kumparan
16 Jan 2018 15:16 WIB

Cara Meredakan Emosi Anak

Kritikan membuat anak diselimuti emosi negatif. (Foto: Thinkstock)
Anak mudah marah jika sesuatu yang diinginkannya tidak terpenuhi. Mood-nya pun akan berubah. Sayangnya, sebagian orang tua tidak menyadari bahwa kemarahan pada anak adalah emosi normal yang pasti dialami oleh semua anak.
ADVERTISEMENT
Hal itu membuat orang tua bingung hingga putus asa menghadapi anak saat marah. Tak jarang orang tua juga ikut berbalik marah pada anaknya. Agar kemarahan menjadi energi yang positif, yuk simak beberapa tips berikut.
1. Anak Marah Ketika Keinginannya Membeli Sesuatu Ditolak
Anda dan anak sedang akan mengunjungi sebuah toko. Sebelum Anda berkunjung ke toko tersebut buat komitmen bersama anak, mainan apa saja yang boleh dia beli. Namun, ketika berada di toko anak berubah pikiran. Anak marah bahkan dia menangis.
Yang harus Anda lakukan: katakan padanya bahwa dia hanya bisa memilih dan membeli mainan sesuai dengan komitmen di awal. Jangan turuti keinginannya jika tidak sesuai dengan komitmen. Katakan padanya bahwa dia tidak mendapatkan apapun, jika dia tidak segera meredamkan amarahnya atau menghentikan tangisan di toko tersebut.
ADVERTISEMENT
Namun, jika amarahnya tidak mereda cobalah untuk pergi dari toko tersebut. Dikutip dari Youngparents, memperingatkan anak itu artinya memberinya kesempatan untuk mengendalikan emosinya. Begitu juga sebaliknya, tidak membeli barag yang tidak sesuai dengan perjanjian di awal melatih anak belajar komitmen pada apa yang telah dia sepakati. Sewaktu-waktu, orang tua perlu memperlihatkan marah kepada anak. Tapi ingat Moms, ekpresikan kemarahan Anda dengan cara yang benar.
2. Anak Marah Karena Berebut Mainan
Teman anak Anda berunjung ke rumah. Namun, anak Anda marah ketika salah satun mainannya dipinjamkan oleh temannyaa tersebut. Bahkan dia hendak memukul temannya tersebut. Anda sebagai orang tua dapat mengubah situasi ini menjadi pelajaran yang positif untuk anak. Yang perlu Anda lakukan adalah segera beritahu pada anak bahwa dia harus berbagai mainan bersama temannya atau memintanya bermain bergiliran.
ADVERTISEMENT
Beritahu anak juga agar tidak memukul ata berteriak kepada temannya. Ingatkan anak, jika dia tidak merasa senang akibat temannya meminjam mainan yang paling dia sukai, dia harus mengatakan pada temannya tersebut dengan cara yang baik. Dengan cara itu orang tua dapat menuntun anak lebih konstruktif mengendalikan kemarahannya.
3. Anak Lebih Memilih Nyemil Pada Waktu Makan Beratnya
Tiba saatnya waktu makan siang, namun anak Anda lebih memilih makan ringan dan marah saat Anda tidak memberikannya. Agar tidak terjadi secara terus-menerus, Anda harus membuat aturan tentang waktu makan.
Beritahu anak tentang aturan tersebut, kapan dia waktunya makan berat dan kapan waktunya dia makan ringan. Di lain waktu, bisa saja anak kembali melanggar jadwal makan yang telah ditentukan, tapi Anda sebagai orang tua harus tetap berpegang pada rencana dan aturan yang telah Anda buat.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan