kumparan
19 Sep 2019 16:22 WIB

Analisis BMKG soal Gempa 5,6 M dan 6 M di Tuban

Ilustrasi gempa bumi. Foto: Getty Images
Wilayah Tuban di Jawa Timur diguncang dua kali gempa pada Kamis (19/9) siang. Gempa pertama terjadi pukul 14.06 WIB yang berkekuatan 5,6 magnitudo. Selang 25 menit kemudian, gempa 6 M kembali mengguncang Tuban.
ADVERTISEMENT
Kedua gempa ini berpusat di laut pada jarak 88 km dan 75 km arah timur laut Kota Rembang, Kabupaten Rembang, dengan kedalaman masing-masing 620 km dan 623 km.
"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, tampak bahwa gempa ini merupakan gempa dalam (deep focus earthquake) yang dipicu oleh adanya deformasi batuan pada slab Lempeng Indo-Australia di kedalaman tersebut," jelas Kepala Bidang Mitigasi, Gempa Bumi, dan Tsunami BMKG, Daryono, dalam keterangannya, Kamis (19/9).
Daryono menjelaskan, fenomena alam ini menarik karena gempa hiposenter dengan kedalaman lebih dari 300 km jarang terjadi. Getaran gempa pun dirasakan cukup luas dari Bandung hingga Lombok.
"Hal ini disebabkan hiposenternya yang dalam sehingga spektrum guncangan dirasakan dalam wilayah yang luas. Patut disyukuri bahwa gempa tidak berdampak merusak, karena kedalaman hiposenternya yang sangat dalam. Sehingga energinya sudah mengalami perlemahan setelah sampai di permukaan bumi," kata Daryono.
ADVERTISEMENT
Meski tidak berdampak besar, Daryono mengungkapkan gempa ini sangat menarik untuk dikaji untuk kemajuan sains kebumian. Gempa yang terjadi ini menjadi bukti aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia di kedalaman 500 km di bawah Laut Jawa masih aktif.
Daryono, Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG. Foto: Jafrianto/kumparan
Sedangkan Lempeng Indo-Australia di bawah laut begitu menunjam dan menukik curam hingga kedalaman lebih dari 600 km.
"Proses terjadinya gempa hiposenter dalam hingga kini masih menyisakan banyak tanda tanya. Ada teori yang menjelaskan kaitannya dengan perubahan sifat kimiawi batuan pada suhu dan tekanan tertentu," ujar Daryono.
"Namun, juga ada dugaan bahwa lempeng tektonik di kedalaman 410 kilometer mengalami gaya slab pull (gaya tarik lempeng ke bawah). Sedangkan pada bagian lempeng di kedalaman lebih dari 600 kilometer terjadi gaya apung lempeng yang menahan ke atas (slab buoyancy)," imbuhnya.
ADVERTISEMENT
Selain itu, melihat dari hiposenternya, gempa yang terjadi di Tuban terletak di zona transisi mantel pada kedalaman 410-600 km.
"Aktivitas seismik ini tampaknya lebih disebabkan oleh adanya pengaruh gaya slab pull, yaitu gaya tarik lempeng ke bawah akibat tarikan gravitasi bumi yang ditandai dengan mekanisme sumber gempanya yang berupa sesar turun," tutupnya.
Sejauh ini, belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa bumi. Dilihat dari hasil pemodelannya, kedua gempa ini tidak berpotensi tsunami.
Gempa ini terasa cukup kencang dengan skala III MMI di Madura, Malang, Denpasar, Mataram, Lombok Barat, Lombok Tengah, Sumbawa, dan Bima. Sedangkan getaran gempa dengan skala II-III terasa di Cilacap, Purworejo, Yogyakarta, Lumajang, Tuban, Trenggalek, Surabaya, dan Bandung.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan