Pencarian populer

Banyak Talenta Baru di Stand Up Comedy, Ernest Prakasa Justru Khawatir

Stand up Comedy Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Stand Up Comedy di tanah air telah menjadi salah satu hiburan yang kian mendapat perhatian masyarakat. Hampir setiap bidang di industri hiburan tanah air diisi oleh para pelaku stand up comedy. Mulai dari pembawa acara, aktor, konsultan komedi, penyiar radio, hingga sutradara dan produser. Peluang karier yang begitu luas ini menjadi alasan banyak orang yang terinspirasi menjajal seni komedi tunggal tersebut.

Ajang pencarian bakat di televisi juga kian menginspirasi banyak orang untuk ikut berkarier sebagai seorang stand up comedian. Hal ini tentu menjadi faktor membludaknya talenta-talenta baru di dunia stand up comedy. Ernest Prakasa sebagai salah satu founder komunitas Stand Up Indo justru mengkhawatirkan keadaan tersebut.

Menurut Ernest, banyaknya komika baru yang bermunculan tak sebanding dengan ‘lahan’ yang tersedia. Ia khawatir nantinya akan banyak komika yang tak mendapat kesempatan bersaing di dunia hiburan tanah air. Meski ia sadar hal tersebut merupakan permasalahan alami dari sebuah ekosistem.

“Komik udah terlalu banyak, dulu kan komunitas adalah tempat dimana komika lahir kemudian mereka bisa menjadikan mata pencaharian. Sekarang kan over supply nih, tidak tersalurkan, lah ini gimana,” ungkap Ernest kepada kumparan.

Loading Instagram...

Ernest menilai pemintaan pasar yang tak cukup banyak membuat beberapa komika bisa saja tak mendapatkan panggung. Sehingga sempat timbul kesan bahwa komika hanya terbatas pada nama-nama besar saja. Padahal lebih dari itu, jumlah komika kini membludak, yang tersebar dari berbagai kota di seluruh Indonesia.

“Permasalahannya karena panggungnya tidak cukup banyak untuk mengakomodir semua naik ke atas. Perjalanan ke atas juga kan terjal, banyak kompetitornya, jadi ya perjuangannya keras memang,” ucapnya.

Menurut Ernest, letak geografis juga turut menentukan pekembangan seorang komika. Komika di Jakarta dan sekitarnya akan lebih diuntungkan lantaran pusat industri berada di Jakarta. Sehingga lapangan pekerjaan banyak terbuka.

Peran Comedy Club

Para senior di dunia stand up comedy saat ini mulai mencoba untuk menawarkan langkah solutif dari permasalahan tersebut. Misalnya Pandji Pragiwaksono dengan event mingguan bertajuk Monday Markett. Serta Mo Sidik dengan konsep comedy club yang tengah dibangun.

Ernest berharap kedua hal tersebut bisa berjalan dengan sukses dan sesuai dengan harapan.

“Sebenernya iya (solutif) cuma kan skalanya masih kecil kalau itu nanti bayangkan misalnya sukses banyak yang ngikutin itu kan ngasih suplai yang tadi kita cari, jadi ya berharap itu sukses sih yang dilakukan Mo Sidik kan sama memberi ruang kita ini pelaku terlalu banyak ruangnya gak besar,” jelasnya.

Loading Instagram...

Ya, belakangan Pandji memang sedang fokus pada event stand up comedy show mingguan garapannya bertajuk Comika Monday Markette yang menghadirkan banyak komik.

Menurut Pandji saat ini pasar stand up comedy di tanah air memang sedang tinggi-tingginya. Terbukti dengan meningkatnya peminat stand up show berbayar belakangan ini. Dari harga tiket terendah hingga harga tiket tertinggi.

“Lagi bersedia-sedianya spending secara ekonomi sih gue rasa, lagi cukup solid ya sehingga kemampuan spending-nya lumayan. Kita ngomongin dalam beberapa aspek aja, dalam show tunggal gue, sebut orang sudah bersedia bayar Rp 1 juta,” kata Pandji saat ditemui di acara Monday Markette miliknya.

