikian rupa dan fasilitas papan atas yang sudah ada disempurnakan oleh Lars Lagerback, pria asal Swedia yang punya pengalaman melatih tim sepak bola asal Skandinavia. 2011 lalu, KSI menunjuknya sebagai nakhoda Tim Nasional yang baru, menggantikan Olafur Johannesson.
Pemilihan Lagerback menuai buahnya di kualifikasi Piala Dunia 2014. Saat itu, mereka mengubah anggapan banyak orang dengan kualifikasi Piala Dunia 2014 zona Eropa Grup E di posisi kedua. Dari sana, Islandia makin bersinar. Dua tahun kemudian, mereka lolos ke Piala Eropa pertamanya.
ADVERTISEMENT
Suporter Timnas Islandia rayakan kemenangan. (Foto: Haraldur Gudjonsson / AFP)
Pujian yang diberikan kepada Lagerback tak membuatnya besar kepala. Menurutnya, kesuksesan mereka didasari oleh besarnya kepercayaan KSI kepadanya. Tak peduli mereka punya mental dan fasilitas istimewa, Lagerback sama sekali tak dibebani dengan ekspektasi.
"Mereka (KSI) tak memberikan target ketika menunjuk saya sebagai pelatih kepala Tim Nasional. Hal tersebut membuat para pemain selalu bermain di tanpa beban. Pada akhirnya, kami bisa memaksimalkan semua kemampuan yang ada untuk mendapatkan hasil terbaik,” kata Lagerback.
Tongkat kepelatihan Lagerback diteruskan oleh Heimir Hallgrimsson. Pria yang juga berprofesi sebagai dokter gigi ini menyatakan bahwa tugasnya di tim nasional hanya satu: Memaksimalkan semua potensi anak asuhnya untuk meraih hasil yang diinginkan di atas lapangan.
Janji tersebut dipenuhi oleh Hallgrimsson pada Selasa (10/10/2017) dini hari WIB. Dengan mengalahkan Kosovo, mereka mencapai putaran final Piala Dunia pertamanya. Pesta pun tumpah di jalanan. Pun demikian dengan tribune Laugardalsvoellur, stadion berkapasitas 15.000 yang jadi tempat digelarnya laga tersebut, yang tak berhenti bergetar.
ADVERTISEMENT
Bagi negara yang memiliki sejarah sepak bola panjang, lolos ke Piala Dunia mungkin bukan hal yang patut untuk dirayakan. Namun, tidak demikian dengan Islandia. Lolos ke Piala Dunia 2018 tak sekadar membuktikan bahwa hasil tidak pernah mengkhianati usaha, tapi juga membuat mereka sudah selayaknya disejajarkan dengan negara tenar dalam sepak bola lainnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan