kumparan
8 Jan 2019 19:46 WIB

Untuk Hudson-Odoi: Bertahan di Chelsea, Jangan Salah Langkah

Hudson-Odoi berpotensi bersinar musim depan. (Foto: VALERY HACHE / AFP)
Suatu ketika dalam sebuah sesi latihan bersama Chelsea, Callum Hudson-Odoi melakukan hal ganjil. Kala itu, sesi latihan sedang memasuki masa santai. Para pemain sedang mempersiapkan diri untuk sesi selanjutnya.
ADVERTISEMENT
Hudson-Odoi yang sedang berada tidak jauh dari kotak penalti sedikit bermain-main dengan seorang staf pelatih. Si staf pelatih mengirimkan umpan matang yang dikonversi Hudson-Odoi menjadi gol tendangan voli.
Tendangan voli itu memang apik. Hudson-Odoi tak perlu menunggu bola untuk jatuh ke tanah terlebih dahulu. Saat bola masih dalam perjalanan ke arahnya, Hudson-Odoi langsung menyikat bola dengan tendangan voli dan mengantarkan bola masuk ke sudut kanan gawang. Entahlah apa yang biasanya terjadi di sesi latihan Chelsea, tapi mungkin ini bukan gol yang heboh-heboh amat.
Namun bagi Hudson-Odoi yang masih remaja, tendangan ini terasa spesial. Maka usai mencetak gol, ia langsung berlari, berselebrasi, dan meneriakkan satu nama: Frank Lampard.
"Oh Tuhan, oh Tuhan, saya mencetak gol seperti Frank Lampard," teriaknya kegirangan, lalu menjatuhkan diri di atas lapangan. Barangkali ia terlihat seperti bocah SSB yang mencetak gol perdananya sembari disaksikan kedua orang tuanya dari pinggir lapangan.
ADVERTISEMENT
Tapi, meneriakkan nama Lampard? Seorang legenda Chelsea? Benar-benar berani Hudson-Odoi ini. Ia tak sadar bahwa gesture ini melahirkan kutukan sekaligus tanggung jawab yang kini mesti ia tanggung: dipersiapkan untuk jadi andalan Chelsea di masa depan.
Hudson-Odoi dan Kante dalam sesi latihan Chelsea. (Foto: Reuters/Adam Holt)
Usia Hudson-Odoi memang masih muda, 18 tahun. Yaaah...usia sepantaran anak SMA yang baru lulus, kegirangan mengecat baju dengan aneka warna mencolok mata, menghabiskan hari kelulusan dengan arak-arakan keliling kota sebelum akhirnya bertungkus-lumus dengan ujian masuk perguruan tinggi atau malah langsung mempersiapkan diri untuk bekerja.
Di usia tersebut pula, mengutip gubahan seorang pedangdut, ada darah muda yang bergelegak--yang membuat orang-orang muda cenderung tak mau kalah dari siapa pun, termasuk para seniornya. Darah mudah ini pula yang membikin Hudson-Odoi cuma berpikir sekali, enggan bersusah-susah menimbang akibat dari segala tindak-tanduknya. Ini yang tampak jelas lewat keinginan Hudson-Odoi untuk pindah dari Chelsea saat merasa tidak mendapatkan jam terbang yang layak.
ADVERTISEMENT
Usai menjalani laga debut bersama Chelsea di laga Liga Europa menghadapi BATE Borisov, Hudson-Odoi langsung menarik perhatian. Makin ciamik karena dalam laga Liga Europa lain menghadapi PAOK Salonika, Hudson-Odoi mampu mencetak gol perdananya untuk Chelsea dan menyumbang satu assist.
Hudson-Odoi pun sudah menjalani debut di ajang Premier League 2018/19 menghadapi Watford, menggantikan Pedro yang cedera. Total waktu 42 menit menjadi waktu yang dihabiskannya di atas lapangan. Di ajang Piala FA melawan Nottingham Forest, ia kembali menampilkan performa ciamik lewat torehan 2 assist-nya.
Berkat segala penampilan apiknya ini (1 gol dan 3 assist), Hudson-Odoi menarik perhatian tim-tim besar Eropa. Bayern Muenchen bahkan sampai rela menggelontorkan dana sebesar 30 juta poundsterling untuk menggaetnya ke Allianz Arena. Remaja mana yang tidak jatuh hati ketika ada klub besar rela mengangkutnya dengan dana sedemikian besar?
ADVERTISEMENT
Jika menilik permainan Hudson-Odoi, tak heran Bayern sampai rela mengeluarkan duit sedemikian besar untuk merekrutnya. Sebagai pemain sayap, ia diberkahi kemampuan dribel mumpuni. Dalam beberapa laga bersama tim muda Chelsea, ia kerap memperlihatkan kemampuan itu. Tak jarang ia sampai dikepung oleh tiga sampai empat pemain yang berusaha keras menghentikan giringan bolanya.
Tidak hanya andal dalam melakukan dribel, Hudson-Odoi juga lihai dalam melakukan aksi serangan. Dari tujuh laga, ia mencatatkan rataan dua umpan kunci per laga. Jumlah ini bahkan lebih besar dari Pedro (1,1 kali per laga) dan hanya kalah dari Willian (2,4 kali per laga), yang menunjukkan bahwa memang ia punya potensi.
Oh iya, Hudson-Odoi juga punya keberanian besar untuk melepas tembakan. Rataan dua tembakan ke gawang per laganya, unggul atas Pedro dan Willian yang masing-masing memiliki rataan tembakan ke gawang per laga sebesar 1,9 kali. Catatan ini menegaskan bahwa Hudson-Odoi mampu bersaing sekaligus membuktikan bahwa minat Bayern terhadapnya tak didasari pertimbangan yang sembrono.
ADVERTISEMENT
Tak heran juga bila Hudson-Odoi merasa bahwa ia bernilai jual. Meski mengungkapkan ia akan terus berjuang menembus skuat inti Chelsea, godaan kesuksesan Jadon Sancho di Borussia Dortmund dan Reiss Nelson di Hoffenheim, ditambah kedatangan Christian Pulisic musim depan, membuat darah muda pemain kelahiran London itu makin bergelegak.
Sebagai pelatih yang mungkin sudah menyaksikan banyak pemain semasa karier kepelatihannya, Maurizio Sarri tahu betul kapasitas Hudson-Odoi. Apalagi jika diperhatikan, Hudson-Odoi memang pemain yang ia perlukan dalam skemanya. Ia serupa Lorenzo Insigne ketika di Napoli--pemain lokal dan memiliki tipikal permainan tidak jauh beda.
Maka usai melihat penampilannya melawan Nottingham Forest, Sarri dan asistennya, Gianfranco Zola, menyarankan agar Hudson-Odoi tetap bertahan di Chelsea. Sarri secara terang-terangan mengakui bahwa Hudson-Odoi punya kualitas dan siap untuk bermain di laga yang lebih besar, meski ia juga mengakui bahwa ada aspek-aspek yang harus ditingkatkan.
ADVERTISEMENT
"Bagi saya, ia (Hudson-Odoi) adalah pemain yang penting. Ia masih sangat muda, tetapi terus mengalami peningkatan, terutama di fase bertahan," ujar Sarri.
Dari ucapan di atas, Sarri paham bahwa Hudson-Odoi masih memiliki kekurangan, yaitu dari segi pertahanan. Untuk hal ini, Sarri memang tepat. Catatan aksi bertahan Hudson-Odoi tidak cukup mengesankan, yakni rataan 0,6 tekel per laga rataan 0,2 intersep per laga.
Artinya, ia masih kalah dari Pedro (rataan satu tekel per laga dan rataan 0,7 intersep per laga) serta Willian (rataan 0,9 tekel per laga dan rataan 0,5 intersep per laga). Tak heran Sarri begitu puas saat Hudson-Odoi meningkat dari segi pertahanan.
Sesuai ujaran dari asisten pelatih tim Chelsea U-18 yang mengasuh Hudson-Odoi, Ed Brand, masih ada satu aspek lain yang harus ia benahi dalam permainannya: pergerakan tanpa bola. Jika ia mampu memaksimalkan hal ini, maka dalam formasi 4-4-2 maupun 4-3-3, Hudson-Odoi akan memiliki peran lebih serta dapat berintegrasi dengan tim.
ADVERTISEMENT
"Ya, ia (Hudson-Odoi) masih seorang remaja. Ia masih memiliki banyak waktu untuk belajar, meski kami juga tidak menutup mata bahwa ia punya talenta," ujar Ed.
Maka, selayang saran untuk Hudson-Odoi, tetaplah di Chelsea. Sudah bagus keputusannya untuk berusaha menembus tim inti Chelsea karena di sini, di tim yang katanya telah ia bela sejak ia berusia 8 tahun ini, ia bisa belajar banyak dari para pemain hebat. Ia juga bisa belajar dari pelatih yang secara taktikal memang membutuhkan pemain dengan kualitas sepertinya.
Tinggal tunggu beberapa tahun lagi saja, maka mungkin ia akan jadi pemain yang seutuhnya. Sehingga teriakan Lampard yang ia lontarkan ketika sesi latihan bukan lagi menjadi kutukan, tapi menjadi klaim bahwa ia pun tak kalah dari sang legenda.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·