Pencarian populer

Cakue Ko Atek: Cakwe Legendaris di Tengah Lorong Sempit Pasar Baru

Cakue Ko Atek di Pasar Baru Foto: Safira Maharani/ kumparan

Teriknya matahari siang itu tak menghalangi kami untuk makan enak di Pasar Baru. Kawasan yang berada di pusat Jakarta ini memang lebih dikenal sebagai sentra tekstil.

Namun, di antara puluhan toko kain yang berjejer, ada lorong-lorong yang dipenuhi oleh berbagai kuliner nikmat dan legendaris.

Salah satunya, kios Cakue Ko Atek. Bagi mereka yang sering bertandang ke Pasar Baru, tentu tak asing dengan sosok laki-laki baya yang kerap memamerkan kemahiranya dalam menguleni adonan cakue.

Ko Atek, namanya. Ia adalah penjaja cakue yang sudah berjualan di Pasar Baru sejak tahun 1971.

Cakue Ko Atek di Pasar Baru Foto: Safira Maharani/ kumparan

Kiosnya hanya berupa bilik kecil dengan dinding triplek warna hijau. Setiap sisi dindingnya dipenuhi dengan aneka tempelan; ada foto Ko Atek bersama istrinya, potret wajahnya semasa muda, hingga berbagai ulasan media.

Sebuah wajan besar penuh minyak diletakkan di pojok depan. Di sampingnya, terdapat sebuah meja kayu; tempat Ko Atek menyiapkan adonan cakue. Sembari menunggu pesanan, kami seakan tengah menonton sebuah demo memasak.

Adonan cakue diuleni hingga mulur Foto: Safira Maharani/ kumparan

Dengan lihai, Ko Atek menguleni dan menarik adonan cakue hingga mulur. Adonan tersebut lalu dipotong-potong dan ditekan bagian tengahnya menggunakan lidi.

"Kalau disediakan meja sepanjang 20 meter juga saya bisa bikin sepanjang itu, tinggal sediakan mejanya saja," cetusnya saat ditemui kumparan.

Adonan cakue langsung mengembang begitu dimasukkan ke dalam minyak panas. Warnanya pun berangsur-angsur berubah jadi kuning keemasan.

Adonan cakue sedang digoreng Foto: Safira Maharani/ kumparan

Kress! Tekstur renyah langsung terasa begitu cakue digigit. Bagian dalamnya berongga, tapi tak padat, membuatnya tetap ringan. Untuk menikmatinya, tersedia saus dari campuran cuka dan cabai untuk menambah rasa cakue.

Sausnya terasa asam dan sedikit manis. Samar-samar tercecap sedikit rasa pedas, menyatu dengan gurihnya cakue.

Cakue yang sudah matang Foto: Safira Maharani/ kumparan

Selain cakue, Ko Atek juga menjual kue bantal. Proses pembuatannya tak kalah unik, masih menggunakan botol sebagai gilingan. Adonan yang sudah dipotong persegi digiling hingga pipih, lalu digoreng hingga mengembang.

Kulit luarnya berwarna keemasan. Tak seperti kue bantal pada umumnya, permukaannya tak dilapisi dengan taburan wijen.

Kue bantal buatan Ko Atek Foto: Safira Maharani/ kumparan

Tekstur luarnya renyah, sedangkan bagian dalamnya kopong. Tak berongga sama sekali. Manisnya pun pas, tak membuat eneg.

Tiap buah cakue dan kue bantal ini dibanderol seharga Rp 5 ribu.

Meski Ko Atek hanya dibantu oleh satu orang pegawai, ia tak terlihat kewalahan sama sekali. Bahkan, jumlah pesanan yang membeludak bisa disiapkannya dengan cekatan.

Ko Atek sedang menyiapkan adonan cakue Foto: Safira Maharani/ kumparan

Sesekali, ia melempar celotehnya kepada pembeli yang tengah mengantre. Mengajak mereka bercengkrama, ditemani aroma harum cakue yang baru matang di tengah riuhnya pasar.

Tertarik untuk mampir di kios Cakue Ko Atek? Sebaiknya datanglah sekitar pukul 11.00 WIB karena belum banyak pembeli yang datang memesan.

Cakue Ko Atek

Alamat: Jl. Belakang Kongsi No.31, Pasar Baru, Jakarta Pusat (belakang Bakmi Gang Kelinci Pasar Baru)

Jam buka: Setiap hari, (pukul 10.00 - 14.00 WIB)

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.63