Kumparan Logo

Piala Dunia Wanita 2019: Sebuah Preambule

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Trofi Piala Dunia Wanita (Foto: AFP/Anne-Christine Poujoulat)
zoom-in-whitePerbesar
Trofi Piala Dunia Wanita (Foto: AFP/Anne-Christine Poujoulat)

Tahun depan Piala Dunia Wanita akan kembali digelar. Selama sebulan penuh, dari 7 Juni sampai 7 Juli 2019, 24 negara akan bertarung di Prancis untuk memperebutkan trofi juara dunia yang sampai saat ini masih menjadi milik Amerika Serikat.

Piala Dunia Wanita 2019 adalah gelaran kedelapan sepanjang sejarah. Sejak turnamen ini digelar pertama kali pada 1991 dengan tajuk Kejuaraan Dunia Wanita, Amerika Serikat memang masih menjadi ratu. Total, tim nasional milik 'Negeri Paman Sam' itu sudah menjadi juara sebanyak tiga kali.

Pada gelaran 2015 lalu Amerika Serikat sukses mengandaskan wakil Asia, Jepang, di partai final dengan skor telak 5-2. Pertandingan tersebut diwarnai oleh hat-trick Carli Lloyd. Lloyd pun menjadi pesepak bola pertama setelah Sir Geoffrey Hurst yang mencatatkan trigol di final Piala Dunia. Istimewanya, satu dari tiga gol Lloyd itu dicetak melalui tendangan dari tengah lapangan.

Pada gelaran tahun depan, Lloyd kemungkinan besar masih akan berlaga membela Timnas Amerika Serikat walau usianya nanti bakal sudah menginjak angka 37 tahun. Prediksi ini tak dibuat tanpa sebab. Sepanjang tahun ini, gelandang Sky Blue FC tersebut masih menjadi salah satu andalan pelatih Jill Ellis di lini tengah.

X post embed

Jika di edisi 2015 lalu Amerika Serikat tergabung dalam grup neraka bersama Australia, Swedia, dan Nigeria, tahun depan mereka akan berada di grup yang relatif lebih ringan. Memang, masih ada Swedia yang akan kembali harus dihadapi di fase grup. Akan tetapi, dua negara lain yang bakal diladeni Megan Rapinoe cs. 'hanyalah' Thailand dan Cile. Cile adalah debutan, sementara Thailand baru akan ikut serta untuk yang kedua kali tahun depan.

Amerika Serikat, Swedia, Thailand, dan Cile tergabung di Grup F. Pengundian sendiri sudah dilakukan pada Jumat (7/12/2018) pekan lalu. Dari pengundian tadi, satu pertandingan lain yang bakal menyita perhatian adalah derbi Britania antara Inggris dan Skotlandia di Grup D.

Pada Euro 2017 lalu, Inggris sukses menghajar saudarinya itu dengan skor 6-0. Akan tetapi, keberhasilan Skotlandia lolos ke Piala Dunia untuk pertama kali ini merupakan bukti bahwa mereka terus berbenah dan berbenah. Terlebih, pada gelaran tahun depan Skotlandia seharusnya sudah bisa diperkuat oleh Jenny Beattie dan Kim Little yang gagal tampil di Euro.

Inggris menghadapi Skotlandia memang bakal jadi laga menarik tetapi lawan terberat Inggris di Grup D bukanlah Skotlandia, melainkan Jepang. Sebagai finalis edisi 2015 dan juara dunia 2011, Timnas Wanita Jepang masih menjadi harapan terbesar Asia.

Namun, belakangan Jepang memang sedikit menurun. Pada 2018 ini, misalnya, mereka kesulitan mengalahkan tim-tim besar, termasuk di Tournament of Nations ketika mereka kalah dari Amerika Serikat, Brasil, dan Australia. Satu tim lain di grup ini adalah Argentina yang memendam masalah administratif dengan praktis tidak adanya dukungan dari AFA untuk timnas sepak bola wanitanya.

