Pencarian populer

Bobaku Sayang, Ususku Malang

Ilustrasi sakit perut. Foto: Getty Images

Gelombang kopi susu kekinian belum selesai, kini muncul tren minuman baru yang tak kalah fenomenal: minuman boba. Meski kemunculannya sudah ada sejak beberapa tahun silam, tapi belakangan ini kepopulerannya kembali meroket.

Rasanya manis, dengan topping bola-bola bertekstur kenyal. Tak heran banyak orang yang menggandrunginya, sampai ketagihan. Berdasarkan survei yang kumparan lakukan terhadap 100 orang, 51 persen responden minum satu sampai dua boba drink dalam satu minggu. Sementara enam persen mengkonsumsi boba hampir setiap hari.

Para pecandu boba sepertinya harus berhati-hati. Seorang gadis asal Zheijang, China, dikabarkan mengalami sakit perut selama lima hari lantaran mengkonsumsi minuman boba.

Hasil tes CT scan menunjukan terdapat ratusan bola-bola boba yang menumpuk tak tercerna di dalam perutnya. Untungnya, sang gadis hanya perlu mengkonsumsi obat pencahar untuk mengeluarkan boba dari dalam perut.

Sebenarnya, terbuat dari apakah bola-bola kenyal ini?

Bola-bola boba berwarna hitam sebagian besar terbuat dari tepung tapioka. Menurut ahli nutrisi klinis RS Fatmawati, dr. Pauline Endang Praptini, M.S., Sp.GK, tapioka yang sudah diolah menjadi makanan akan mudah dicerna dan diserap. Sisanya, yang tidak terserap, akan turun masuk ke dalam usus besar dan akan terbuang sebagai kotoran.

Selain tepung tapioka, ada juga bahan-bahan lain yang digunakan sebagai campuran untuk membuat boba. Salah satunya, senyawa alginat yang masuk dalam kategori karbohidrat kompleks.

Prof.Dr. Nuri Andarwulan, Direktur Southeast Asian Food & Agricultural Science & Technology (SEAFEST) sekaligus Guru Besar Fakultas Teknologi Pertanian Institut Pertanian Bogor menjelaskan, senyawa alginat ini tak bisa diserap oleh tubuh karena merupakan serat pangan (dietary fiber). Ia akan langsung menuju ke usus besar dan membentuk massa feses untuk dikeluarkan dari tubuh.

Ilustrasi Boba. Foto: Getty Images

Perhatikan Cara Konsumsi

Nah, masalahnya, boba bisa menjadi bumerang buat kesehatan kalau cara mengkonsumsinya asal telan, tanpa dikunyah terlebih dahulu. Walaupun beberapa orang mengaku lebih suka menelan boba karena dianggap lebih enak, tapi dampaknya bisa berbahaya bagi tubuh.

Senyawa alginat yang ada pada boba membuatnya sangat kokoh dan sulit untuk dihancurkan oleh asam lambung sekalipun. Ini membuat bentuk boba tetap bulat meski sudah ada di dalam perut. Kalau masih berupa bulatan, dia tak akan bisa membentuk massa feses. Akibatnya, bola-bola boba bisa menumpuk di usus besar.

“Begitu dia (boba) kita kunyah, ukurannya akan mengecil dan lapisan luarnya terbuka. Jadi, boba masih mampu memerangkap air, makanya saat sudah di usus besar, ia mampu membentuk massa feses yang bagus,” ungkap Prof. Nuri saat ditemui kumparan di kampus IPB Dramaga, Bogor (2/7).

Sejalan dengan hal itu, dokter spesialis penyakit dalam sekaligus dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH., MMB juga mewajibkan untuk selalu mengunyah boba. Apalagi, boba mengandung komponen serat dan punya tekstur kenyal.

“Kalau langsung ditelan, tentunya akan membawa beban bagi lambung dan usus untuk mencerna lebih berat lagi. Prinsipnya, makanan apapun harus kita kunyah, apalagi bubble bentuk jeli seperti itu, ya,” terangnya.

Fakta Unik Si Hits Boba. Foto: Indra Fauzi/kumparan

Tapi separah-parahnya dampak dari boba, apa benar ia bisa menumpuk di usus?

Jadi begini, bulatan boba yang masih utuh sulit dihancurkan oleh enzim pencernaan. Nah, kalau didiamkan begitu saja, apalagi kurang asupan air putih, pergerakannya ke usus besar makin melambat.

Bila ada tambahan bola boba yang masuk lagi ke dalam usus, maka akan terbentuk tumpukan bola boba. Selain itu, jenis serat pada boba riskan untuk mengental saat tubuh kekurangan asupan air.

