Pencarian populer

Yang Bisa Anda Lakukan untuk Membantu Anak Berteman

Ilustrasi anak bersahabat (Foto: Thinkstock)

Memasuki usia 4 tahun, perkembangan bermain anak beralih dari bermain paralel menuju bermain bersama. Tidak heran kalau pada usia 4 hingga 5 tahun Anda akan mulai mendengar anak dengan bangga menyebut nama anak lain sebagai temannya. Menjadi teman dan punya teman menjadi sangat berarti untuk anak mulai di usia ini hingga berkembang terus pada tahun-tahun selanjutnya.

Tapi tak selalu hubungan pertemanan anak indah. Pasti akan ada juga konflik di antara mereka. Dalam pertemanan, anak akan menemukan juga pengalaman merasa kecewa, marah, bahkan rasa disakiti atau dikhianati. Sebaliknya, bukan tidak mungkin juga anak -disadarinya atau tidak, mengecewakan, menyakiti, atau mengkhianati temannya.

Dikutip dari scholastic.com, itu adalah fase yang normal dalam pertemanan. Itu juga menjadi bagian anak belajar tentang kompleksitas dalam hubungan sosial.

Tapi tak perlu terlalu khawatir, Moms. Umumnya meski mengalami masalah dengan satu atau beberapa teman lainnya, anak tetap punya setidaknya satu teman dekat. Bahkan menurut penelitian, rata-rata di setiap sekolah, pada setiap kelasnya ada sekitar 80 persen anak memiliki teman dekat dan hanya 20 persen tidak memiliki teman atau tidak diterima di suatu kelompok.

Lalu bagaimana kalau anak Anda masuk dalam yang 20 persen itu? Sebagai orang tua, apa yang dapat Anda lakukan bila anak mengalaminya? Anda perlu mengerti atau mencari tahu dulu penyebabnya.

Penelitian menunjukkan bahwa anak tidak memiliki teman umumnya disebabkan tiga hal. Pertama, sebanyak 5 persen anak tidak memiliki teman karena dia ditelantarkan oleh temannya. Kedua, sebanyak 10 persen anak tidak memiliki teman karena ia dianggap selalu menimbulkan kontroversi. Ketiga, sebanyak 5 persen tidak memiliki teman karena anak tersebut pemalu.

Anak-anak yang kontroversial tidak disukai oleh temannya karena dia memiliki kebiasaan yang menjengkelkan, walaupun anak tipe ini memiliki beberapa sifat yang disukai oleh beberapa temannya.

Kemudian, anak-anak yang ditolak adalah anak yang terlalu agresif, sehingga tidak disukai dan akhirnya menarik diri untuk tidak berteman. Dan, anak tidak memiliki teman di sekolah karena dia memiliki sifat pemalu sehingga sulit bergaul dengan teman-teman. Anak tipe ini cenderung siswa yang baik dan sangat dekat dengan keluarganya.

Nah, yang mana pun yang Anda pikir menjadi penyebab si kecil tidak punya teman atau dijauhi bahkan disakit teman-temannya, Anda perlu mendampingi, memantau, mendengarkan, menjadi teman, dan memberikan nasihat yang baik untuk anak agar tetap menjadi pribadi yang baik dan tetap bahagia.

Ilustrasi anak bersahabat (Foto: Thinkstock)

Untuk itu, Anda dapat mencoba melakukan beberapa tips yang dirangkum kumparanMom (kumparan.com) berikut ini:

Jangan Terlalu Khawatir

Moms, jangan khawatir anak disakiti. Sesakit apapun luka yang diberikan oleh temannya, dia tetap akan memiliki kesempatan untuk sembuh saat mereka tumbuh dan menemukan teman baru yang saling mencintai dan saling menerima. Setiap anak mengetahui bagaimana bersahabat yang baik dengan temannya.

Buat Playdate atau Janji Main Bersama

Minta teman-teman Anda yang memiliki anak yang usianya sebaya untuk membentuk suatu perkumpulan anak. Atur dan jadwalkan pertemuan perkumpulan tersebut untuk bermain. Jika ini sering dilakukan, si kecil akan terbiasa dan tahu bagaimana harus berteman. Terpenting, ciptakan suasana yang menyenangkan dan berikan waktu agar mereka saling beradaptasi.

Ajari Anak Menghargai

Jika ada tetangga baru yang pindah di sekitar rumah Anda, undang mereka ke rumah. Perlakukan tamu dengan hormat dan bersenang-senanglah dengan mereka. Anda sebagai orang tua harus memberikan contoh yang baik.

Ini adalah bagian Anda mengajari anak untuk saling menghargai. Beritahu anak bahwa menghargai teman adalah hal yang penting dalam persahabatan.

Ketahuilah Peran Anak dalam Kelompoknya

Jika Anda menduga anak merasa kesepian dan mengalami masalah sosial di sekolahnya, cobalah bertemu dan bicara pada gurunya. Sebab, orang tua jarang memiliki info yang lengkap dan akurat tentang kehidupan sosial anak di sekolah. Tanyakan pada guru bagaimana anak Anda di sekolah, cukup populer kah, berperilaku positif atau malah mengganggu teman-temannya.

Ilustrasi anak bermain (Foto: Thinkstock)

Ajak Anak Berteman dengan Teman di Luar Sekolahnya

Pastikan anak Anda memiliki kesempatan untuk membentuk persahabatan. Jika dia kelihatannya terisolasi disekolah, dia mungkin memerlukan kelompok lain untuk menemukan teman seperti kelas seni, kelas olahraga, atau kelas pramuka.

Ajari Anak Bertanggung Jawab

Jika anak bercerita kepada Anda bahwa dia menyakiti orang lain, bantu dia menyadari bahwa itu salah. Minta anak bertanggung jawab atas kesalahannya dengan meminta maaf terhadap teman yang disakitinya. Ajari anak agar tidak bergosip, membandingkan, mendendam atau kembali menyakiti temannya.

Dengarkan Keluhan Anak

Jadilah teman setia yang selalu mendengarkan cerita anak tentang kehidupan sosialnya. Jangan bereaksi berlebihan terhadap cerita anak. Dan jangan coba menyelesaikan setiap masalah yang dihadapnya.

Bagi anak kecil yang lebih penting adalah orang tua mendengarkan setiap cerita dan keluhanya daripada orang tua memberikan tips atau solusi terhadap masalahnya.

Semoga berhasil, ya!

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Lorem ipsum dolor sit amet 
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit.
11 Desember 2017 · · ·
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.31