Pencarian populer

Komunitas Foodies Jangkrik Kuliner, Tak Cuma Ingin Jadi Food Reviewer

Komunitas foodies Jangkrik Kuliner (Foto: Instagram/ @jangkrikkuliner)

Foodies atau pengulas makanan yang kerap wara-wiri di media sosial, telah menjadi salah satu hobi yang dianggap menjanjikan. Bahkan, tak sedikit yang menjadikannya sebagai sebuah profesi.

Jalan-jalan untuk mencoba beragam makanan, mencicipi aneka hidangan yang sedang viral, hingga diundang ke acara-acara pembukaan restoran, merupakan ladang yang menggiurkan untuk orang banting setir menjadi foodies. Padahal, di balik semua itu, diperlukan usaha yang keras dan konsisten untuk merintis karir sebagai seorang penikmat makanan.

Ya, menjadi seorang foodies tak cuma sekadar asal jepret dan mengunggah foto makanan ke media sosial, diperlukan skill fotografi yang tangkas serta ulasan tajam saat mencoba suatu makanan. Pasalnya, foodies cukup jauh berbeda dengan food blogger.

Mereka tak memiliki blog sendiri, namun memanfaatkan media lain seperti situs-situs kuliner atau media sosial, sehingga harus tahu cara memaksimalkan ulasan atau review-nya dalam tulisan yang singkat, namun tetap jelas dan informatif. Bukan cuma itu, meski terkesan mudah dan sepele, tapi foodies juga harus mampu menggugah selera makan para followers-nya, tanpa menanggalkan kejujuran mereka hanya demi keinginan pasar.

Menariknya, para foodies tersebut biasanya juga memiliki kelompok atau komunitas yang beranggotakan sesama foodies lainnya. Salah satu komunitas foodies yang baru malang melintang di dunia food review adalah Jangkrik Kuliner.

Komunitas foodies Jangkrik Kuliner (Foto: Instagram/ @jangkrikkuliner)

Meski umurnya terbilang masih sangat muda--kurang dari satu tahun, namun komunitas yang beranggotakan 14 orang ini telah memiliki lebih dari 13 ribu followers di Instagram. Tak cuma telah diundang oleh berbagai restoran, Jangkrik Kuliner bahkan sempat ikut serta dalam pembuatan film Aruna dan Lidahnya yang diperankan oleh duet artis kondang Dian Sastro dan Nicholas Saputra.

Penasaran dengan kisah seru komunitas pecinta makanan yang satu ini? Yuk, simak obrolan kumparanFOOD bersama Jangkrik Kuliner berikut ini:

Bagaimana awal mula terbentuknya komunitas Jangkrik Kuliner?

Jangkrik kuliner pertama terbentuk sekitar bulan September tahun lalu. Awalnya, kita tidak saling kenal satu sama lain, dan sama-sama menjadi reviewer di salah satu situs kuliner, yakni pergi kuliner. Kemudian, kami disatukan dengan cara diajak makan bersama, menjelajahi berbagai destinasi kuliner dengan pihak pergi kuliner.

Rutinitas tersebut yang pada akhirnya membuat kita tergabung dalam satu komunitas. Selain itu, usia dari sebagian besar member memang hampir mirip atau sepantaran, jadi mudah cocok atau nyambung satu sama lain. Nah, yang awalnya hanya 5 orang saja, semakin lama semakin berkembang, dan kini bertambah menjadi 14 orang.

Apakah sebagian besar member Jangkrik Kuliner memang merupakan foodies?

Sebenarnya dari 14 member tersebut tidak ada yang benar-benar full foodies, kalaupun ada, hanya satu orang saja. Sisanya justru kerja di kantor, atau punya usaha sendiri, dan ada yang ibu rumah tangga. Tapi, semuanya suka makan, dan punya akun Instagram masing-masing yang isinya makanan. Hobi makan itulah yang menyatukan kita menjadi sebuah komunitas.

Komunitas foodies Jangkrik Kuliner (Foto: Dok. pribadi Jangkrik Kuliner)

Darimana asal mula nama Jangkrik Kuliner?

Nama Jangkrik Kuliner sendiri sebenarnya dikasih sama orang pergi kuliner. Nah, pihak dari pergi kuliner tersebut sering mengajak kita untuk makan bareng, tapi karena kita tidak punya nama, jadi saat dichat di grup Whatsapp, cuma menyapa “Hei, halo”.

Nah, saat pihak pergi kuliner tersebut sudah memberikan sapaan, kita pasti akan langsung menanggapinya dengan “Jangkrik bos, mau ditraktir kemana nih”. Dari situ, pihak pergi kuliner memberikan usulan, “Udah deh, nama kalian Jangkrik aja, kayak Warkop DKI, apa-apa jawabnya jangkrik, bos.” Dan, terciptalah nama Jangkrik Kuliner.

Apa ciri khas yang dimiliki oleh Jangkrik Kuliner?

Mungkin lebih ke gaya foto yang digunakan oleh kita, ya. Jadi dalam setiap foto yang diunggah itu tidak pernah diberi watermark dengan nama Jangkrik Kuliner, tapi lebih ke nama individu atau masing-masing anggota. Selain itu, gaya foto kita juga berbeda-beda, karena dari 14 orang tentunya memiliki selera masing-masing yang berbeda, dan tidak bisa disama ratakan selera fotonya.

Misalnya, 5 orang lebih suka gaya foto dengan nuansa gelap, sedangkan sisanya lebih suka yang terang. Dan, harus diingat, bahwa Jangkrik Kuliner disatukan karena berbeda-beda, jadi ya, lo stay true, gue stay true juga.

Hasil foto foodies (Foto: Instagram/ @jangkrikkuliner)

Apa yang menjadi acuan saat hendak mengulas makanan?

Jadi, kita hampir setiap hari mencari makanan, dalam arti, entah itu makanan yang lagi viral, ya kita ikut mencoba juga agar tidak ketinggalan. Tapi kalau ada restoran enak yang belum banyak orang tahu, kita juga pengen coba, dan gak melulu kita dibayar sih. Contohnya ada tukang kwetiaw goreng yang enak tapi tidak ada yang kenal. Jadi kita gak harus selalu milih yang bintang lima terus.

Bagaimana cara menjaga kejujuran saat mengulas makanan?

Selain itu, kita biasanya ngasih review sejujur mungkin. Kalau memang enak ya enak, kalo kita dibayar mahal tapi nggak enak, ya sorry aja kita nggak akan review rasanya. Kita nggak mau follower kita kecewa ya.

Atau, pas kita foto, biasanya kan kalau di iklan-iklan, foto lebih cakep yah dari kenyataan. Nah, untuk beberapa makanan yang tampilannya kurang menarik, biasanya kita minta diperbanyak cuma sayurnya aja, atau kita tambahin sambalnya.

Bakmi yang porsinya kecil, misalnya, bisa kita akalin dengan cara diangkat menggunakan sumpit. Pinter-pinternya kita aja lah. Prinsipnya, Jangkrik Kuliner tidak ingin berbohong masalah rasa dan mempertahankan tampilan asli dari makanan.

Hasil Foto Foodies (Foto: Instagram/ @jangkrikkuliner)

Rencana ke depan?

Usia Jangkrik Kuliner terbilang masih sangat muda, baru mau satu tahun. Nah, untuk rencana jangka panjangnya itu kita ingin dikenal sebagai influencer, bukan hanya food reviewer saja. Kita juga ingin menjadi brand influencer, itu kan maknanya lebih besar ya, kita ingin memberikan pengaruh positif bagi satu brand atau makanan.

Misalnya, saat seorang influencer yang sudah terkenal hanya mengatakan “Teh ini enak lho”, orang-orang langsung berbondong-bondong membelinya. Nah kita ingin memberikan hal-hal positif untuk klien kita.

Komunitas foodies Jangkrik Kuliner (Foto: Dok. pribadi Jangkrik Kuliner)

Selain itu, kita ingin lebih mengembangkan hobi kita ini menjadi penghasilan, dengan cara yang lebih bagus. Nah, salah satu rencananya adalah ingin bergerak di bidang teknologi, khususnya aplikasi. Namun langkah ini tidak singkat ya, mungkin 5 tahun.

Sehingga, Jangkrik Kuliner saat ini sedang gencar melakukan branding dan networking. Nantinya bila sudah cukup dikenal dan memiliki koneksi pemilik restoran yang sudah banyak, project aplikasi tersebut dapat mulai dirintis dan diwujudkan.

Itu aja sih, tidak ingin hanya sekadar menjadi food reviewer saja, namanya juga kan jaman berubah ya, nanti akan muncul yang lebih bagus.

Bagaimana menurutmu? Tertarik untuk memulai karir sebagai foodies?

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.23