kumparan
23 Nov 2018 19:46 WIB

Roti Oles Sambal, ketika Makanan Khas Indonesia Dipadu Kuliner Jerman

Makanan fusion. (Foto: Shutter Stock)
Makanan khas Indonesia dipadu dengan makanan khas Jerman, hmm seperti apa rasanya makanan fusion ini? Seperti roti yang dimakan setelah diolesi sambal.
ADVERTISEMENT
Ya, sensasi makan roti khas Jerman yang telah diolesi sambal ala Nusantara sengaja dihadirkan dalam makan malam yang digelar Goethe Institut. Ini merupakan kegiatan 'Magic Hour Dinner' yang menjadi bagian dari 'Wanderlust Kuche, A Culinary Dialogue', di mana kita bisa menjelajahi budaya kuliner Indonesia dan Jerman.
Snack fussion Indonesia-Jerman (Foto: Nurvita Indarini/ kumparan)
Dalam makan malam yang digelar di Goethe Institut, Jl Sam Ratulangi, Jakarta, Chef Helge Hagemann dari Jerman dan Chef Petty Elliott dari Indonesia menyajikan fusion food dari kedua negara. Sebagai makanan pembuka, disajikan piring berisi aneka snack seperti pretzel dan roti Jerman lainnya, asinan sayur, kerupuk, sambal terong khas Sumba, serta sambal matah kecombrang.
kumparanFOOD yang datang ke acara makan malam tersebut pun mencicipi bagaimana rasa roti Jerman yang dimakan bersama dengan sambal. Sambalnya tidak pedas, dan semburat rasa asin serta wangi kecombrang membuat roti terasa unik. Begitu juga dengan sambal terongnya, sama sekali tidak pedas. Namun untuk asinan sayurnya, menurut kami terlalu asam.
3 ways fish (Foto: Nurvita Indarini/ kumparan)
Selanjutnya hadir 3 ways fish dengan bahan utama ikan baramundi. Di piring yang sama ada pula semacam perkedel kentang dan perkedel daging.
ADVERTISEMENT
Makanan selanjutnya adalah beef tartar rendang sauce. Makanan ini terbuat dari cacahan daging yang disajikan dengan bawang, biji capers, lada, saus Worcestershire, dan bumbu lainnya. Nah, khusus event 'Magic Hour Dinner' beef tartar disajikan menggunakan saus rendang. Ya, saus yang merupakan makanan khas Indonesia. Menurut kami, menu ini sama sekali tidak gagal.
beef tartar rendang sauce (Foto: Nurvita Indarini/ kumparan)
Piring berikutnya hadir ke meja kami. Apa isinya? Ternyata ada slow braised chicken. Ada rasa pedas yang sangat tipis di daging ayamnya. Ternyata cabai hijau dan lada hitam menjadi sumbernya. Bumbu kuning, bawang merah, bawang putih, jahe, kunyit, daun muda pala dan daun muda cengkih membuat rasa daging ayamnya begitu istimewa.
Uniknya lagi, daging ayam ini disajikan dengan bread dumpling, walnut, dan anggur kupas yang dipotong-potong, seperti penyajian makanan khas Jerman atau negara Eropa lainnya. Enak dan cukup mengenyangkan.
Slow braised chicken (Foto: Nurvita Indarini/ kumparan)
Selanjutnya tibalah makanan penutup, caramelized spiced apple. Makanan yang dibuat dengan memadukan short bread disc, serta apel yang dikaramelisasi dengan paduan jahe, kayu manis, dan star anise. Manis, asam, dan hangat.
caramelized spiced apple (Foto: Nurvita Indarini/kumparan)
Bagi Chef Petty dan Chef Helge, memadukan dua budaya dalam makanan adalah hal yang luar biasa. Bagi mereka makanan bisa menjadi topik obrolan yang menyenangkan, lantaran siapa pun bisa bertukar cerita dan pengetahuan.
kesibukan para chef di fusion food yang digelar Goethe (Foto: Nurvita Indarini/ kumparan)
Dunia yang semakin mengglobal rasanya nggak bisa dipungkiri akan semakin banyak melahirkan makanan fusion, hidangan baru yang muncul dari perkawinan makanan khas beda negara. Uniknya lagi makanan fusion yang dihadirkan Chef Petty dan Chef Helge di 'Magic Hour Dinner', sebagian besar bahannya diperoleh di pasar tradisional Indonesia.
ADVERTISEMENT
Apakah kamu termasuk yang suka menyantap makanan-makanan fusion?
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·