Adu Strategi Politik Emak-Emak dan Ibu Bangsa di Pilpres 2019

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sandiaga Uno dan emak-emak. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Sandiaga Uno dan emak-emak. (Foto: Aditia Noviansyah/kumparan)

Pemilih perempuan tengah diperebutkan oleh pasangan calon Jokowi-Ma'ruf Amin dan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Bahkan, perang istilah kini mulai mewarnai jagat wacana publik dan menjadi jualan kampanye di Pilpres 2019.

Kubu Prabowo-Sandi sejak awal mematenkan istilah emak-emak untuk menyebut perempuan Indonesia. Sedangkan, kubu Jokowi lebih memilih untuk menggunakan istilah ibu bangsa.

Dosen komunikasi politik Universitas Indonesia, Ari Junaedi menilai, penggunaan istilah emak-emak dan ibu bangsa merupakan idiom politik yang menjadi strategi politik dari masing-masing kandidat untuk mendekatkan diri dengan calon pemilih, khususnya pemilih perempuan.

“Ibu-ibu memiliki peran penting dalam menentukan preferensi politik sebuah negara, oleh karena itu, pendekatan yang dilakukan oleh paslon dengan menyebut emak-emak atau ibu bangsa, merupakan cara mereka untuk memasarkan diri mereka sendiri, apakah memang emak-emak itu dirasa telah menjangkau khalayak yang banyak, atau ibu bangsa memiliki jangkauan yang lebih banyak lagi,” jelas Ari ketika dihubungi kumparan, Sabtu (15/9).

Menurut Ari, istilah emak-emak dan ibu bangsa memiliki preferensi politik yang berbeda. Ari menilai istilah emak-emak yang digunakan kubu Prabowo-Sandi merupakan upaya paslon tersebut untuk menarik perhatian pemilih dari kalangan ibu-ibu kelas menengah kebawah.

‘’Emak-emak itu kan hanya sebutan untuk masyarakat kategori kebawah, memang mereka juga jadi lapisan paling besar dalam demografi politik Indonesia, sebagian besar memang berada di lapisan itu, emak-emak yang mengetahui realita sesungguhnya, bagaimana harga cabai, berapa harga ayam,” tuturnya.

Aksi demonstrasi barisan emak-emak militan Indonesia di depan Istana. (Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Aksi demonstrasi barisan emak-emak militan Indonesia di depan Istana. (Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan)

Sedangkan kubu Jokowi yang menggunakan istilah ibu bangsa berupaya untuk mengambil perhatian pemilih perempuan dengan cakupan yang lebih luas dan tidak berasal dari kalangan tertentu.

“Ibu bangsa aspeknya lebih luas dan tidak mengacu pada satu golongan tertentu, semua perempuan bisa jadi ibu bangsa, ibu bangsa ini kan menempatkan perempuan dalam tataran terhormat, mau emak-emak, mau sosialita, mau perempuan berpendidikan tinggi, semua itu ibu bangsa,” jelas dia.

‘’Kalau menurut saya, emak-emak itu hanya mendegradasi perempuan hanya pada sampai level emak-emak. Padahal perempuan Indonesia lebih dari itu, mereka punya kategori yang lebih besar yaitu sebagai ibu bangsa,’’ tutup Ari.

Sejumlah ibu hadiri acara Derap Gotong Royong TKN Jokowi-Ma'ruf di Rumah Inspirasi, Jl Tugu Proklamasi 46, Jakarta Pusat, Sabtu (08/09/2018). (Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah ibu hadiri acara Derap Gotong Royong TKN Jokowi-Ma'ruf di Rumah Inspirasi, Jl Tugu Proklamasi 46, Jakarta Pusat, Sabtu (08/09/2018). (Foto: Irfan Adi Saputra/kumparan)