kumparan
12 Feb 2018 21:35 WIB

AM Fatwa di Mata Amien Rais: Orang yang Unik dalam Segala Hal

Amien Rais (Foto: Paulina Herasmaranindar/kumparan)
Ketua Majelis Kehormatan PAN Amien Rais turut hadir dalam acara mengenang AM Fatwa yang diadakan di Balai Kota DKI Jakarta. Dalam acara tersebut, Amien mengenang perkenalannya dengan anggota DPD RI itu.
ADVERTISEMENT
Amien menuturkan, suatu hari ia makan di sebuah warung dekat PP Muhammadiyah. Di sana, ia menyebutkan baru saya membaca sebuah kitab kecil yang ditulis oleh seorang ulama Mesir, Ahmad Basar, tentang masa kejayaan Firaun yang runtuh akibat sosok pemimpin yang berani mengatakan tidak pada kezaliman.
"Nah, Pak Fatwa ini, satu dari sekian anak bangsa yang mengatakan tidak pada kekuasaan. Karena itu, saya katakan waktu itu ke beliau, insyaAllah utang sejarah, utang budi kemanusiaan Indonesia kepada Anda (AM Fatwa) itu besar sekali. Tapi jangan terkejut jika Anda nanti ditangkap. Dan prediksi saya betul," ungkap Amien di Balai Kota DKI Jakarta, Senin (12/2).
Anies Baswedan di Mengenang AM Fatwa. (Foto: Moh Fajri/kumparan)
Seminggu setelah pertemuan tersebut, Amien menerima surat dari penjara. Dalam surat tersebut, AM Fatwa menyebutkan prediksi Amien tentang ia yang akan dijebloskan ke penjara, tepat.
ADVERTISEMENT
"Kedua, Pak AM Fatwa ini seorang hamba Allah yang sengat pandai bersyukur. Jadi ketika mendirikan PAN dan ketika kemudian menjadi wakil Ketua MPR RI, dia mengatakan 'alhamdulillah, Mas Amien, sejak muda saya ingin menjadi anggota MPR," kisah Amien.
Selain itu, Amien menilai AM Fatwa adalah seorang tokoh yang unik hampir dalam segala hal. Bahkan, yang paling diingat oleh Amien adalah ketika AM Fatwa meminum obat pencahar perut saat dibawa ke pengadilan.
"Begitu masuk ke pengadilan lantas semerbak baunya karena diarenya lancar sekali sehingga kemudian hakim mengatakan ia (sidangnya) ditunda sampai waktu yang akan datang. Saya belum pernah mendengar ada yang sekian hebat kecuali Pak AM Fatwa," tuturnya.
Hal terakhir yang dikenang oleh Amien adalah sosok AM Fatwa yang ia nilai menggoreskan sejarah, misalnya saat kongres PAN yang pertama. Saat itu, Zulkifli Hasan mengusulkan Amien Rais menjadi pemimpin PAN tanpa pemilihan karena pasti menang.
ADVERTISEMENT
Namun, AM Fatwa yang tidak setuju dengan penunjukan pemimpin tanpa demokrasi kemudian mengajukan diri. Setelah itu, Faisal Basri juga ikut mengajukan diri, meski pada akhirnya keduanya harus kalah dari Amien Rais yang mendapat suara 80-an.
"Tapi more lesson, demokrasi itu tidak boleh melupakan suara lain. Harus diuji bahwa tidak seluruh orang pasti sama (pilihan) pemimpinnya, tentu ada sebagian orang yang suaranya sebagai penyeimbang. Mudah-mudahan di alam barzah bisa ditemani amal soleh," pungkasnya.
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan