kumparan
8 Jun 2018 13:22 WIB

Is Lebih Menikmati Hidup Setelah Hengkang dari Payung Teduh

Is eks Payung Teduh (Foto: Munady Widjaja)
Sejak akhir tahun lalu, Mohammad Istiqamah Djamad atau Is telah memutuskan untuk hengkang dari Payung Teduh, band yang telah membesarkan namanya. Padahal saat itu Payung Teduh sedang berada di puncak popularitas berkat lagu 'Akad' yang sangat laris di pasaran.
ADVERTISEMENT
Setelah hengkang dan membuat proyek musik barunya sendiri, musisi berusia 34 tahun tersebut merasa lebih bebas menikmati hidupnya daripada saat ia berada di Payung Teduh dulu.
"Kenapa saya cabut, karena saya mau begini (menikmati alam dan kemanusiaan). Saya enggak punya waktu begini waktu masih di sana (Payung Teduh)," ujar Is di Pulau Pasir Putih, Desa Tumbak, Pusomaen, Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara.
Baru-baru ini, Is berkunjung ke Desa Tumbak, Kecamatan Pasomaen, Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara bersama dengan relawan dari Dompet Dhuafa, untuk membagikan sekitar 200 parcel bagi warga yang membutuhkan, dalam rangka menyemarakkan bulan Ramadhan dan menyambut hari Raya Idul Fitri 1439 H.
Is "eks Payung Teduh" bersama Dompet Dhuafa (Foto: Aria Pradana/kumparan)
Keputusan Is untuk mundur dari Payung Teduh saat itu memang menimbulkan banyak pro dan kontra. Bukan hanya dari para penggemar setia band asal Jakarta itu saja, namun juga dari orang-orang terdekat Is.
ADVERTISEMENT
Ia mendapat dukungan penuh dari sang istri tercinta soal keputusannya itu. Tapi di sisi lain, Is sempat dianggap sebagai seseorang yang tidak setia kawan.
"Di sini, malah dapat dukungan penuh dari istri, katanya, 'Sudah, jalan sana'," ucap Is.
"(Respons dari personel lain) beragam. Dan lebih banyak yang, 'Woh, apaan sih, enggak peduli teman, ninggalin, sudah ngerjain sampai di sini malah ditinggalin," sambungnya.
Ivan, Is dan Cito 'Payung Teduh'. (Foto: Maria Gabrielle Putrinda/kumparan)
Saat masih berada di Payung Teduh, penyanyi asal Makassar, Sulawesi Selatan itu merasa begitu lelah menjalani pekerjaan yang jadwalnya begitu padat. Ia tak punya waktu untuk melakukan hal lain, terlebih meluangkan waktu untuk keluarga.
"Ketika itu sudah tereksploitasi habis-habisan, dan sudah enggak enjoy soalnya di dalam situ. Semua yang berlebihan itu enggak baik. Bayangin saja, pulang ke rumah, buat ganti isi koper doang. Keluarga saya goyang, pasti kena imbas keluarga dan anak-anak," kenangnya.
ADVERTISEMENT
Kini, setelah menjalankan proyek musik barunya yang bernama Pusakata, Is bisa lebih bisa merasa jadi seorang manusia yang hidup. Menghabiskan waktu bersama keluarga, menikmati keindahan alam, dan juga meluangkan waktu untuk bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.
"Kalau soal kualitas, gue lebih jauh berkualitas hidup gue saat ini, punya waktu beribadah banyak. Kemarin-kemarin lupa mulu kan sama yang di atas, sama yang ngasih rezeki. Ada yang lebih parah lagi, lupa anak, lupa istri, itu bahaya banget. Padahal, itu sebaik-baiknya rezeki yang dikasih sama Allah, hampir saja gue sia-siain mereka," tutup Is dengan nada sendu.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan