1.624 Jemaah Tersasar di Masjid Nabawi, Terbanyak dari Lombok

kumparanNEWSverified-green

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Suasana di Masjid Nabawi saat melakukan ibadah Arbain. Foto: Media Center Haji/Darmawan
zoom-in-whitePerbesar
Suasana di Masjid Nabawi saat melakukan ibadah Arbain. Foto: Media Center Haji/Darmawan

Kasus jemaah tersasar karena terpisah dengan rombongan banyak ditangani oleh para petugas haji di Masjid Nabawi. Jumlahnya untuk gelombang pertama mencapai lebih dari 1.600 kasus, dan terbanyak menimpa jemaah asal embarkasi Lombok atau LOP.

Hal ini disampaikan dalam paparan Kusnul Hadi, kepala sektor khusus Masjid Nabawi, kepada tim Media Center Haji, Minggu (28/7). Dalam catatannya, ada 2.165 kasus yang ditemui sektor khusus Nabawi.

Kasus terbanyak adalah jemaah tersasar sebanyak 1.624 kasus, atau 75 persen dari total kasus. Terbanyak kedua adalah kehilangan sandal sebanyak 320 kasus atau 15 persen. Sisanya adalah jemaah haji sakit (145 orang), barang tercecer (51 kasus), dan kriminal (25 kasus).

Kusnul mengatakan, jemaah Lombok adalah yang paling banyak tersasar atau terpisah rombongan. "Jemaah haji tersesat yang terpisah dari rombongan, Lombok ini perkiraan kami hampir 30 persen," kata Kusnul.

Jemaah Haji Indonesia saat melakukan ibadah Arbain di Masjid Nabawi. Foto: Media Center Haji/Darmawan

Berdasarkan pengamatan, Kusnul menyebut setidaknya ada tiga faktor yang diduga melandasi banyaknya jemaah Lombok yang terpisah rombongan. Faktor pertama adalah tingkat pendidikan jemaah yang rendah, kedua pembinaan sebelum keberangkatan yang perlu ditingkatkan.

"Yang ketiga, tingkat kepedulian sesama jemaah kelihatannya agak kurang dibanding provinsi yang lain. Kalau bisa regu dimanfaatkan untuk membantu keberadaan para jemaah," ujar Kusnul.

Kebanyakan yang terpisah rombongan adalah jemaah usia lansia atau di atas usia 60 tahun. Jemaah lansia yang termasuk dalam risti (berisiko tinggi) berjumlah 68 persen dari total 214.000 jemaah haji reguler Indonesia.

Kusnul mengatakan, nantinya akan dibuatkan pedoman standar untuk memberikan pelayanan yang komprehensif. Standar ini nantinya akan digunakan petugas dalam mengatasi berbagai permasalahan jemaah.