14 Siswa di Solo Dikeluarkan dari Sekolah karena HIV/AIDS

Penolakan terhadap anak pengidap HIV/AIDS kembali terjadi. Kali ini sebanyak 14 siswa di Solo, Jawa Tengah, dipaksa untuk berhenti sekolah karena desakan para orang tua siswa yang enggan menyekolahkan anaknya bersama pengidap HIV/AIDS.
"Para orang tua siswa menolak. Orang tua siswa yang lain nolak karena takut anaknya ketularan. Padahal ini harusnya enggak boleh terjadi ya," ujar Komisioner KPAI Bidang Pendidikan, Retno Listyarti, di kantor KPAI, Jakarta, Jumat (15/2).
Para orang tua enggan menerima anak-anak pengidap HIV/AIDS sebagai teman sekolah anaknya. Padahal, Retno menjelaskan, tak perlu ada yang ditakuti dari anak pengidap HIV/AIDS.
Retno menerangkan, penularan HIV/AIDS tidak semudah yang dipikirkan masyarakat. Menurutnya, penularan HIV/AIDS melalui darah kemungkinan kecil terjadi.
"Ternyata para orang tua itu merasa nanti kalau dia (anak pengidap HIV/AIDS) main, terus jatuh, berdarah. Kalau dia berdarah, anak lain suka nolongin, maka pertemuan darah dengan darah itu bisa menulari," tuturnya.
Retno pun menyayangkan pola pikir para orang tua siswa yang khawatir secara berlebihan itu. Menurut Retno, kekhawatiran tersebut bisa diatasi bersama.
"Sekarang pertanyaan kami, memang anak itu akan jatuh berapa kali sih dalam setahun. Belum tentu jatuh juga. Misal yang dikhawatirkan adalah jatuh atau luka-luka seperti itu," ungkap dia.
"Karena kan anak ini diasuh khusus, karena orang tuanya sudah meninggal. Berarti suruh pengasuh ikut saja dia sekolah. Jadi kalau ada apa-apa sama anak ini ya biar dia (pengasuh) yang nanganin, bukan orang lain," imbuhnya.
Retno menjelaskan, pihaknya telah berkoordinasi dengan dinas pendidikan setempat terkait kasus ini. Namun belum menemui titik terang.
Menurutnya, 14 anak pengidap HIV/AIDS ini juga mendapat perlakukan berbeda saat berada di lingkungan masyarakat. Mereka harus tinggal jauh dari rumah penduduk.
"Anak-anak ini ditempatkan di sebuah rumah yang cukup jauh dari perkampungan, tapi katanya di dalam rumah ini, belum kita datangi, ada semacam tempat bermain. Maksudnya di dalam rumah itu ada prosotan, mainan-mainan itu ada, tapi dia dijauhkan dari rumah penduduk yang lain," terangnya.
14 anak pengidap HIV/AIDS ini merupakan siswa kelas 1-4 di salah satu sekolah dasar negeri di Solo. Mereka sempat tinggal di sebuah rumah khusus anak pengidap HIV/AIDS di Yayasan Lentera, Kompleks Makam Taman Pahlawan Kusuma Bakti, Jurug, Solo. Rencananya, KPAI akan segera mendatangi lokasi dan menindaklanjuti kasus ini.
"Jadi memang ini nanti KPAI akan melakukan pengawasan ke Kota Solo untuk tahu dan penanganan lebih lanjut, karena sampai hari ini, anak-anak ini belum bersekolah," pungkasnya.
