Pencarian populer

Alasan Kenapa Anda Tetap Perlu Memberi Anak Mainan Meski Ada Gadget

Mainan anak balok (Foto: Pixabay)

Pemandangan anak bermain dengan ponsel atau komputer tablet jelas bukan hal yang baru. Apalagi semakin banyak tontonan dan aplikasi di gadget yang memang diperuntukkan buat anak. Namun, orang tua seharusnya tidak serta-merta menggantikan mainan anak dengan gadget.

"Mainan telah mengalami perubahan selama bertahun-tahun, dan iklan mainan virtual atau berbasis digital dapat membuat orang tua menganggap mainan seperti itu lebih edukatif," kata Aleeya Healey, penulis laporan Selecting Appropriate Toys for Young Children in the Digital Era yang dipublikasikan di jurnal Pediatrics (2018).

Mainan seperti boneka, bola, puzzle, balok kayu, alat-alat menggambar, dan buku cerita anak, sejatinya memang jangan sampai benar-benar ditinggalkan karena manfaatnya yang memang tak diragukan lagi. Bahkan American Academy of Pediatrics (AAP) pada awal Desember 2018, mengeluarkan sebuah siaran pers untuk mengingatkan kembali pentingnya mainan anak, Moms.

AAP mengungkap, bahwa mainan lebih baik daripada mainan di dalam gadget atau konsol game untuk mengasah imajinasi dan perkembangan kesehatan anak.

"Penelitian memberi tahu kita bahwa mainan terbaik tidak perlu mencolok atau mahal atau memiliki aplikasi. Mainan yang sederhana, dalam hal ini, benar-benar lebih baik," ujar Healey lagi.

Anak bermain LEGO (Foto: Thinkstock)

Adapun kriteria mainan yang ideal menurut AAP di antaranya adalah mainan yang dapat mengimbangi perkembangan kemampuan anak, sekaligus memacu mereka untuk melatih kemampuan baru. Mainan seperti ini bisa berperan penting untuk mengembangkan otak dan kemampuan anak seperti kemampuan interaksi bahasa, memahami simbol, menyelesaikan masalah, interaksi sosial, dan mendorong anak untuk melakukan aktivitas fisik.

Fungsi-fungsi mainan tersebut tidak bisa terpenuhi oleh mainan elektronik. Selain itu, bermain dengan gadget juga tidak memberi sarana, agar orang tua bisa terlibat dalam permainan anak. Bahkan yang terjadi yakni mengurangi keterlibatan orang tua. Contohnya, buku-buku yang dulu dibacakan oleh orang tua pada anak, kini bisa dibacakan secara otomatis oleh gadget.

"Mainan terbaik adalah yang mendukung (komunikasi) orang tua dan anak-anak saat bermain, saling bermain peran dan berinteraksi bersama," kata Alan Mendelsohn, salah satu penulis laporan dan associate professor di Departments of Pediatrics and Population Health di NYU Langone Health.

Mainan bayi perlu sering dibersihkan (Foto: Shutterstock)

"Anda tidak akan mendapatkan hal yang sama dengan menggunakan tablet atau gadget lain. Dan ketika anak-anak bermain dengan orang tua, saat itulah keajaiban yang sebenarnya terjadi, baik saat mereka berpura-pura menjadi suatu karakter dengan mainan mereka atau saat mereka membangun balok atau memecahkan teka-teki bersama orang tua."

Tapi bukan lantas memberi anak sebebas-bebasnya ya, Moms, karena AAP pun menyarankan agar mainan yang diberikan untuk anak tidaklah yang memberi stimulasi berlebihan, serta harus memberi ruang bagi anak untuk berimajinasi. Penting juga untuk menghindari mainan yang memperlihatkan stereotip gender atau ras.

Lantas bagaimana dengan gadget?

Ilustrasi anak bermain gim eSport. (Foto: Shutter stock)

Waktu menonton TV atau bermain gadget untuk anak-anak juga wajib dibatasi. Anak berusia dua tahun ke atas sebaiknya hanya berhadapan dengan layar satu jam per hari, sementara anak usia 18 hingga 24 bulan jangan diberikan gadget sebagai mainan. Anak-anak yang sudah dibolehkan memegang gadget haruslah senantiasa dibimbing dan diawasi oleh orang dewasa saat bermain gadget.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.32