Mekanisme ini sebenarnya tak cuma berlaku untuk boba. Bahkan, minuman pelancar pencernaan pun sejatinya mengandung senyawa yang karakteristiknya sama dengan serat pada bola boba. Konsumsinya harus tetap diimbangi air putih supaya ia tak mengeras menjadi gel.

“Harus minum air yang banyak, supaya tidak membentuk gel di usus. Kalau ususnya kering, dia bisa menyumbat, bahaya itu,” terang Prof. Nuri lebih lanjut.

Kelebihan asupan serat nyatanya juga tak baik bagi kesehatan tubuh. Perut jadi kembung, bahkan kalau konsumsinya terlalu berlebihan, malah menyebabkan sembelit.

Ketika seseorang mengkonsumsi serat pangan dan tak segera dikeluarkan, feses akan terendap di usus besar dalam waktu lama. Kontak antara senyawa yang tidak diinginkan dengan sel usus besar pun semakin lama. Dalam kasus ekstrem, bisa menimbulkan risiko kanker usus besar.

Ilustrasi warga minum Boba Drink. Foto: Getty Images

Kandungan Nutrisi

Menurut dr. Pauline Endang, bulatan boba yang biasa dijual di pasaran kebanyakan menggunakan puding yang dipotong kecil atau agar-agar yang berisi serat larut dari rumput laut. Karenanya, sebagian besar kandungan di dalamnya adalah serat yang berguna untuk kesehatan pencernaan.

Sementara Prof. Nuri menjelaskan, senyawa alginat yang kerap ditambahkan dalam pembuatan boba juga berfungsi sebagai serat pangan. Sejatinya, alginat bukanlah zat gizi, namun tetap diperlukan untuk menjaga kesehatan pencernaan dengan membangun massa feses.

Selain itu, tapioka dalam bola boba juga mengandung unsur karbohidrat. Beberapa juga ada yang menambahkan gula untuk perasa manis.

“Komponennya (dalam boba) paling yang ada ya karbohidrat dan serat,” tutur dr. Ari.

Bulatan boba ini pun kerap dipadukan dengan beragam minuman, seperti jus, susu, atau teh. Manfaat dari minuman-minuman tersebut masih akan terserap tubuh.

“Campuran gula masih ada manfaaatnya, susu masih ada, alginatnya sendiri juga masih. Tapi ya tadi, dia (boba) ada manfaatnya kalau dikunyah dengan benar,” jelas Prof. Nuri kepada kumparan.

Karena dipadukan dengan aneka bahan tambahan seperti gula dan minuman manis, jumlah kalori pada segelas minuman boba terbilang cukup tinggi.

Berdasarkan keterangan dari Prof. Nuri, satu porsi minuman boba bisa mengandung 125 - 200 kkal. Itu pun bisa bertambah, tergantung pada campurannya.

Video

Batasan Konsumsi

Oke, boba mungkin kaya akan serat dan bisa melancarkan pencernaan. Karbohidrat dan gulanya juga dapat diolah menjadi energi. Rasanya pun membuat ketagihan.

Tapi, jangan sampai ini jadi alasan untuk mengkonsumsinya terus menerus. Apalagi menjadikannya sebagai asupan cairan utama, menggantikan peran air putih.

Perlu digaris bawahi, kadar gula dalam minuman boba cukup tinggi. Entah dari gulanya, atau dari bahan campuran lainnya.

Pada salah satu merk minuman boba yang sudah cukup lama berkiprah di Indonesia, misalnya, mengandung 25 gram gula. Padahal, batas konsumsi gula yang dianjurkan hanya 50 gram per hari.

Ilustrasi pedagang menuangkan Boba. Foto: Getty Images

Asupan gula yang berlebihan dapat meningkatkan risiko penyakit diabetes, penyakit jantung, dan menyebabkan obesitas.

Apalagi, serat pada bola boba juga terbilang tinggi, dan kurang baik bila dikonsumsi terlalu sering. Meski termasuk serat pangan, tapi sekali lagi, serat pangan akan sulit terbawa ke usus besar bila tak diimbangi dengan minum air yang cukup.

Kendati zat alginat adalah senyawa yang bisa membantu membentuk massa feses, namun ia adalah senyawa. Sumber serat yang dianjurkan dan paling baik bagi kesehatan tetaplah sayuran dan buah-buahan.

Untuk meminimalisasi dampak negatif yang bisa ditimbulkan dari konsumsi minuman boba, ada baiknya untuk mengkonsumsi minuman yang beragam jenisnya. Dengan demikian, kita bisa mencegah terjadinya penumpukan zat-zat yang tak diinginkan tubuh.

“Lebih baik jangan tiap hari, misalnya seminggu dua kali saja. Minum jenis minuman yang lain untuk diversifikasi,” pungkas Prof. Nuri.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.60