kumparan
4 Sep 2019 10:18 WIB

Ultras Inter: Cemoohan untuk Lukaku Bukan Tindak Rasialisme

Romelu Lukaku merayakan gol ke gawang Lecce dalam laga debutnya bersama Internazionale. Foto: AFP/Miguel Medina
Romelu Lukaku adalah pemain Internazionale tetapi setelah menerima pelecehan rasial dari suporter Cagliari dia justru tidak dibela oleh pendukungnya sendiri. Kelompok ultras Inter, L’Urlo della Nord, dalam pernyataannya menyebutkan tindakan suporter Cagliari itu bukan tindakan rasialis.
ADVERTISEMENT
Pernyataan tersebut dikeluarkan L’Urlo della Nord dalam laman Facebook-nya. Kata mereka, teriakan menirukan suara monyet yang datang dari pendukung Cagliari itu hanyalah sebuah cara untuk membantu tim di lapangan.
Lukaku mendapat pelecehan ketika hendak mengeksekusi penalti dalam laga pekan ke-2 Serie A menghadapi Cagliari di Sardegna Arena, Senin (2/9/2019) dini hari WIB. Walau demikian, dia tetap mampu menunaikan tugasnya untuk membawa Inter menang 2-1.
Apa yang dialami Lukaku sudah mendapat respons dari berbagai pihak di Serie A. Kecaman diberikan oleh sejumlah klub, termasuk Inter dan Cagliari sendiri. Selain itu pihak Lega Serie A pun telah berjanji membentuk tim untuk memberantas tindak rasialisme di liganya.
Di saat dukungan tersebut datang dari pelbagai penjuru, Lukaku justru mendapat 'pukulan' dari orang-orang yang seharusnya paling getol membela.
ADVERTISEMENT
"Hai, Romelu. Kami menuliskan ini mewakili Curva Nord. Ya, orang-orang yang menyambutmu saat tiba di Milan. Kami menyayangkan bahwa kau berpikir apa yang terjadi kepadamu di Cagliari adalah tindak rasialisme," tulis L’Urlo della Nord.
"Kamu harus paham kalau Italia tidak seperti negara Eropa lain di mana rasialisme adalah masalah yang nyata. Kami paham kalau kami terlihat rasialis di matamu tetapi sebenarnya tidak begitu."
"Di Italia kami menggunakan beragam cara untuk membantu tim kami dan membuat lawan merasa gugup, bukan karena kami rasialis tetapi untuk mengacaukan mereka."
"Kami adalah organisasi suporter multietnis dan kami selalu menerima pemain dari mana pun. Meski demikian, kami selalu menggunakan cara itu untuk menyerang pemain dari tim lain dan ke depannya kami tidak akan berhenti."
ADVERTISEMENT
"Tolong anggap kelakukan suporter Italia ini sebagai bentuk penghormatan karena mereka takut kepadamu, bukan karena mereka membencimu. Rasialisme yang sesungguhnya adalah cerita yang berbeda dan kami semua tahu itu."
"Ketika kamu mendeklarasikan bahwa rasialisme adalah problem untuk dilawan di Italia kamu hanya membantu represi terhadap suporter sepak bola, termasuk kami. Kamu sudah berkontribusi menciptakan masalah yang sebenarnya tidak ada."
"Tolong bantu kami menjelaskan mana yang rasialis mana yang bukan. Perlawanan terhadap rasialisme yang sesungguhnya harus dimulai di sekolah, bukan di stadion. Para suporter memang seperti itu ketika berada di stadion, tetapi tidak di kehidupan nyata," tutup mereka.
Apa yang diutarakan kelompok suporter Inter ini boleh dibilang tidak mengejutkan karena mereka pada musim lalu melakukan hal yang sama pada bek Napoli, Kalidou Koulibaly. Kala itu Koulibaly sampai diusir keluar oleh wasit karena merespons cemoohan rasial dengan tepuk tangan sarkastis.
ADVERTISEMENT
Atas perbuatan suporternya itu Inter kemudian dihukum bermain dua laga kandang tanpa penonton. Tak cuma itu, Empoli bahkan sampai menolak menjual tiket tandang kepada penyokong Nerazzurri lantaran aksi terkutuk tersebut.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan