Pratinjau El Clasico: Duel Raksasa Penuh Dilema

Barcelona dalam posisi merugi dalam El Clasico kali ini. Mereka ditahan imbang Real Madrid 1-1 pada leg pertama semifinal Copa del Rey di Camp Nou tiga pekan silam.
Artinya, Blaugrana kudu mencetak gol ke gawang Madrid pada pertemuan selanjutnya yang dihelat di Santiago Bernabeu, Kamis (28/2/2019) dini hari WIB. Lebih dari itu, mereka kudu menang di sana, atau setidaknya bermain imbang dengan skor minimal 2-2.
Kabar baiknya, Bernabeu terbilang ramah untuk Barcelona, setidaknya dalam lima lawatan terakhirnya. Cuma sekali Bercelona kalah di sana, yakni kala dilumat dua gol tanpa balas pada leg kedua Piala Super Spanyol 2017. Sisanya, berhasil mereka lalui dengan kemenangan. Hebatnya lagi, Gerard Pique dan kawan-kawan berhasil mencetak 13 gol dalam rentang waktu tersebut atau 2,6 gol bila dirata-rata per laga.
Kebetulan, rekam jejak itu beriringan dengan rapuhnya benteng pertahanan Madrid baru-baru ini. Gawang mereka tak pernah 'bersih' dalam lima liga teraktual--salah satunya berujung kekalahan dari Girona pada pekan ke-24 La Liga.
Santiago Solari masih kesulitan untuk menyeimbangkan timnya yang cenderung agresif. Celakanya, lini depan mereka juga tak tajam-tajam amat. Itulah mengapa Madrid kerap kesulitan saat berhadapan dengan tim-tim yang tampil relatif defensif.
Saat bersua Levante akhir pekan lalu, misalnya, hanya mampu mengonversi 5 tembakan tepat sasaran dari total 19 peluang. Ironisnya lagi, sepasang gol kemenangan El Real lahir dari titik putih.
Laga melawan Girona pada pekan ke-24 juga bisa dijadikan acuan problematika lini serang Madrid. Dari total 19 upaya, hanya 7 di antaranya yang mengarah ke sasaran. Oke, torehan tersebut memang tak buruk-buruk amat. Namun, menjadi masalah karena gawang Thibaut Courtois kebobolan dua kali saat itu.
Perbedaan paling kentara adalah peran ketiga gelandang, Casemiro, Toni Kroos, dan Luka Modric yang bermain lebih ofensif.
Bukannya tanpa alasan, Madrid memang tengah kekurangan daya ledak di lini depan--konsekuensi dari diparkirnya Gareth Bale. Alhasil, mereka bertumpu kepada Lucas Vazquez dan Vinicus Junior untuk mengakomodir Karim Benzema dari sisi sayap.
Di sisi lain, langkah Solari untuk memasukkan Bale pada pertengahan pertandingan justru berbuah hasil. Dua kali ia mencetak gol saat masuk sebagai pemain pengganti, yakni kala menjebol gawang Atletico Madrid dan Levante.
Eits, tak hanya Madrid yang bermasalah di sini. Barcelona juga punya problem: Angin-anginan. Candu akan Lionel Messi yang kian tak tertahankan jadi dasarnya.
Setiap La Pulga gagal mencetak gol, di sana kemenangan Barcelona sirna. Bila tak percaya tengok saja tiga hasil imbang termutakhir mereka yang diwarnai kegagalan Messi mencatatkan namanya di papan skor.
Ketergantungan kepada Messi tersebut tak bisa dipisahkan dari melepemnya Luis Suarez sebagai 'orang kedua' Barcelona. Hanya sebiji gol yang dibuat mantan penggawa Groningen itu dalam enam pertandingan.
Sialnya lagi, tak ada lagi pemain yang benar-benar kredibel untuk menjadi pembeda. Philippe Coutinho tak lebih dari sekadar tukang pencipta peluang, berbeda jauh dengan peran yang diembannya saat masih berseragam Liverpool. Itulah mengapa Coutinho baru mengemas 4 gol di La Liga sejauh ini.
Setali tiga uang dengan Ousmane Dembele, meski untuk urusan mencetak gol dan penciptaan peluang ia masih menjadi yang terbaik setelah Messi-Suarez. Winger berusia 21 tahun itu sukses mengemas 8 gol dan 4 assist di ajang Liga. Menurut WhoScored, ia juga menjadi penyumbang umpan kunci tertinggi kedua setelah Messi dengan rata-rata 1,7 per laga.
Setelah bermain imbang dengan Madrid di leg pertama, lini depan Barcelona seakan tak bergigi. Mereka gagal mencetak gol di dua pertandingan setelahnya, yakni versus Athletic Bilbao di La Liga dan Olympique Lyon pada pentas Liga Champions.
Saat menjamu Real Valladolid pun, tim arahan Ernesto Valverde itu hanya mampu memproduksi satu gol. Hingga akhirnya keran gol Barcelona mulai mengucur saat sukses memukul Sevilla 4-2 pekan lalu. Yah, modal yang lumayan untuk menyambangi markas Madrid dini hari nanti.
Dengan kondisi skuat yang sama-sama sehat walafiat, Madrid dan Barcelona bakal turun dengan skuat terbaiknya. Marcelo kemungkinan besar bakal digantikan dengan Sergio Reguilon, mengingat Madrid keseimbangan jadi fokus utama mereka saat ini. Dibanding pemain asal Brasil itu, Reguilon lebih fasih untuk bermain defensif.
Lagipula, gol semata wayang Barcelona ke gawang Madrid pada leg pertama lalu juga berasal dari sektor yang dihuni Marcelo. Ya, gol yang dicetak Malcom saat itu berawal keterlambatan Marcelo dalam transisi dari menyerang ke bertahan.
Sementara Casemiro yang sebelumnya tampil sebagai pemain pengganti, kali ini bakal didaftarkan sebagai starter bersama Modric dan Kroos. Alasannya, Madrid membutuhkan gelandang petarung untuk memenangi duel di area tengah.
Oh, ya, Solari akan kembali menggunakan Bale sebagai super-sub nanti, menggantikan salah salah satu di antara Vinicius dan Vazquez yang diplot sebagai tandem Benzema di garda terdepan.
Untuk kubu Barcelona, Dembele lebih layak dipasrahi posisi winger kiri ketimbang Coutinho. Selain andal dalam mengkreasi peluang, Dembele juga terbukti lebih tajam ketimbang rekan setimnya itu.
Ngomong-ngomong soal ketajaman, Valverde bisa memfungsikan lini kedua sebagai pendongkrak Messi-Suarez. Adalah Arturo Vidal kandidat terkuat untuk melancarkan produktivitas lini depan. Menariknya, 4 assist yang sudah dibuat pemain berambut mohawk itu di La Liga seluruhnya diarahkan kepada Messi.
PR Barcelona saat ini adalah demi produktivitas Messi. Jadi, simpelnya Valverde hanya harus memasang pemain yang benar-benar mampu mengakamodir perannya. Dalam hal ini, Dembele dan Vidal bisa dijadikan tumpuannya.
