kumparan
11 Jul 2018 20:57 WIB

Sopan dan Santun seperti Gareth Southgate

Manajer Inggris, Gareth Southgate. (Foto: Reuters/Carl Recine)
Paul Wilson, dalam sebuah tulisannya di The Guardian, menyebut bahwa Gareth Southgate dikenal punya dua kelebihan yang sekaligus jadi kekurangannya: Kesopanan dan kejujuran.
ADVERTISEMENT
Dua hal itu ditengarai menjadi alasan Southgate tak sukses di klub. Sopan dan jujur membuatnya justru digerogoti pihak klub, mulai dari manajemen hingga pemain. Dia sulit mendapat respek dalam sistem klub Premier League yang 'keras'.
Sebab, Southgate bukanlah orang yang meletup-letup ketika berbicara di ruang ganti, tak terdengar ambisius saat konferensi pers, dan jarang berteriak-teriak penuh emosi di pinggir lapangan. Anda tak akan menemukannya seekspresif Juergen Klopp, selugas Jose Mourinho, atau seemosional Sir Alex Ferguson.
Southgate adalah pria yang berbicara dengan tenang di konferensi pers, tutur katanya tersusun rapi. Tak ada sindiran-sindiran kepada lawan, tak banyak hal yang ditutup-tutupi perihal timnya. Southgate seorang yang retorik, tetapi tak terdengar menggurui.
ADVERTISEMENT
Southgate dalam sebuah konferensi pers. (Foto: REUTERS/Maxim Shemetov)
Melihat dari curiculum vitae-nya, hal tersebut memang belum cukup membuatnya berhasil sebagai manajer di sebuah klub. Pria kelahiran 47 tahun silam itu dipecat Middlesbrough setelah tak mendapat apa-apa dalam tiga tahun dan hanya memiliki rasio kemenangan sebesar 29,8%.
Namun, kekurangan itu berubah ketika dia menjabat sebagai manajer Tim Nasional (Timnas) Inggris. Awalnya, dengan kesopanan dan kejujuran itu, Southgate memang diragukan. Lagipula, dengan curiculum vitae seperti yang dimiliknya, siapa percaya dia mampu sukses mengemban salah satu jabatan tersulit di dunia?
Lain ladang lain belalang. Itu yang diemban Southgate. Ada tempat yang akan sukses ditaklukkannya dengan dua sikap tersebut. Lantas, pria kelahiran Watford itu memperbaiki hal-hal yang dianggapnya kurang dari Inggris dengan dua kelebihannya itu.
ADVERTISEMENT
Dia mendekatkan diri, menjalin komunikasi yang baik dengan para petinggi Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA). Southgate 'menyingkirkan' pemain-pemain yang dianggap 'terlalu besar' untuk Inggris seperti Wayne Rooney, dan mengajak pemain yang dianggapnya potensial untuk berbicara dari hati ke hati.
Southgate ingin mendapat kepercayaan dari para pemainnya lewat hal-hal tersebut. Dia tak coba menjadi galak seperti Fabio Capello, jadi kelewat filosofis seperti Roy Hodgson, atau jadi bebal seperti seniornya, Steve McLaren. Southgate melihat bahwa Inggris memang harus berubah.
Southgate memberi arahan kepada pemain Inggris. (Foto: REUTERS/Christian Hartmann)
Tentu, bukan hanya dalam segi taktik saja. Kita sudah tahu bagaimana revolusionernya dia dalam hal tersebut. Namun, banyak hal lain yang juga diubah Southgate. Mantan pemain Aston Villa itu, misalnya, membuat Inggris didominasi wajah-wajah baru, para pemain muda.
ADVERTISEMENT
Dia melihat ke depan, tahu bahwa tugas utamanya bukanlah mencari sukses secepat mungkin, tetapi membangun kesinambungan untuk masa depan yang cerah bagi 'Tiga Singa'. Para pemain itu diberinya kepercayaan, diberi waktu bermain, dikenalkan pada filosofi permainannya.
Hal itu kemudian membuat tak ada lagi sosok-sosok kelewat superior dalam tim--satu masalah yang menggerogoti Inggris sejak dulu. Tak ada rivalitas sengit dalam tim di antara para penggawa tim enam besar Premier League. Southgate berhasil mengontrol pasukannya.
Inferioritas dalam timnya itu pula yang membuat media-media dan masyarakat Inggris menurunkan ekspektasi, meringankan beban untuk tim nasional mereka. Inggris-nya Southgate di Piala Dunia 2018 ini tak diberi beban sebesar para seniornya.
Di luar hal-hal teknis pun, Southgate tahu cara membuat timnya semakin harmonis. Suasana kamp latihan tim sangat kekeluargaan: mereka menonton video pertandingan bersama, menonton reality show bersama, bermain gim bersama, tertawa bersama. Semua terlihat cair.
ADVERTISEMENT
Suporter Inggris (Foto: Reuters/John Sibley)
Selama ajang Piala Dunia 2018 ini pula, Southgate memberikan keistimewaan kepada seluruh pemainnya. Dia memberikan waktu bagi para pemain untuk bertemu dan menghabiskan waktu bersama keluarga mereka. Dan bahkan Southgate mengajak para pemain beserta keluarganya makan malam bersama.
Pria itu bahkan mengizinkan Fabian Delph meninggalkan kamp latihan tim di Rusia untuk kembali ke Inggris ketika sang istri melahirkan. Southgate ingin para pemainnya menikmati Piala Dunia sebagai sebuah perjalanan yang indah, bukan beban akan tuntutan menang.
Southgate pula yang memberikan kepercayaan diri bagi para pemain dengan mengajak mereka muncul ke publik, bebicara kepada media dengan wajah ceria. Dia adalah pria yang kerap mengatakan akan memberikan jalan kepada para pemainnya untuk beraksi sebagaimana mereka mau, untuk menulis sejarah mereka sendiri.
ADVERTISEMENT
Dia juga yang mendatangi para fan di tribune seusai laga, memberikan aplaus, dan mengajak para pemain bernyanyi bersama. "Ada emosi. Para fans telah membayar banyak hal. Mereka telah datang jauh dan dapat terhubung dengan mereka... saya ingin dapat melakukannya dengan jutaan orang yang penonton di rumah, tetapi para pendukung yang ada di sini, mereka bernyanyi, dan saya tahu apa yang telah mereka alami," kata dia.
Ekspresi Gareth Southgate usai laga menghadapi Kroasia. (Foto: Lee Smith/Reuters)
Berkat kerendahhatian itu, Southgate kini jadi pujaan publik Inggris. Semua percaya kepadanya. Lebih lagi karena dia berhasil membawa Inggris melaju ke semifinal Piala Dunia untuk pertama kali sejak 28 tahun silam. Sekaligus membawa Inggris tinggal meraup dua kemenangan lagi untuk membawa sepak bola pulang ke rumah.
ADVERTISEMENT
Dan jika pada laga di Stadion Luzhniki, Kamis (12/7/2018) pukul 01:00 dini hari WIB nanti, Inggris bisa menaklukkan Kroasia, itu bukanlah soal cerdasnya Southgate meracik taktik, menemukan filosofi, dan menerapkan detil-detil positif untuk permainan Inggris.
Tapi, ini juga soal bagaimana seorang pelatih, dengan kesopanan dan kejujuran yang dia miliki, mampu mengubah tim yang didominasi pemain muda dan minim pengalaman, menjadi tim kuat dengan kepercayaan diri, yang seluruhnya sama-sama punya keyakinan bahwa mereka tak akan kalah.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan