Pencarian populer

Kiat Produser Menghadirkan Film di Musim Libur Lebaran

Antusias pengunjung di bioskop. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Momen libur lebaran di tahun 2019 ini kembali diisi lima judul film dari rumah produksi besar tanah air. Salah satunya adalah film ‘Single Part 2’ yang diproduseri oleh Sunil Soraya, lewat rumah produksi Soraya Intercine Films.

Menarik tentunya melihat Sunil Soraya kembali menghadirkan film terbaiknya di libur lebaran. Sudah lama ia tidak merilis film di momen libur lebaran. Padahal, sejak era kebangkitan film nasional di tahun 2000, justru Sunil yang mempopulerkan film lebaran.

Yakni lewat film ‘Eiffel I’m In Love’ di tahun 2003. Kala itu, film yang dibintangi Shandy Aulia dan Samuel Rizal sukses menjaring 3,3 juta penonton. Angka penonton yang sangat fantastis, di tengah persaingan dengan film Hollywood saat itu.

Melalui ‘Single Part 2’ yang menempatkan Raditya Dika sebagai penulis skenario sekaligus pemain, Sunil ingin mengulang kesuksesan kejayaannya.

Namun dengan naik-turunnya jumlah penonton, optimistiskah Sunil dengan hasil yang akan dicapai? Apakah ia masih percaya dengan “kesaktian” film lebaran?

Simak perbincangan kumparan dengan Sunil Soraya berikut ini.

Sutradara dan Produser Film Indonesia, Sunil Soraya. Foto: Dok. Soraya Intercine

Momen Lebaran sebagai pestanya film nasional, bagaimana menurut anda?

Benar, (libur lebaran) memang pestanya film nasional. Makanya (untuk) dapat jadwal tayang di libur lebaran saja susah sekali.

Harus penonton (yang menentukan) mau nonton apa, action comedy? Horror comedy? Drama? Semua genre harus ada.

Apakah Anda kesulitan mendapat jadwal tayang?

Banyak film yang minta juga (tayang) di libur lebaran, ada 30 film mungkin. Jadi, mereka (bioskop) harus mencari film dan rumah produksi yang paling profesional, paling menarik, paling beda dari yang lain. Nah, (film) kita dipilih.

Awalnya saya mengajukan (tanggal) untuk informasi ke mereka, tapi mereka (bioskop) belum bisa bikin apa-apa, kecuali mereka sudah lihat trailer film kita, baru mereka bisa menentukan. Mereka enggak mau beli kucing dalam karung.

Apakah ada bargaining tanggal dengan pihak bioskop?

Sebetulnya, saya rasa semua (film) dapat kesempatan yang sama. Misalnya, tahun lalu dari perusahaan saya, sepanjang tahun menghasilkan kira-kira 8,5 juta penonton dengan film kami. Kalau enggak salah, ada empat atau lima film, jadi mereka melihat dulu dari trailer film yang kami ajukan.

Biarpun kami sudah menghasilkan (penonton) gitu, kalau trailer kita kecil (kurang baik), ‘Ah, kamu payah nih, enggak bagus, nih’. Karena itu saya harus jaga nama saya, jadi orang tahu kalau film saya, orang tahu enggak main-main dan bisa dibuktikan.

Seandainya saya gagal, ya, akan dipertimbangkan lagi tahun depan. Jadi, saya harus keep up terus dengan box office. Kalau kepercayaan (bioskop) turun, kepercayaan penonton juga turun, semua turun. Nah, itu yang susah.

Sunil Soraya, Soraya Intercine Films. Foto: Giovanni/kumparan

Apakah menurut Anda bioskop sudah cukup adil untuk hal ini?

Sangat adil karena mereka itu 'kan sistemnya sudah beda. Semuanya diterima, trailer-nya mereka lihat.

Tahun ini, lima film beda (genre) semuanya, jadi mereka memang adil mencari yang paling baik. Mereka (bioskop) kasih kesempatan dengan melihat trailer-nya gimana...baru setelah itu mereka akan bilang apakah ini yang terbaik atau kalian bisa kasih lebih bagus supaya kita review-nya lebih enak.

Jadi, kita dikasih kesempatan banyak, tinggal gimana performance kita, bagaimana setelah Lebaran tiga hari pertama 'kan sudah bisa kelihatan performance-nya gimana.

Tinggal penonton yang nge-judge. Pas nonton 'Single Part 2' boleh nge-judge, pantas enggak, ini film dibikin? Kalau, ‘Apa ini? Enggak pantas’, sudah, saya kehilangan penonton.

Adakah formula khusus agar film bisa tayang di momen Lebaran?

Kebetulan setiap film saya, saya targetkan untuk selalu menjadi film besar, sehingga saya sangat fokus.

Dimulai dari ceritanya dulu, seru enggak? Menarik enggak? Karena ketika audiens punya banyak pilihan (film), dan saya punya cerita biasa saja, mungkin hari pertama mereka nonton, hari kedua bilang sama temennya, 'Ini kurang, ya'.

Jadi, saya berusaha bikin kejutan-kejutan di film saya supaya orang enggak merasa bosan. Orang duduk di bioskop itu tahu apa yang mereka lihat sampai selesai filmnya.

Nah, itu yang paling penting. Mereka bilang ke temennya, 'Bagus nih, filmnya'. Nah, review itu yang paling penting.

Adakah genre tertentu yang bisa laris di momen Lebaran?

Menurut saya, kalau bikin film itu, kita sendiri harus tahu senengnya bikin film apa, kita ngertinya bikin film apa. Kalau kita bikin film yang kita ngerti itu, akan lebih baik.

Kalau kita bikin sesuatu untuk orang Indonesia, ada 260 juta penduduk, kan kita enggak tahu setiap orang sukanya apa.

