5 Sanksi Baru DK PBB untuk Korut: Batasi BBM hingga Larangan Impor

Dewan Keamanan Persatuan Bangsa Bangsa sepakat memberi sanksi baru bagi Korea Utara, Jumat (22/12). Sanksi ini diberikan sebagai respons dunia terhadap peluncuran rudal Korut 28 November 2017 --yang disebut oleh pemerintah Amerika Serikat sebagai rudal Korut dengan jangkauan terjauh selama ini.
Dikutip dari Associated Press dan BBC, Sabtu (23/12), sanksi tersebut berisi:
Pasokan bahan bakar siap pakai ke Korut akan dibatasi menjadi 500 ribu barel per tahunnya. Sementara itu, bahan bakar mentah akan dibatasi menjadi 4 juta barel per tahun.
Pekerja asal Korut di luar negeri akan dikembalikan ke negaranya dalam waktu 24 bulan.
Larangan impor barang-barang dari Korut seperti mesin dan alat-alat elektronik.
Penindakan keras terhadap penyelundupan batu bara dan minyak ke Korut.
Memasukkan 15 warga negara Korut ke dalam daftar hitam PBB.

Meski begitu, hasil sanksi ini tidak sekeras apa yang diharapkan oleh AS sebagai pihak yang mengajukan resolusi. Pemerintahan Donald Trump, yang diwakili Duta Besar Nikki Haley, sejatinya menuntut agar pasokan sumber energi ke Korut sama sekali dihentikan.
Meski berhasil disepakati, AS sempat menghadapi kritik besar dari Rusia. Salah satu aliansi terdekat Korut tersebut meminta agar kurun waktu pemulangan tenaga kerja Korut dilakukan paling tidak 24 bulan --tidak 12 bulan seperti yang diminta AS. Selain itu, Rusia meminta jumlah warga negara Korut yang dimasukkan hanya 15 ketimbang 19 seperti permintaan AS.
Namun, setelah dua hal itu disepakati, ke-15 anggota Dewan Keamanan PBB setuju penuh terhadap sanksi terhadap Korut, bahkan China yang menjadi aliansi terdekat.

AS Bungah
Menanggapi golnya sanksi ini, Dubes AS untuk PBB Nikki Haley mengatakan bahwa hal tersebut merupakan “cerminan kemarahan dunia terhadap rezim Kim Jong Un”. Selain itu, Haley juga memuji bagaimana DK PBB telah bersatu untuk 10 kalinya dalam melawan rezim Korut yang menolak perdamaian.”
Presiden Trump pun tak tinggal diam. Lewat akun Twitter-nya, ia memuji bagaimana negara-negara bersatu teguh dalam melawan rezim Korut.
“Dewan Keamanan PBB baru saja voting 15-0 memihak pada tambahan sanksi bagi Korut. Dunia ingin perdamaian, bukan kematian!” ucapnya
