Lebih Baik Mana, MPASI Bayi Diparut atau Ditumbuk?

16 April 2019 9:51 WIB
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
MPASI bayi. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
MPASI bayi. Foto: Shutter Stock
ADVERTISEMENT
Pada awal pemberian MPASI, orang tua disarankan untuk memulainya dengan makanan yang bertekstur lumat terlebih dahulu. Tekstur ini dipertahankan hingga bayi berusia 9 bulan. Setelah lewat dari usia itu, Anda bisa menaikkan tekstur makanannya perlahan menjadi lembek, hingga akhirnya di umur 1 tahun, si kecil sudah bisa mengkonsumsi makanan keluarga.
ADVERTISEMENT
Untuk melumatkan makanan pada awal MPASI, ada beragam metode yang bisa Anda pilih. Misalnya dengan cara ditumbuk dan diparut. Tapi, manakah yang lebih baik dari kedua cara itu?
Menurut penjelasan dokter anak yang praktik di Rumah Sakit Awal Bros Bekasi Barat dan Rumah Sakit Permata Bekasi, dr. Ayi Dilla Septarini, baik ditumbuk atapun diparut sebenarnya sama baiknya dan boleh digunakan untuk mengolah MPASI.
"Boleh diparut dan ditumbuk," ujar dr. Ayi Dilla Septarini, Sp.A saat ditemui kumparanMOM dalam seminar "Masak MPASI, Yuk!" di Graha Sartika Wulansari Bekasi (7/4).
Metode yang tidak disarankan untuk mengolah MPASI, kata dr. Dilla sapaan akrabnya, adalah dengan cara diblender. Menghaluskan MPASI dengan cara diblender membutuhkan banyak air. Akibatnya, selain volume makanan bayi yang menjadi lebih besar karena sudah tercampur dengan banyak air, nilai kalori dalam MPASI juga jadi berkurang. Sehingga berat badan si kecil sulit bertambah, Moms.
ADVERTISEMENT
"Tidak disarankan diblender. Pertama blender membutuhkan air supaya pisaunya bergerak. Begitu dikasi air, ibarat susu diencerkan kalorinya lebih rendah, umumnya itu menyebabkan berat badan badan bayi tidak naik atau naik sedikit," katanya.
MPASI yang diblender juga terlalu halus teksturnya sehingga bayi sulit saat peralihan tekstur makanan dari halus menuju kasar nantinya. Bahkan lebih buruknya, pertumbuhan gigi bayi juga terhambat karena tidak terbiasa mengunyah makanan.
"Kedua teksturnya lebih halus, kalau teksturnya halus bayi sulit naik tekstur di kemudian harinya karena dia enggak biasanya mengunyah. Hanya menelan menelan saja. Ketiga tidak merangsang gusi untuk mengunyah, jadi tumbuh giginya lebih lama. Itu kerugiannya pakai blender," tutup dr. Dilla.