Kumparan Logo

Seimbang dan Menyengat, Itulah Deportivo Alaves Sekarang

kumparanBOLAverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Para pemain Alaves merayakan kemenangan. (Foto: ANDER GILLENEA / AFP)
zoom-in-whitePerbesar
Para pemain Alaves merayakan kemenangan. (Foto: ANDER GILLENEA / AFP)

Periode naik-turun biasanya kerap dialami oleh klub mana pun di dunia, tak terkecuali Deportivo Alaves yang berasal dari Basque, Spanyol.

Didirikan sejak 1921 silam, Alaves bukan klub besar. Mereka berada di bawah bayang-bayang Athletic Club dan Real Sociedad, dua klub tetangga yang sama-sama berasal dari wilayah Basque. Saat Athletic dan Sociedad sudah pernah merasakan manisnya gelar juara La Liga, Alaves justru berkutat di Tercera dan Segunda.

Meski begitu, bukan berarti mereka tidak pernah menggebrak. Saat diperkuat pemain-pemain macam Jordi Cruyff, Cosmin Contra, Javi Moreno, dan Ivan Tomic pada musim 2000/01, Alaves mampu membawa panji Basque dan Spanyol terbang tinggi di Eropa. Partai final Piala UEFA sukses mereka gapai walau akhirnya harus kalah dari Liverpool.

Setelah kebangkitan manis itu, Alaves kembali terseok. Walau Vitoria-Gasteiz yang merupakan kota ketiga terbesar di Basque setelah Bilbao dan San Sebastian tetap menunjukkan sinarnya, serta Fiestas de la Virgen Bianca (festival tahunan kota Vitoria-Gasteiz) tetap diselenggarakan pada 4 sampai 9 Agustus, Alaves masih muram. Silih ganti kepemilikan dan utang yang kerap melilit acap menghiasi gerak Alaves.

Sampai akhirnya, pada musim 2018/19, Alaves mulai bangkit dan berhasil menunjukkan bahwa julukan El Glorioso yang tersemat pada diri mereka itu bukan kaleng-kaleng.

Sampai tengah musim La Liga 2017/18, mereka duduk di peringkat akhir, kalah bersaing dari tim-tim lain macam Leganes, Deportivo La Coruna, Las Palmas, dan Malaga. Ancaman degradasi menghantui mereka.

Saat itulah, Abelardo Fernandez Antuna hadir ke skuat Alaves. Sebagai mantan pemain bertahan yang pernah bermain di Barcelna dan Alaves, Abelardo paham bahwa yang utama dari sebuah tim adalah keseimbangan. Main di masa transisi Barcelona saat ditinggalkan oleh Johan Cruyff-lah yang melahirkan pemahaman tersebut.

X post embed

Setelah menunaikan tugasnya menyelamatkan Alaves dari jerat degradasi pada musim 2017/18--Alaves mengakhiri liga di posisi 14, dengan raihan 47 poin hasil dari 15 kemenangan, dua kali imbang, dan 21 kali kalah--ia membentuk tim yang sesuai dengan benaknya pada 2018/19. Beberapa nama ia rekrut untuk memperkuat tim, seperti Tomas Pina, John Guidetti, Jony, dan Borja Baston.

Hasilnya apik. Sejauh ini, Alaves duduk di peringkat empat klasemen sementara La Liga dengan raihan 31 poin, hasil dari sembilan kali menang, empat kali imbang, dan hanya lima kali kalah. Abelardo benar-benar membuat Alaves menjadi tim yang seimbang. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana ia melakukannya?

Mari kita mulai dari soal formasi. Formasi dasar yang ia terapkan dalam setiap pertandingan Alaves adalah 4-4-2. Walau kolot, formasi ini menghadirkan keseimbangan permainan. Bahkan, Ernesto Valverde juga memakai formasi dasar ini di Barcelona, tentunya dengan beberapa modifikasi.

Hal inilah yang dilakukan oleh Abelardo. Ada modifikasi yang ia lakukan, baik dalam serangan maupun pertahanan. Dari segi serangan, Alaves melakukan apa yang lazim dilakukan oleh tim-tim yang main dengan formasi 4-4-2: menyerang lewat sayap. Di sini, peran Jony dan Ibai Gomez tampak kentara.

Keduanya kerap menjadi motor dari serangan Alaves. Kemampuan dribel keduanya membuat mereka leluasa mencecar area sayap lawan. Gomez dan Jony juga lihai dalam melepas umpan kunci. Bahkan, Jony mencatatkan rataan umpan kunci sebanyak 1,8 kali per laga, tertinggi kedua di Alaves.

X post embed

Aktifnya kedua sayap Alaves ini didukung kemampuan apik dari para pemain tengah dan depan. Di tengah, ada nama Tomas Pina dan Manu Garcia yang menjadi poros ganda. Dari aspek pertahanan, keduanya sama-sama baik. Pina menorehkan rataan tekel dan intersep per laga sebanyak 2,6 kali (tekel) dan 1,5 kali (intersep). Sedangkan Garcia menorehkan rataan tekel dan intersep per laga sebanyak 2,7 kali (tekel) dan 0,8 kali (intersep).

Dari catatan di atas, tampak bahwa lini tengah Alaves dapat menjadi pembantu lini pertahanan dalam menyaring serangan. Ditambah lagi dengan Pina yang andal dalam membagi bola (persentase umpan sukses 83,7%, tertinggi ketiga di Alaves), membuat permainan Alaves jadi lebih rapi. Ia bisa dibentuk sedemikian rupa, dengan sosok Pina sebagai kuncinya.

Lini serang Alaves juga tak kalah menawan. Mereka memiliki duet Borja Baston dan Jonathan Calleri. Total keduanya sudah mencetak 7 gol bagi Alaves di La Liga (sepertiga gol Alaves di liga). Bukan cuma perkara gol, Calleri dan Baston bermain seperti lazimnya tim-tim yang menerapkan formasi 4-4-2: mereka bermain saling melengkapi.

Calleri dan Baston adalah dua penyerang yang tidak lelah bergerak. Keduanya tidak diam di kotak penalti, tapi bergerak acak dan pergerakan mereka biasanya ditujukan untuk membuka ruang di lini pertahanan lawan, Dengan rajinnya Calleri dan Baston bergerak, tak heran Jony dan Gomez acap kecipratan enaknya. Mereka bisa menerobos masuk ke kotak penalti lawan.

Tak perlu aneh juga jika Gomez dan Jony (juga Ruben Sobrino) mampu menorehkan masing-masing 3 gol sejauh ini di ajang La Liga. Ada juga Pina yang kerap muncul dari lini kedua dengan torehan 2 gol yang sudah ia cetak. Gomez malah jadi pemain dengan rataan tembakan per laga tertinggi di Alaves, yakni 2,3 kali.

X post embed

Permainan yang seimbang, ditopang oleh lini tengah yang andal, serta lini sayap dan depan yang mampu saling bersinergi membongkar lini pertahanan lawan, membuat Alaves jadi tim yang tidak bertumpu pada satu atau dua pemain. Mereka menjadi satu unit, baik itu dalam penyerangan maupun pertahanan.

Sistem pertahanan mereka tidak tergantung pada bek, tapi pada transisi yang apik serta rapatnya jarak antar-pemain. Untuk hal ini, ada nama Guillermo Maripan pantas dapat sanjungan. Torehan rataan tekel dan intersep per laga sebanyak 2,2 kali (tekel) dan 2,1 kali (intersep), dipadukan dengan keunggulannya dalam memberikan komando. Alhasil, Alaves hanya kebobolan 18 gol sejauh ini, tertinggi keempat di La Liga.

***

Di bawah Abelardo, Alaves memang menjadi tim yang seimbang. Baik dari segi pertahanan dan penyerangan, mereka sama-sama bagus. Meski begitu, bukan berarti Alaves tidak memiliki kelemahan, dan hal ini tampak saat mereka kalah dari Atletico Madrid di ajang La Liga.

Saat kalah dari Atletico, Alaves menunjukkan kecenderungan yang unik. Lini pertahanan mereka gampang terdistraksi ke satu sisi, dan hal inilah yang berhasil dimanfaatkan Atletico. Para pemain Los Colchoneros menggiring para pemain Alaves ke sisi kanan, lalu Atletico menembus pertahanan Alaves dari sisi kiri, saat para pemain di sisi kiri juga tergiring ke sisi kanan.

Saat mereka kalah dari Levante, kecenderungan ini juga terlihat. Mereka gampang digiring ke satu sisi, dan lagi-lagi mereka digiring ke sisi kanan. Levante membuat situasi semakin sulit bagi Alaves setelah mereka memberikan tekanan di sayap dan lini tengah Alaves. Serangan terganggu, distribusi bola pun terganggu.

Heatmap Atletico (kiri) dan Alaves (kanan). (Foto: Dok. Whoscored)
zoom-in-whitePerbesar
Heatmap Atletico (kiri) dan Alaves (kanan). (Foto: Dok. Whoscored)

Kelemahan ini yang kerap menjadi pangkal kekalahan Alaves ataupun hasil-hasil imbang yang mereka dapat. Dengan sisa setengah musim kompetisi La Liga, Abelardo masih memiliki waktu untuk membenahi kelemahan ini, meski sulit juga untuk menuntaskannya dalam waktu singkat.

Kabar baiknya, meski ada kelemahan yang menyeruak, Alaves berhasil membuat nama El Glorioso terdengar pada musim 2018/19 ini. Sukses mengalahkan Real Madrid, juga menyulitkan tim besar La Liga lain macam Sevilla dan Villarreal, menjadi nilai tambah tersendiri.

Jangan lupa pula, musim ini Alaves unggul atas Athletic (peringkat 18) dan Sociedad (peringkat 12). Setidaknya Vitoria-Gasteiz bisa sedikit lebih angkuh kepada Bilbao dan San Sebastian.