Pratinjau Final Liga Champions: Pembuktian para Pesakitan

Tottenham Hotspur dan Liverpool bakal bertarung di partai puncak Liga Champions 2018/19. Ini sedikit lucu, sebab keduanya sama-sama merupakan tim pesakitan dalam beberapa musim ke belakang.
Spurs urung menggamit gelar lagi sejak meraih titel Piala Liga Inggris 2007/08. Liverpool lebih ironis lagi karena kondisinya serba nyaris. Empat kali The Reds menjadi runner-up dalam empat ajang berbeda dalam tiga musim ke belakang--Piala Liga, Liga Europa, Liga Champions, dan Premier League.
Minggu (2/6/2019) dini hari WIB akan terjawab siapa yang terbaik dan siapa yang lebih pesakitan di antara Spurs dan Liverpool. kumparanBOLA memberikan kisi-kisi tentang duel yang bakal dihelat di Wanda Metropolitano itu. Monggo...
Tottenham Hotspur
Sedikit kabar baik buat Spurs, mereka bakal kembali diperkuat Harry Kane --ia telah pulih dari cedera pergelangan kaki. Meski, ya, kesembuhan pemain berusia 25 tahun itu tak bisa dibilang sebagai sinyal positif. Sebaliknya, kehadiran Kane justru bisa memunculkan situasi dilematis.
Kane memang masih menjadi penyumbang gol terbanyak Spurs pada musim ini dengan 24 gol di lintas ajang. Di satu sisi, ia baru saja fit sejak 9 April lalu dan laga final ini menjadi pertandingan pertamanya setelah 3 minggu absen.
Kembali memasangkan Son Heung-Min dengan Lucas Moura di lini depan bisa jadi opsi utama bagi Mauricio Pochettino. Fluiditas serangan jadi nilai plusnya. Dengan begitu serangan Spurs menjadi lebih masif ketimbang sebelumnya.
Sistem demikian bukan cuma memunculkan Son dan Moura di garda terdepan, tetapi juga Christian Eriksen serta Dele Alli. Nama yang disebut belakangan tampil ciamik karena sukses menjadi reflektor. Dua dari tiga gol Moura lahir lewat bantuan Alli. Ngomong-ngomong soal Moura, ia sukses mencetak sebiji gol pada pertemuan termutakhir melawan Liverpool.
Moura dan Son adalah perpaduan ideal untuk mewujudkan senjata bernama serangan balik. Ini penting, mengingat counter attack menjadi salah satu dari titik lemah Liverpool.
Gol Moura ke gawang Alisson Becker di ajang Premier League Maret lalu berasal dari serangan kilat. Bahkan, Moussa Sissoko hampir saja mencetak gol dengan skema yang sama andai tendangannya tak melambung di atas mistar gawang.
Opsi lainnya adalah melalui skema bola mati, sebagaimana yang pernah mereka lakukan dalam dua pertandingan sebelumnya--kala mereka keok 1-2 di Wembley.
Liverpool
Sementara itu, Liverpool dipastikan tak akan diperkuat Naby Keita. Cuma itu, sih. Para pemain sisanya telah siap untuk diturunkan Juergen Klopp. Mohamed Salah dan Sadio Mane sang topskorer Premier League musim ini berpotensi sebagai ancaman untuk Spurs.
Salah berhasil mengemas tiga gol dalam empat perjumpaan terakhir. Pun demikian dengan Mane yang pernah mengukir brace saat menjamu Spurs di Premier League edisi 2016/17.
Eits, jangan lupakan Roberto Firmino. Pemain yang cuma tampil 11 menit versus Barcelona di semifinal lalu itu bakal memainkan peran penting esok--sebagai pelebur kokohnya backfour Spurs.
Bukan rahasia lagi bila Jan Vertonghen dan Toby Alderweireld adalah tipikal bek yang kuat dalam mengatasi bola atas maupun bawah. Namun, bukan berarti duet bek sentral asal Belgia itu tanpa cela.
Agresivitas sepasang full-back Spurs, Kieran Trippier dan Danny Rose, rawan memaksa mereka untuk berada out of position. Gol-gol Ajax Amsterdam di babak semifinal lalu bisa menjadi bukti bahwa pertahanan Spurs masih bisa dibelah.
Lesakan Donny van de Beek pada leg pertama itu diawali dari kombinasi Lasse Schoene Hakim Ziyech dari area sayap. Pun demikian dengan lesakan Ajax di leg kedua.
Kali ini giliran Ziyech yang jadi algojonya. Pemain asal Maroko itu merangsek ke tengah dan menyambut umpan Dusan Tadic yang sebelumnya berhasil memancing Alderweireld ke sisi tepi.
Yang begini-begini ini bakal berbahaya buat Spurs. Adalah Firmino yang piawai untuk memanfaatkan peluang semacam itu. Nyatanya, pemain yang dibeli dari Hoffenheim itu selalu menjebol gawang Spurs dalam dua pertemuan terakhir.
Selain Firmino, Klopp bisa memfungsikan Georginio Wijnaldum dari lini kedua. Bila tak percaya, silakan tanya Barcelona betapa membahayakannya pemain asal Belanda ini. Dua gol yang dibuatnya pada leg kedua lalu sukses mengusir Blaugrana dari arena Liga Champions.
Terlebih, Liverpool bukan cuma punya Salah dan Mane saja untuk melancarkan penetrasi dari sayap. Masih ada Andrew Robertson dan Trent Alexander-Arnold sebagai pengakomodir serangan dari sektor full-back.
Kontribusi keduanya sebagai asisten bomber tak tanggung-tanggung. Bila ditotal, sudah 28 assist yang mereka buat di Premier League dan Liga Champions di musim ini.
Bila memainkan Kane bisa dianggap seperti dua sisi mata pedang, Pochettino bisa mengalokasikan harapannya kepada tuah Moura atau Son. Ya, para pahlawan Spurs di babak semifinal dan perempat final lalu.
Selain terbukti mencairkan lini depan Spurs, Moura dan Son adalah ornamen sempurna untuk melancarkan serangan balik yang jadi salah satu kelemahan Virgil van Dijk dan kawan-kawan.
Sementara itu, Liverpool lebih beruntung, punya lebih banyak alternatif pencetak gol. Bukan hanya Salah dan Mane, tetapi juga Firmino serta Wijnaldum. The Reds juga tak perlu risau akan tukang akomodir serangan di sisi tepi, yakni Robertson dan Alexander-Arnold.
=====
*Final Liga Champions antara Tottenham Hotspur dan Liverpool akan diselenggarakan pada Minggu (2/6/2019) dini hari pukul 02:00 WIB di Estadio Metropolitano, Madrid.