Bekerja sama dengan salah satu resto di Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Pandji menyuguhkan penampilan stand up comedy dari komika-komika lain yang sudah dipilih berdasarkan kurasinya di stand up show yang rutin digelar setiap senin malam tersebut.

“Kalau lihat akun Stand Up Indo, lu akan sadar hampir setiap hari, yang pasti setiap minggu di seluruh Indonesia ada acara berbayar. Entah itu dari Rp 25 ribu sampai Rp 500 ribu ada terus jadi memang marketnya dibiasain untuk spending,” tambahnya.

Stand Up Comedy di Indonesia Foto: infografik:Putri Sarah Arifira/kumparan

Pandji sadar betul banyak penggemarnya di dunia stand up comedy, namun masih belum mengenal begitu banyak komika lain di tanah air. Menurut Pandji, Comika Monday Markette merupakan ajang dimana dia bisa memperkenalkan komika-komika lain ke para penggemarnya. Sementara kurasi tetap menjadi hal yang penting baginya untuk menjaga kualitas para pengisi di atas panggung tanpa membatasi segmentasi komika.

“Karena memang rata-rata penonton gue enggak tahu, yang lain tahunya cuman gue makanya setiap monday markette banyak yang enggak tahu siapa yang tampil, tapi lucu banget. Itu kebahagiaan gue membagikan komedian Indonesia ke market baru. Disini tiap minggunya (jumlah penonton) meningkat, itu enggak mungkin terjadi kalau mereka enggak puas sama komedinya, enggak mungkin puas sama komedinya kalau enggak gue jaga kualitasnya gitu,” tuturnya.

Bukan hanya panggung off air, lewat media sosial, para komika kini sebenarnya sudah bisa memamerkan beragam karyanya. YouTube misalnya yang kian efektif sebagai tempat untuk berkreasi. Majelis Lucu Indonesia merupakan salah satu yang menerapkan hal tersebut.

Berawal dari perkumpulan para komika yang menyuarakan pesan toleransi, kini MLI berevolusi sebagai sebuah perusahaan pembuat konten yang juga bergerak dalam manajemen talent stand up comedy di tanah air. Ya, bukan hanya sekadar fokus pada pembuatan konten di kanal Youtube pribadi mereka, MLI juga berusaha untuk membuka ruang bagi para komika di daerah-daerah.

Adriano Qalbi salah satu komika yang tergabung dalam MLI mengaku bahwa sebenarnya banyak lahan yang tersedia untuk para komika di tanah air. Di luar stand up comedy, para komika banyak terjun di berbagai bidang industri hiburan tanah air. Misalnya saja industri film yang kini telah dibanjiri oleh para komika mulai dari produser, talent, hingga konsultan ide kreatif.

Loading Instagram...

“Mungkin 70 persen industri hiburan di Indonesia pasti ada temen-temen stand up yang berkecimpung,” ungkapnya.

Kendati demikian Adri dan rekan-rekannya lewat MLI, berupaya untuk bisa menyediakan ruang yang lebih luas lagi bagi para komika lainnya yang memang belum mendapatkan kesempatan. Pria yang juga berangkat dari Stand Up Indo itu mengaku MLI sebagai talent management para stand up comedian, selalu berusaha mencari talent-talent baru yang bisa bersaing di industri hiburan tanah air.

“Ya kita kan bikin kaya perlombaan kompetisi seperti talent management artis aja bedanya ini stand up comedian. Kalau sejauh ini kurasinya apa ya kalau lomba kan semua terbuka untuk umum kalau tamu ya tergantung peran yang cocok atau kita ketemu kebayang target market tertentu, atau nih orang ini bagus dibikinin konten apa, sebatas itu sih gak ada kurasi yang berlebihan,” kata Adri.

Selain lewat kompetisi, MLI yang cukup rajin mengunggah konten ke YouTube juga kerap mencari talenta yang dinilai punya hal yang menarik dalam dirinya. Biasanya hal tersebut kemudian dikembangkan dan menjadi ide utama konten yang mereka garap.

“Mungkin aja (banyak) cuman masalahnya orang itu sudah mulai membuat namanya sendiri belum biasanya kalau dia konsisten buat namanya sendiri ya kita pasti tertarik,” tukasnya.

Loading Instagram...

Presiden Komunitas Stand Up Indo, Andi Wijaya mengaku bahwa industri stand up comedy saat ini sedang seru-serunya. Sebab banyak sekali komika yang merambah ke berbagai lini dunia hiburan di tanah air. Kendati demikian pria yang akrab disapa Awwe ini, tak menampik banyaknya komunitas daerah yang masih kesulitan untuk mendapatkan ruang berkreasi.

Menurut Awwe bentuk paling konkret dari dukungan untuk komunitas adalah dengan cara yang kenalkan dengan istilah ‘menarik gerbong’. Maksudnya adalah para komika yang lebih senior atau berada di pusat ibu kota bisa membantu komunitas di daerah lewat berbagai pencapaian yang sudah mereka raih lebih dulu.

“Misalnya gini, tadinya enggak ada yang bikin special, Pandji kemudian bikin itu, akhirnya kan narik gerbong yang lain kepikiran. Tadinya enggak ada yang tour, Ernest bikin, tadinya enggak ada yang bikin festival, bikin stand up fest akhirnya sekarang di Sulawesi ada Stand Up Fest Celebes, di gunung ada Stand Up Gunung, besok ada di Malang, kayak gitu sih kita narik gerbong supaya semuanya kebawa karena kalau kita bikin satu satu gak cukup,” ucapnya.

Awwe mengeapresiasi langkah yang dilakukan oleh para seniornya. Seperti Pandji dan Mo Sidik misalnya yang bisa saja membuka lahan baru bagi para stand up comedian di tanah air. Dia berharap langkah tersebut nantinya bisa membawa pengaruh positif bagi perkembangan Stand Up Comedy di tanah air.

Oh ya sangat ngebantu sekali, nih pandji kan narik gerbong lagi, selama ini stand up kayaknya buat menengah ke bawah dia bikin (HTM) Rp 250 ribu di GI (Grand Indonesia) yang nonton menengah ke atas, ya ini yang akan kena imbasnya kami semua akan jadi efek domino,” tuturnya.

Soal bayaran yang didapat oleh para komik, Awwe tidak bisa mengklasifikasikannya. Namun yang jelas, apa yang dihadirkan oleh Pandji dan Mo Sidik akan memberi dampak yang besar bagi Stand Up Comedy.

Lebih lanjut, Awwe menyebutkan bahwa hingga saat ini stand up comedy tak mengalami penurunan, baik secara industri maupun komunitas. Bahkan berdasarkan pengamatannya saat ini perkembangan stand up comedy terbilang cukup stabil. Lahan pekerjaan diyakini Awwe juga tak akan menggoyahkan komunitas yang dipimpinnya.

Sebagai presiden, Awwe bahkan selalu menekankan pada rekan-rekannya di komunitas untuk tidak terlalu berpatokan pada materi. Dia bahkan berharap agar stand up comedy nantinya bisa dijalani sebagai hobi. Sehingga para pelakunya bukan sekedar terpikir pada materi dan popularitas semata.

“Gua bilang lu kuliah sambil kuliah aja kerja ya sambil kerja aja tapi ya syukurnya sekarang ada aja jalannya buat anak standup bisa jadi penulis tim kreatif, lu akan kaget liat banyak orang dapet kerjaan dari stand up dan di daerah gitu radio cari penyiar dari anak stand up,” pungkasnya.

Simak tulisan selanjutnya soal ajang silaturahim komedi 'Local Stand Up Day' di topik Dinamika Stand Up Comedy Tanah Air

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.60