kumparan
11 Sep 2018 0:05 WIB

Rumput Gersang dari Emery untuk Guardiola

Pep Guardiola memberikan instruksi kepada pemain Manchester City saat melawan Arsenal. (Foto: Dok. Premier League)
Dalam buku "The Art of War", Sun Tzu mengatakan bahwa setiap perang selalu berdasar kepada tipu daya. Kalimat tersebut benar-benar dicamkan oleh pelatih Arsenal, Unai Emery, ketika menghadapi musuh yang superior di atas kertas.
ADVERTISEMENT
Musuh yang dimaksud adalah Manchester City besutan Pep Guardiola. Tim beralias The Citizens memiliki materi mewah dan permainan jauh lebih matang dibandingkan Arsenal. Terlebih saat melawat ke Stadion Emirates, di mana City selalu menang dalam dua pertemuan terakhir era Arsene Wenger.
Emery tak ingin mengulangi kesalahan pendahulunya dengan menjadikan Emirates sebagai 'surga' untuk permainan kaki ke kaki ala City. Maka itu, menjelang pertemuan kedua tim di stadion tersebut pada pekan pertama Premier League, Agustus 2018 lalu, juru taktik berkebangsaan Spanyol tersebut coba merusak medan perang.
Tugas diberikan kepada pengelola Emirates. Mereka diminta untuk menyediakan lapangan gersang agar membuat distribusi bola City tersendat. Hal ini disadari oleh groundsman dari kubu City, Lee Jackson.
ADVERTISEMENT
"Setelah 20 tahun ditangani pelatih yang sama, Arsenal menunjukkan perubahan kebijakan. Kali ini, mereka tidak menyiramkan air ke lapangan sebelum pertandingan atau pada jedak babak. Sesuatu yang di luar kebiasaan Arsenal pada era Wenger. Untungnya, cara tersebut tidak berhasil," kata Jackson.
Penyerang Manchester City, Raheem Sterling, melindungi bola dari para pemain bertahan Arsenal. (Foto: Dok. Premier League)
Ya, City memang melanjutkan tren positif di Emirates. Gol Raheem Sterling dan Bernardo Silva membuat tim tamu pulang dengan kemenangan 2-0. Hasil ini tak lepas dari pengamatan Jackson terhadap kondisi rumput. Informasi diteruskan kepada Guardiola sehingga bisa menyiapkan antisipasi taktik.
Di atas rumput gersang, City masih bisa menguasai 58 persen permainan dan melepaskan 555 operan berbanding 401 milik Arsenal. Menyoal peluang, Kevin De Bruyne dan kolega juga unggul jauh dengan 8 percobaan tepat sasaran berbanding 3 yang ditorehkan lawan.
ADVERTISEMENT
Kendati begitu, Jackson tetap mengakui bahwa Guardiola sebetulnya lebih menyukai rumput yang terjaga kualitasnya demi menunjang permainan tim. Untuk aspek ini, sosok asal Spanyol tersebut memberikan instruksi kepada groundsman dengan sungguh detail.
"Saat memulai pekerjaan ini dengan Peter Reid sebagai player-manager, kebijakannya sangat berbeda. Adapun sekarang, Guardiola menginginkan siraman air lebih banyak atau ukuran rumput lebih pendek," ucap Jackson.
Guardiola tertunduk lesu. (Foto: Michael Regan/Getty Images)
Lebih dari itu, Jackson melihat kondisi lapangan di Premier League dewasa ini menguntungkan untuk permainan Guardiola. Mayoritas tim menanggalkan gaya kick and rush demi permainan dengan basis penguasaan bola. Operan pun dilancarkan dari kaki ke kaki sehingga membutuhkan rumput pendek. Tak pelak, bertambahlah lapangan yang menunjang taktik Guardiola di Inggris.
ADVERTISEMENT
"Saat Tony Pulis berada di Stoke, Anda memasuki stadion mereka tanpa bisa melihat kaki. Sebab, rumputnya memang sangat panjang," ujar Jackson.
"Adapun sekarang, kebanyakan pelatih menginginkan rumput lebih basah dan pendek sehingga bola bisa mengalir lebih cepat. Begitu pula Guardiola yang meminta siraman air lebih banyak dan rumput pendek. Pasti ada alasan di baliknya," pungkasnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan