Alasan Said Didu Tak Lapor Polisi saat Akun Medsosnya Diretas

Eks Sekretaris Kementerian BUMN, Said Didu, mengungkapkan alasan mengapa pihaknya tidak melaporkan peretasan akun media sosial Twitter, Facebook serta nomor WhatsApp (WA) miliknya ke kepolisian.
Said mengatakan pelaporan kepada kepolisian dirasa tidak membuahkan hasil apabila merujuk pada kawan-kawannya yang telah lebih dahulu melaporkan peretasan, seperti Mustofa.
Menurut Said, Mustofa ketika melakukan pelaporan diminta identitas lengkap, termasuk password email, media sosial dan nomor ponsel.
"Mustofa pernah mengalami, malah yang terjadi pengambilalihan lagi (akun medsos), kalau dia muncul lagi di medsos. Jadi kalau dilaporkan malah tidak bisa lagi bermain medsos, karena identitas pribadi sudah diambil semua," kata Said di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu (14/4).
"Dan faktanya tidak ada pernah bisa kembali diungkap siapa yang melakukan pengambilan ini," sambungnya.
Said mengatakan peretasan juga dialami oleh Faldo Maldini dan Johannes Prabowo. Said mengaku kecewa kepada pihak-pihak yang telah merusak privasi orang lain. Dia pun meminta agar pemerintah hadir dalam perlindungan data warganya.
"Saya ingin menyatakan betapa negeri ini, negara sudah tidak hadir melindungi hak dasar warga negara untuk kebebasan berpendapat," tuturnya.
Faldo sendiri mengakui bahwa akun Twitter miliknya sempat diretas. Dia menyebut peretas itu kemudian menyebar fitnah melalui pesan singkat di Twitter. Namun, Faldo mengatakan peratasan itu dapat dikembalikan karena segera melaporkan kepada Twitter.
"Saya ingin ngelaporin, tapi saya tahu antrean di sana banyak banget, beres pilpres deh, beres kepilih dipilih di dapil, kalau Pak Jokowi yang kepilih, selamat mereka, kalau Pak Prabowo menang, habis mereka," canda Faldo yang disambut tawa.