Timnas Wanita Inggris. (Foto: Reuters/Craig Brough)
zoom-in-whitePerbesar
Timnas Wanita Inggris. (Foto: Reuters/Craig Brough)

Di Grup A, tuan rumah Prancis yang sudah menyiapkan sembilan kota akan menghadapi lawan-lawan yang sulit ditebak. Di antara Korea Selatan, Norwegia, dan Nigeria tidak ada satu pun yang berperingkat sepuluh besar dunia, tetapi mereka punya kredensial bagus.

Nigeria, misalnya, merupakan juara Afrika tiga kali beruntun. Lalu, Norwegia yang merupakan raksasa tertidur sepak bola itu punya Ada Hergerberg. Walau begitu, Norwegia harus bisa meyakinkan agar Hergerberg yang sudah angkat kaki dari timnas sejak 2017 itu untuk mau kembali berlaga. Sementara, Korea Selatan adalah tim langganan Piala Dunia yang sanggup lolos ke 16 besar empat tahun silam.

Jerman yang ada di Grup B juga di atas kertas tidak akan mendapatkan perlawanan berarti dari China, Spanyol, dan Afrika Selatan. Namun, sama dengan Grup A, situasi di Grup B juga tak bisa ditebak. China adalah tim tradisional di sepak bola wanita, sementara Spanyol merupakan tim yang tengah menanjak. Afrika Selatan, sementara itu, memang berstatus debutan tetapi mereka adalah runner-up Piala Afrika edisi 2018.

Beralih ke Grup C, Italia yang untuk pertama kalinya lolos ke Piala Dunia sejak 1991 ketiban sial. Pasalnya, mereka kudu berhadapan dengan dua tim kuat, Ausralia dan Brasil. Australia punya Samantha Kerr, Brasil punya Marta. Dua pemain ini pada dasarnya adalah Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi-nya sepak bola wanita. Kesempatan terbesar Italia lolos ke 16 besar adalah dengan jadi peringkat tiga terbaik.

Aksi Sam Kerr di Piala Dunia Wanita 2015. (Foto: AFP/Jewel Samad)
zoom-in-whitePerbesar
Aksi Sam Kerr di Piala Dunia Wanita 2015. (Foto: AFP/Jewel Samad)

Terakhir, ada Grup E. Boleh dibilang grup ini adalah satu-satunya grup yang pantas mendapat julukan Grup Neraka. Di sini bercokollah Belanda, Kanada, serta Selandia Baru yang merupakan raksasa-raksasa sepak bola wanita. Belanda dan Kanada adalah dua unggulan terdepan dari sini, tetapi Selandia Baru dan Kamerun tentu tidak akan diam saja melihat dua negara tadi melenggang.

***

Piala Dunia 2019 sendiri merupakan Piala Dunia ketiga yang digelar di Prancis. Sebelumnya, negara yang sedang dilanda krisis politik itu sudah pernah jadi tuan rumah Piala Dunia 1938 dan Piala Dunia 1998. Keduanya merupakan turnamen pria. Namun, ada korelasi antara Piala Dunia 1998 dan Piala Dunia 2019 nanti.

Korelasi itu diwujudkan dalam bentuk maskot. Dikisahkan, maskot Piala Dunia 2019 nanti, Ettie, merupakan anak perempuan dari maskot Piala Dunia 1998, Footix. Jika Footix adalah ayam jantan berwarna biru-merah, maka Ettie adalah anak ayam betina berwarna kuning.

Turnamen ini sendiri sempat menuai kontroversi karena FIFA rupanya mengizinkan final Copa America dan Piala Emas untuk diselenggarakan berbarengan dengan final Piala Dunia. Ironisnya, ini diumumkan setelah FIFA merilis sebuah inisiatif untuk memajukan sepak bola wanita. Maka, kritik pun beterbangan ke alamat FIFA atas keputusan tersebut.

Namun, terlepas dari inkompetensi dan ketidakpedulian FIFA, Piala Dunia 2019 tetap Piala Dunia. Di sanalah tim-tim sepak bola terbaik berjumpa. Maka, apa yang dilakukan FIFA tadi tak semestinya mengurangi antusiasme kita untuk menyambutnya.

X post embed