Pencarian populer

Aksi Teatrikal 'Mengemis di Negeri Sendiri' Para Buruh di Surabaya

Aksi teaterikal hari buruh di Surabaya. (Foto: Phaksy Sukowati/kumparan)

Hari Buruh Internasional diperingati oleh ratusan ribu buruh dari sejumlah perserikatan di Jawa Timur. Ribuan dari buruh mengisi acara dengan aksi teatrikal berjudul "Mengemis di Negeri Sendiri" yang menggambarkan aspirasi kondisi kaum proletar ini.

Sekira pukul 10.00 WIB, rombongan buruh dari sejumlah kota kabupaten di Jawa Timur telah berkumpul di Jalan Pahlawan, tepatnya di depan Kantor Gubernur Jawa Timur. Para rombongan buruh luar kota ini datang menaiki belasan bus.

Panggung utama peringatan Hari Buruh memang sudah berdiri tepat di depan kantor sejak Selasa (1/5) pagi. Setelah mereka berkumpul, aksi unjuk rasa dibuka dengan aksi teatrikal.

Dimulainya aksi teatrikal ditandai dengan para buruh pria yang bertelanjang dada membeberkan bentangan kain putih selebar 15 meter x 50 meter di depan panggung utama. Kain putih ini bercoretkan sketsa pulau-pulau nusantara mulai Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, sampai dengan Papua. Menandakan bahwa tanah asal dari para pejuang buruh dan pahlawan yang lahir dari segara penjuru tanah nusantara.

Aksi teaterikal hari buruh di Surabaya. (Foto: Phaksy Sukowati/kumparan)

Narator aksi kemudian memulai ritual nusantara. Para buruh pria bertelanjang dada dengan membawa bendera merah putih ukuran besar menduduki setiap pulau dalam bentangan kain. Hal itu menggambarkan eksistensi para buruh lokal yang mencari nafkah di bumi pertiwi sendiri.

Tak lama kemudian, datang ada buruh pria lain yang mengenakan pakaian rapi, berkemeja dan berdasi. Mereka memerankan kaum kapitalis yang datang dan menginjakkan kaki ke bumi pertiwi. Ratusan kaum kapitalis ini berupaya merebut kibaran bendera merah putih yang dijunjung para kaum proletar pribumi.

Aksi teaterikal hari buruh di Surabaya. (Foto: Phaksy Sukowati/kumparan)

Drama kolosal ini terasa semakin bernyawa berkat latar deklarasi narator yang berapi-api. Aksi saling mendorong antara kaum kapitalis berdasi dan para buruh ini kemudian diceritakan kemudian dimenangi oleh para kaum proletar. Perjuangan gotong royong dan solidaritas para buruh akhirnya berhasil mengusir para kapitalis serta tenaga-tenaga kerja asing.

Drama kolosal tersebut dilanjutkan dengan aksi doa bersama yang didampingi pula oleh Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Rudi Setiawan. "Saya selalu mendukung dan berdoa agar buruh bisa meningkatkan kesejahteraan bagi keluarganya. Hanya satu yang saya minta. Jogo Suroboyo! Hidup Buruh!" teriak lantang polisi dengan tiga melati ini.

Aksi teaterikal hari buruh di Surabaya. (Foto: Phaksy Sukowati/kumparan)

Para buruh pada kesempatan ini juga menyampaikan penolakan pada PP Nomor 78 Tahun 2015 tentang Pengupahan. Para buruh ingin pemda memberlakukan hasil survei kebutuhan hidup layak (KHL) dalam menetapkan upah minimum. Sehingga, hal itu mengurangi disparitas upah minimum di Jawa Timur.

Buruh juga meminta Gubernur Jatim, Soekarwo untuk menerbitkan Pergub perlindungan pekerja/buruh terdampak teknologi global, termasuk gempuran tenaga kerja asing yang masuk ke Indonesia. "Tenaga kerja asing harus kita usir dari negeri ini!" teriak ribuan Buruh.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.60