kumparan
18 Mar 2018 9:57 WIB

Studi: Bullying Bisa Menyebabkan Obesitas pada Anak

Ilustrasi anak obesitas. (Foto: Shutterstock)
Obesitas merupakan salah satu permasalahan yang angkanya cukup tinggi di Indonesia. Bukan hanya orang dewasa, obesitas juga menyerang anak.
ADVERTISEMENT
Selain pola makan dan gaya hidup tidak sehat, ada lagi yang bisa menyebabkan anak terkena obesitas, yaitu akibat dibully saat memasuki jenjang sekolah dasar, menurut sebuah penelitian yang dilansir Boldsky.
Ilustrasi bullying. (Foto: Thinkstock)
Dalam penelitian yang dipublikasikan di Psychosomatic Medicine, para peneliti memeriksa hubungan intimidasi yang dialami anak dengan peningkatkan berat badan.
Penelitian tersebut melibatkan 2000 anak yang menjadi korban bullying dan berada di tingkat SD dan SMP. Mereka menemukan 28 persen siswa SD dan 13 persen siswa SMP yang menjadi korban bulying ternyata memiliki 1,7 kali lebih mungkin mengalami kelebihan berat badan saat dibully oleh teman-temannya.
Ilustrasi anak cemas (Foto: Thinkstock)
Ketika anak merasa stres akibat dibully, anak yang tidak berani melawan maupun bercerita pada orang tuanya akan melampiaskan emosinya ke makan dan mengemil. Demikian hasil dari penelitian tersebut.
ADVERTISEMENT
Hal inilah yang mencetus obesitas ketika anak memasuki usia remaja nanti. Maka dari saat Anda mengetahui anak sedang dibully oleh teman-temannya, Anda jangan tinggal diam, Moms.
Bantu anak menghadapi masalah ini. Misalnya dengan menjadi pendengar yang baik untuk menampung segala keluh kesah anak, dan hati-hati dalam respon yang Anda berikan. Pastikan respon tersebut tidak membuat anak merasa semakin terpojok dan merasa tidak berharga. Tenangkan anak, dan pastikan Anda memberikan pengertian bahwa diri anak adalah pribadi berharga dan begitu sangat dicintai oleh Anda dan seluruh anggota keluarga.
Ilustrasi Anak dan Ibu (Foto: Thinkstock)
Selain itu, dilansir dari Young Parents, Anda juga perlu memberitahu anak agar segera berbalik badan dan pergi jika teman-temannya mulai membullynya. Tidak perlu berlari, berjalan saja seperti biasa seolah tidak terjadi apa-apa. Kadang-kadang, bersikap tidak peduli adalah hal terbaik yang bisa anak lakukan untuk menghindari olokan dari teman-sepermainannya.
ADVERTISEMENT
Namun, simak secara seksama pula cerita anak, apabila memang sudah parah, inilah saatnya mendiskusikan dengan pihak guru dan orang tua murid.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan