Pencarian populer
Apa Kata Mereka soal Makan di Warteg?
Seribu Rasa Warteg. (Foto: Iqbal Firdaus/Kumparan)
Di tengah keberadaan tempat makan Intagramable dengan varian makanan yang trendy, keberadaan warung tegal atau kerap disingkat warteg masih diminati. Tidak percaya? Asmawi, Penasihat Asosiasi Koperasi Warteg mengungkap bahwa hingga kini sudah ada ribuan pengusaha warteg yang benar-benar dari Tegal telah terdaftar.
“Pengusaha warteg bukan berasal dari Tegal saja, tapi bisa saja dari Brebes dan Pemalang. Mereka juga mengakunya dari warteg. Sekarang itu tidak melulu orang Tegal walaupun makanannya warteg, bila ditambah dengan daerah lain bisa sampai puluhan ribu,” ungkap Asmawi pada kumparanFOOD.
Tim kumparanFOOD pun bertanya langsung ke beberapa orang untuk tahu seberapa besar minat masyarakat untuk makan di warteg. Simak, yuk alasan mereka masih makan di warteg!
Akbar Ramadhan
Akbar Ramadhan, founder Warteg Gourmet (Foto: Instagram/ @theleonardi)

Oh sering, sering banget! Buat gue, Warteg adalah gue, ya memang pribadi gue semua ada di situ. Coba perhatikan, di warteg kan nggak ada rulesnya. Lo bisa sesantai mungkin dan bisa berinteraksi dengan siapa pun disitu. Jadi memang ada suatu ekspresi yang menyenangkan di dalam Warteg.

- Akbar Ramadhan (37), Founder Warteg Gourmet

Menu favorit: kerang, kuah telur, dadar, sama gorengan sudah jadi menu pasti. Namun tergantung juga, di setiap warteg selalu ada menu rahasia tersendiri. Tapi most of the time yang pasti saya pesan pertama itu.
Marisa Djemat
Marisa Djemat (41), Fotografer. (Foto: Dok. Istimewa)

Sejujurnya sudah jarang ke warteg. Kalau pun beli, biasanya pakai ojek online. Sederhana, kadang saya hanya kangen dengan makanan warteg.

- Marisa Djemat (41), Fotografer

Menu favorit: Di warteg favorit saya ada pecel lele dan ayam yang nikmat. Kemudian saya tambahkan dengan beberapa sayur yang dijual di sana.
Geovanno Mozes
Geovanno Mozes (20), Mahasiswa. (Foto: Dok. Istimewa)

Masih sering banget ke warteg, bisa sampai empat kali dalam seminggu. Soalnya wartegnya dekat kampus dan biasa jadi tempat makan siang bareng teman-teman.

- Geovanno Mozes (20), Mahasiswa

Menu favorit: Nasi, telur dadar, dan capcay.
Adis Kartasasmita
Adis Kartasasmita. (Foto: Dok. Istimewa)

Sebenarnya, gue agak jarang ke warteg. Tapi, kalau lagi enggak punya duit untuk makan fancy, warteg jadi pilihan.

- Adis Kartasasmita (26), Desainer Grafis

Menu favorit: Nasi, sambal ampela, telur cabai, capcay, dan tentunya sambal.
Ade Putri Paramadita
Ade Putri Paramadita. (Foto: Dok. Istimewa)

Mungkin tidak spesifik yang dari Tegal, tapi masih ke Warung Nasi sih tepatnya. Soalnya warung nasi biasanya sudah buka dari pagi sekali, dan masih buka sampai larut malam. Pilihan lauknya segambreng, harga murah, rasa lumayan, dan porsi biasanya sih bikin kenyang. Pendeknya: pilihan gampang!

- Ade Putri Paramadita (39), Culinary Story Teller & Food Stylist

Menu favorit: Oseng ati ampela, ikan tongkol balado, sambal goreng kerang, tumis sawi putih, tempe goreng!
Masih banyaknya peminat warteg dari semua kalangan, membuat warteg juga melakukan banyak inovasi. Kalau dulu warteg tampak kumuh, sekarang makanannya tertata rapi. Makanan yang disajikan pun higienis. Belum lagi, munculnya ide inovasi dari mereka yang mencintai makanan warteg; misalnya konsep Warteg Gourmet atau Wah-Teg yang baru-baru ini muncul.
Simak ulasan lengkap konten spesial kumparan dengan follow topik Seribu Rasa Warteg.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: web: