kumparan
10 Jan 2018 18:31 WIB

Pemerhati Pendidikan: Tak Semua PAUD Buruk

Anak beraktivitas di daycare. (Foto: Thinkstock)
PAUD tentu jadi salah satu kata yang akrab dan sering jadi bahasan orang tua dengan anak balita. Namun, baru-baru ini cuitan seorang pria yang bernama Jiemi Ardian di Twitter menuai kontroversi di kalangan orang tua. Cuitan akun @jiemiardian yang dituliskan pada hari Jumat (5/1) mengatakan Pendidikaan Anak Usia Dini (PAUD) bukanlah pendidikan anak, melainkan sebuah bisnis yang mengatasnamakan pendidikan anak.
ADVERTISEMENT
Dalam akun tersebut Jiemi juga menyalahkan cara ajar yang diterapkan oleh PAUD yakni memberikan PR kepada anak. Bahkan, menurutnya PAUD jadi tempat belajar yang ‘memaksa’ anak agar bisa membaca, menulis dan berhitung.
Cuitan dokter Jiemi Ardian tentang PAUD (Foto: Facebook /Dodi K Wibowo )
Jiemi kemudian menyayangkan keputusan orang tua yang akhirnya lebih memilih mendidik anak di PAUD dibandingkan dengan merawatnya sendiri. Namun, Jiemi tidak mau berkomentar banyak soal itu. Dia mengembalikan lagi semua ke tangan orang tua. Sebab segala pilihan ada konsekuensinya.
Dalam cuitan yang telah di-retweet lebih dari 2 ribu kali dan mendapat jempol dari 2 ribu akun warganet itu, Jiemi juga mengajak para orang tua agar tidak menyekolahkan anak di usia. Karena menurutnya, yang dibutuhkan anak adalah orang tua sebagai pendidik ideal anak —bukan PAUD.
Cuitan dokter Jiemi Ardian tentang PAUD (Foto: Facebook /Dodi K Wibowo )
Pendidik dan Pemerhati Pendidikan, Weilin Han, menyayangkan cuitan Jiemi tersebut. Menurutnya tidak semua PAUD seperti yang diungkapkan oleh Jiemi. "Keliru bila langsung disamaratakan seperti itu. Jadi, ada benarnya, tapi ya, tidak semua seperti itu," ujar Weilin saat dikonfirmasi kumparan (kumparan.com), Rabu (10/1).
ADVERTISEMENT
Namun, Weilin setuju dengan cuitan Jeimi soal pola sebagian PAUD yang memberikan PR kepada anak. Menurut Weilin itu adalah sebuah kesalahan. Sebab, anak usia dini seharusnya dilatih dengan mengajarkan kebiasaan sederhana sehari-hari agar kelak dia menajadi pribadi yang mandiri. Seperti melipat baju sendiri, mengikat tali sepatu sendiri, bukan dengan memberikan PR seperti menghafal. Hal itu tentu terlalu membebankan anak usia dini
"Saya setuju bahwa pemberian PR di PAUD itu keliru sekali. Usia PAUD adalah usia kalau secara psikologinya disebut dengan tahap pembiasaan. Maksudnya di mana anak justru dibiasakan supaya berkembang otonominya secara psikologis," kata Weilin.
Sebagai catatan tambahan dari penjelasan Weilin, sejak tahun 2016 pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI menganjurkan agar setiap anak untuk mengikuti PAUD setidaknya selama setahun, sebelum masuk jenjang Sekolah Dasar (SD). Tujuannya adalah untuk mewujudkan anak usia dini yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, cerdas, jujur, bertanggung jawab, kreatif, percaya diri, dan cinta tanah air menuju terbentuknya insan Indonesia cerdas komprehensif.
ADVERTISEMENT
Weilin menyetujui tujuan PAUD yang dianjurkan oleh pemerintah tersebut. Menurut dia, saran pemerintah tersebut sudah benar. Namun, jika ada PAUD yang tidak sesuai seperti apa yang diharapkan oleh pemerintah, itu tentu bukanlah kesalahan seluruh PAUD yang ada. Melainkan kesalahan pada sistem sebagian PAUD yang diselenggarakan baik pemerintah atau swasta. Di Jakarta sendiri, saat ini ada sekitar 2.500 PAUD yang tidak terdata dan tidak memiliki izin.
"Dari Direktorat PAUD sendiri sudah benar, lho. Yang jadi masalah, ketika turun ke lapangan bisa saja SDM tidak siap. Lalu ada tekanan dari orang tua. Misalnya seperti yang dokter ini katakan tentang anak perlu bermain. Bila ada PAUD yang ‘cuma ngajak main’ lalu dianggap ‘bayar mahal kok, cuma ngajarin main aja’?Belajar baca dan berhitung juga, dong’. Nah, ini keliru," jelas Weilin.
ADVERTISEMENT
Seorang dosen program studi PAUD Universitas Al-Azhar Indonesia, Nur Fadillah, juga ikut menyayangkan cuitan Jeim yang menyamaratakan PAUD sebagai tempat pendidikan yang buruk. Menurut Nur, PAUD adalah tempat belajar yang penting bagi perkembangan anak.
Nur tidak mengetahui PAUD mana yang dimaksud oleh Jiemi. Sebab istilah lain dari PAUD, begitu beragam. Ada yang menamakan Kelompok Bermain, Taman Kanak-kanak, Pos PAUD, Taman Penitipan Anak, Bina Keluarga Balita, Taman Anak Sejahtera, Raudatul Athfal, dan lain-lain.
Wah, jadi berbicara soal pendidikan anak usia dini memang luas cakupanya ya, Moms. Tak heran bila kerap menuai pro dan kontra baik di kalangan orang tua, praktisi maupun pendidik. Seperti yang diungkapkan oleh seorang pendidik dan pemerhati pendidikan lainnya —Najelaa Shihab, dalam tulisan pada kumparan yang berjudul Semua Murid Semua Guru: Percakapan (dan kebijakan) pendidikan yang tidak mendidik (Bagian 1).
ADVERTISEMENT
Dalam tulisan itu, Najelaa menyebutkan pengalaman pribadi khususnya di bidang pendidikan seringkali menjadi dasar ideologi seseorang dalam berkata dan berorasi. Celakanya, sebagian orang ikut percaya tanpa substansi. Bahkan sebagian orang mempermainkan opini dan asumsi karena ingin membela kepentingan, bukan berpihak pada anak-anak dan masa depan. Yang pasti disepakati, miskonsepsi dan simplifikasi, opini dan asumsi tanpa data dan bukti adalah hambatan perubahan pendidikan.
Nah, menurut Anda sendiri, bagaimana?
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan