kumparan
9 Sep 2019 10:59 WIB

Benarkah Cara Bayi Cerna Susu Formula dan ASI Berbeda?

Kondisi darurat pemberian susu formula pada bayi Foto: Shutterstock
Tidak ada satupun susu formula di dunia yang bisa menyamai apalagi menandingi ASI. Ya Moms, ASI adalah makanan terbaik untuk bayi. Namun, bila karena kondisi medis tertentu bayi tidak dapat memperoleh ASI, bayi bisa diberi susu formula untuk sementara waktu. Ini penting, untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya.
ADVERTISEMENT
Tak perlu sedih, ingatlah bahwa kepentingan si kecil harus jadi prioritas dan tidak usah merasa bersalah atau tertekan. Bila kondisi sudah membaik, Anda dapat melakukan relaktasi atau usaha untuk menyusui si kecil kembali.
Sementara bayi diberi susu formula, Anda mungkin juga bertanya-tanya: adakah perbedaan lain selain kandungannya? Atau adakah perbedaan cara bayi mencerna ASI dan susu formula?
Ilustrasi bayi minum susu formula. Foto: Getty Images
Jawabannya, ada, Moms! Mengutip laman BabyCenter, bayi yang diberi susu formula akan meminumnya lebih lama dibanding si kecil yang menyusu ASI.
Alasannya, ASI dan susu formula mengandung protein whey dan kasein. Hanya saja, kandungan whey lebih banyak pada ASI dan jenis protein ini lebih gampang dan cepat dicerna daripada kasein. Sedangkan susu formula mengandung lebih banyak kasein, sehingga buat bayi mencerna dan menyusu lebih lama.
ADVERTISEMENT
Namun yang perlu kita ingat sebagai orang tua, setiap bayi berbeda dan unik! Setiap bayi punya kebutuhan kalori, personal, dan pola tidur yang berbeda. Hasilnya, waktu makan dan bangun tidur pada beberapa bayi yang diberi susu formula, dapat sesering bayi yang minum ASI.
Ilustrasi susu formula bayi. Foto: Getty Images
Demikian menurut Jatinder Bhatia, kepala neonatoligi di Georgia Health Sciences University, AS, serta selaku juru bicara American Academy of Pediatrics (AAP).
Karena itu, bila anak Anda konsumsi susu formula dalam jumlah lebih banyak atau sedikit dibanding anak teman, jangan merasa khawatir dulu. Yang terpenting adalah selalu berada dalam pengawasan dokter anak, mulai dari keputusan memberi anak sufor hingga perkembangan kondisinya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan