Pencarian populer

Totti Masih Percaya pada Tangan Dingin Ranieri

Claudio Ranieri kecewa dengan kekalahan 1-4 AS Roma dari Napoli. Foto: REUTERS/Alberto Lingria
Langkah AS Roma sedang gontai. 'Serigala Ibu Kota' ibarat kehilangan taring dan terjebak dalam langkahnya di Serie A 2018/19.
ADVERTISEMENT
Sebelum berlaga melawan Napoli pada pekan ke-29, mereka ada di peringkat keenam. Bukan peringkat yang buruk, tapi jelas berpotensi mengancam terkuburnya asa untuk kembali berlaga di kompetisi terelite level Eropa musim depan. Terlebih, Roma sudah tersingkir dari Liga Champions 2018/19 usai kalah dari FC Porto di babak 16 besar.
Performa yang tak oke itu pada akhirnya berujung pada pemecatan Eusebio Di Francesco sebagai pelatih. Itu belum ditambah dengan keputusan sang direktur olahraga, Monchi, untuk kembali ke Sevilla. Di tengah situasi pelik macam ini, Claudio Ranieri masuk sebagai juru kemudi.
Francesco Totti yang menghabiskan hampir separuh hidupnya di Roma sadar benar timnya sedang kesusahan. Jalan panjang bersama Roma agaknya juga tak akan membuatnya menutup telinga bahwa penunjukan Ranieri di satu sisi melahirkan harapan, tapi di sisi lain menimbulkan spekulasi bahwa Roma sedang terjepit.
ADVERTISEMENT
Selebrasi gol El Shaarawy ke gawang Empoli. Foto: Andreas SOLARO / AFP
Bahkan laga kedua Ranieri bersama Roma berakhir dengan kekalahan 1-2 dari SPAL. Catatan suram ini membuat tiga dari lima teranyar Roma selesai dengan kekalahan. Meski demikian, Totti masih percaya dengan rekam jejak Ranieri. Baginya, pelatih yang satu ini acap menjadi penyelamat tim-tim yang sedang kepayahan.
"Ranieri selalu menunjukkan maginya saat mengambil alih tim di pertengahan musim. Saya pikir penunjukan Ranieri setelah pemecatan Eusebio adalah keputusan tepat," ucap Totti, dilansir Football Italia.
Barangkali ketimbang mengambil alih tim, reputasi Ranieri di ranah kepelatihan datang seiring dengan keberhasilannya membangun fondasi dasar tim yang sedang kepayahan. Jauh sebelum kesuksesannya mengantar Leicester City juara Premier League 2015/16, Ranieri sudah jatuh-bangun membangun tim-tim yang sedang hidup segan mati tak mau.
ADVERTISEMENT
Francesco Totti masih percaya pada tuah Ranieri. Foto: Filippo MONTEFORTE / AFP
Keunikan kiprah Ranieri sudah terlihat di awal-awal karier kepelatihannya. Cagliari yang merupakan tim ketiga yang ia besut, langsung dibawanya promosi dua kali berturut-turut: dari C1 ke Serie B pada 1989, lalu ke Serie A pada 1990.
Sialnya, skuat yang dibangun Ranieri itu hanya mampu bersaing di papan tengah Serie A. Berbeda ketika kontraknya dengan Cagliari berakhir dan tempatnya digantikan Carlo Mazzone pada 1991.
Sang pelatih anyar memang membutuhkan waktu sekitar dua musim untuk membuktikan tajinya. Tapi, hasilnya manis. Cagliari mampu menjejak ke babak semifinal Liga Europa 1993/94.
Selesai dengan Cagliari, Ranieri menjejak ke Napoli. Tim Italia Selatan ini memang menutup musim 1991/92 di peringkat empat. Tapi, dalam perjalanannya itu, Gianfranco Zola lahir sebagai pahlawan muda yang digadang-gadang sebagai pengganti Diego Maradona.
ADVERTISEMENT
Lantas, apa yang terjadi pada Napoli pada musim kedua kepelatihan Ranieri? Mereka menyelesaikan kompetisi di peringkat 11.
Maka, pindahlah Ranieri ke Fiorentina. Kali ini, perjalanannya lebih panjang. Musim perdananya ditandai dengan keberhasilan mengantar Fiorentina promosi ke Serie A. Bahkan pada tahun ketiganya, Fiorentina akhirnya merengkuh gelar juara Coppa Italia 1995/96.
Guard of Honour untuk Ranieri di ujung 2015/2016. Foto: Eddie Keogh/Reuters
Hebatnya, ini menjadi trofi juara pertama Fiorentina setelah 20 tahun. Masa depan Ranieri terlihat cemerlang karena gelar juara Fiorentina bertambah usai mengalahkan AC Milan di partai puncak Piala Super Italia walau setelahnya, ia memutuskan untuk angkat kaki ke Valencia.
Dan begitulah seterusnya. Ranieri acap gagal menunjukkan magi setelah berhasil membangun tim. Pola ini berlanjut hingga dongeng di jagat sepak bola menjadi kenyataan lewat keberhasilan Leicester memangku trofi juara Premier League 2015/16.
ADVERTISEMENT
Walau di satu sisi menegaskan inkonsistensi, pengalaman-pengalaman macam inilah yang agaknya membuat Totti masih menaruh percaya pada Ranieri. Terlebih, ini bukan menjadi kali pertama Ranieri melatih Roma. Berhitung mundur, Ranieri pernah memimpin Roma pada 2009 hingga 2011.
Mungkin yang ada di benak Totti, jika Leicester yang notabene 'tak dikenal' Ranieri itu saja mampu menjadi juara atau tim yang sedang kepayahan betul bisa diselamatkan, tentu membangkitkan Roma yang telah dikenalnya bukan perkara mustahil.
AS Roma kandas 1-4 dari Napoli. Foto: REUTERS/Alberto Lingria
"Ia adalah sosok yang dapat memberikan kontribusi besar. Ia mengenal klub ini, suporter, dan lingkungan di sekitar Roma. Ia dapat mendorong tim lolos ke zona Liga Champions yang mana merupakan target kami musim ini," tegas Totti.
ADVERTISEMENT
Rangkaian pencapaian Ranieri yang unik itu memang melahirkan harapan baru bagi seantero klub, termasuk Totti. Bagi Roma yang sedang ada dalam kondisi tak baik, percaya pada Ranieri memang menjadi jalan satu-satunya. Toh, itu jauh lebih baik ketimbang menyerah sebelum kompetisi usai.
Bagi Ranieri, situasi ini mempertegas bahwa sesungguhnya ia punya kesempatan dan tugas tak ringan sekaligus. Dan bila bicara soal tugas, membangkitkan Roma usai kandas 1-4 dari Napoli di kandang sendiri adalah persoalan pertama yang mesti ia tuntaskan.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan dan Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.85