Tapi, kalau kita kasih tahu cerita pribadi kita, kita keluarkan secara khusus di film, yakin enggak ada cerita yang mirip, kejadian yang pernah terjadi, relate, orang bisa ngerasa ‘Gue juga gitu’.

Itu kenapa kita ngeluarin film ‘Single’. Kenapa ‘Single’? Banyak sekali jomblo di luar sana. Gimana kita mengemasnya, itu basic-nya.

Aktor Raditya Dika saat hadir di press screning film Single Part 2 di Plaza Senayan, Jakarta, Sabtu, (1/5). Foto: Ronny/kumparan

Jadi, genre tidak berperan penting?

Kalau buat saya, enggak, karena penonton penginnya selalu ada sesuatu yang...berbeda.

Mengenai perubahan angka penonton film di momen Lebaran yang naik-turun, apa penyebabnya?

Kalau saya bilang, saya punya film (penontonnya) turun pasti ada kesalahan dari saya. Pasti ada kesalahan dari ceritanya, pasti ada sesuatu yang saya enggak buat karena kompleks untuk bikin satu skenario itu

Bukan hanya cerita yang bagus, cerita yang bagus itu pasti nomor satu, tapi gimana orang setelah nonton, apakah mereka merasa sudah mendapat sesuatu dari cerita ini?

Kalau mereka enggak merasa, ‘Oh, mereka ngelucu doang, sudah, goodbye’. Entar bisa nonton di YouTube juga, kenapa harus ke bioskop?

Jadi, saya punya moral value dari karakter tersebut di akhir film, jadi ada moralnya. Orang yang nonton bisa terinspirasi dengan karakter saya. Kalau itu enggak ada koneksi, film itu enggak pantas main di layar lebar.

Buat apa main di 300 layar kalau saya enggak punya koneksi sama penonton? Penonton harus dapat sesuatu.

Jadi, balik lagi ke filmnya?

Ceritanya sebetulnya. Filmnya, karakternya, pembentukan karakter 'kan kita lihat tiap minggu ada film, tapi dari satu tahun paling besar, berapa kita dapat? 5 persen, 7 persen film yang benar-benar membludak.

Saya 'kan selalu targetkan film saya di dalam 2-3 persen itu, jadi tugas saya itu lebih konsentrasi. Itu penting sekali.

Infografik Adu Kuat Film Musim Lebaran Foto: infografik:Putri Sarah Arifira/kumparan

Apakah mungkin jumlah penonton turun di momen libur Lebaran?

Kadang (libur) Lebaran bisa drop juga, tapi bagusnya Lebaran adalah, keluarga. Orang pengin nonton tapi jangan kecewakan mereka, mereka sudah punya duit untuk nonton, jangan mereka nonton terus mereka maki-maki kita. Lebaran berikutnya, mereka males, jadi harus dijaga.

Anda tidak masalah dengan banyaknya film yang tayang di momen Lebaran?

Tidak. Justru bagus, audiens ingin liburan dan mereka punya pilihan...mereka jadi enggak bosan duduk di rumah, bisa nonton terus.

Apakah 'Single Part 2' memang sudah dipersiapkan untuk tayang saat Lebaran?

Sudah seperti itu dari satu tahun lalu, jadi kami memang sudah request tanggal. Setahun yang lalu, kami sudah persiapkan film Lebaran.

Film ini 'kan di-review dulu sama bioskop, dilihat trailer-nya, isinya. Kalau kita punya film enggak bagus, enggak bakal pantes main di hari Lebaran. Mereka juga advice, 'Percuma nih, main', karena setiap perusahaan mau bikin film yang kuat buat Lebaran supaya entertainment buat penonton maksimal. Saya berusaha untuk itu.

Berapa target penonton Anda untuk 'Single Part 2'?

Saya enggak pernah taruh target, enggak suka (kasih) target. Buat saya, paling seneng sih, kalau penonton itu ketawa-tawa di bioskop. Kalau mereka ketawa, pasti bilang sama temen-temennya 'kan, 'Lucu ini film, nih'. Saya tahu itu bakal ada.

Susah target penonton juga karena bioskop tambah terus. Saya juga enggak sangka 300 bioskop dikasih (untuk 'Single Part 2').

Tiap minggu buka gedung terus, saya belum pernah denger nih, banyak bioskop baru, dan bioskop baru dibuka, orang daerah yang (sebelumnya) enggak punya bioskop seneng dia, tapi kalau itu orang dikasih film yang (basi), Tuhan juga enggak bisa bantu.

Apakah 'Single Part 2' bisa mengulang kesuksesan 'Eiffel I'm In Love?'

Bebannya sih, besar sekali, tapi kali ini saya memang ubah total. Kami bikin cerita yang baru, jokes, komedi yang baru, semua baru, itu yang paling penting. Saya sudah siap senjata film baru, itu sudah ready, tinggal penonton suka atau enggak.

Kami komedinya beda, kami masuk ke level lain kali ini, masuk level dialog, level kejadian yang belum pernah dilihat, yang edgy. Jadi, kalau dilihat jangan kaget, banyak hal yang enggak bisa ditebak, benar-benar (komedinya) dari skrip, tapi juga di lapangan.

Kadang kalau dicoba, skripnya kok, jadi aneh, ya? Kami ganti deh, itu perlu karena komedi itu paling susah. Apa yang orang anggap lucu sama yang kami anggap lucu, 'kan beda.

Ditunjang dengan promosi?

Harus, kita memang mempersiapkan (promosi) supaya orang ingat dan lihat. Promosi terbesar kita ada di bus, kereta, billboard dan macam-macam..,tentunya juga di sosial media.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.32