Pencarian populer

Apa Jadinya Jika Bom Nuklir Korut Dijatuhkan di Monas?

Ilustrasi Monumen Nasional. Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Beberapa pekan terakhir perbincangan dunia berputar soal konflik negara-negara pemilik senjata nuklir. Ada Amerika Serikat yang belum sepaham dengan Korea Utara, atau konflik bersenjata antara India dan Pakistan.

Keempat negara ini hanya sebagian dari sedikit sekali negara pemilik senjata nuklir. Namun, mereka paling rentan menggunakan senjata tersebut. Korut kerap mengancam AS dengan bom nuklir mereka, sementara Pakistan dan India sedang berperang di Kashmir.

Hingga saat ini, AS adalah satu-satunya negara yang pernah menggunakan bom nuklir dalam perang. Pada 73 tahun lalu, kota Hiroshima dan Nagasaki di Jepang, luluh lantak dihantam dua nuklir Amerika.

Bom Hiroshima dan Nagasaki Foto: Wikimedia Commons

Sekitar 160 ribu orang tewas akibat bom itu, sementara puluhan ribu lainnya meninggal karena luka bakar atau penyakit yang ditimbulkan radiasi.

Menurut Alex Wellerstein, peneliti di Stevens Institute of Technology, Amerika Serikat, ada tiga efek serangan jika nuklir diledakkan, yaitu ledakan yang bisa meratakan kota, gelombang panas yang membakar kulit, dan radiasi.

"Dan radiasi itu bukan sesuatu yang bisa kita lihat dan rasakan. Tapi jika Anda terlalu dekat dengan bom, Anda akan mendapatkan hukuman mati tanpa menyadarinya," kata Wellerstein seperti dikutip dalam tulisan USA Today pada 2017 lalu.

"Jika Anda cukup jauh, kemungkinan Anda bisa berisiko kanker," lanjut dia.

Suasana Kota Hiroshima usai terjadinya ledakan bom nuklir pada 6 Agustus 1945. Foto: AFP

Teknologi bom nuklir saat ini juga jauh lebih maju ketimbang bom AS di Hiroshima dan Nagasaki. Pada 2017, Korut menguji-ledak bom nuklir hidrogennya yang menurut lembaga riset Norwegia, Norsar, berkekuatan 120 kiloton TNT.

Sebagai perbandingan, bom nuklir AS yang dijatuhkan di Hiroshima berkekuatan 15 kiloton dan Nagasaki 20 kiloton.

Bom Hiroshima dan Nagasaki Foto: Wikimedia Commons

Dijatuhkan di Monas

Untuk melihat dampak bom nuklir, Wellersten membuat peta simulasi ledakan di internet bernama NukeMap. Situs ini memprediksi dampak ledakan nuklir terhadap kota, jumlah korban tewas, hingga jangkauan radiasi.

Untuk menggambarkan betapa dashyat ledakan nuklir, dampaknya terhadap kehidupan manusia, serta mengapa senjata ini harus dilucuti, kumparan mencoba mensimulasikan jika bom nuklir hidrogen Korut dijatuhkan di Jakarta, tepat di atas Monumen Nasional (Monas).

Berdasarkan kalkulasi NukeMap, bom nuklir Korut yang kekuatan 120 kiloton akan membunuh 655.660 warga Jakarta, dan lebih dari 2 juta orang yang terluka.

Simulasi bom nuklir Korut di Jakarta Foto: NukeMap

Prediksi NukeMap, radius bola api bom ini bisa mencapai radius hingga 410 meter, menjangkau seluruh komplek Monas. Semua orang di radius ini tewas seketika.

Ledakan akan membuat bangunan-bangunan di radius 3,47 kilometer dari Monas akan ambruk, terutama rumah-rumah warga. Radius ini mencakup wilayah Pasar Baru, Cideng, hingga Kemayoran.

Sementara radius radiasi panas mencapai 4,76 kilometer, hingga ke wilayah Cempaka Putih, Manggarai, dan Ancol. Warga di radius ini akan menderita luka bakar tingkat tiga, yaitu membuat kulit lapisan terluar mengelupas, dan menghancurkan saraf. Dengan luka bakar ini, seseorang bisa diamputasi.

NukeMap mencatat, angin ledakan jarak jauh nuklir Korut bisa mencapai radius 9,75 kilometer, hingga ke Mampang, Meruya Utara, dan Kebayoran Lama. Kaca-kaca bangunan di radius itu diprediksi pecah.

Simulasi bom nuklir Korut di Jakarta Foto: NukeMap

Radiasi akibat serangan nuklir ini bisa menempel pada debu dan tanah, menyebar ke seantero Jakarta jika terbawa angin atau bertahan lama di udara. Warga yang terpapar radiasi akan menderita jangka panjang, salah satunya terjangkit kanker.

Melihat dampaknya yang mengerikan, tidak heran jika dunia ingin memusnahkan ancaman senjata nuklir. Dalam sebuah wawancara dengan situs Christian Post pada 2012 lalu, mantan presiden AS Jimmy Carter mengatakan perang nuklir akan menghancurkan dunia dan dia berusaha keras mencegahnya.

"Saat saya di Gedung Putih, saya menghadapi tantangan Perang Dingin. Uni Soviet dan saya punya 30 ribu senjata nuklir yang bisa menghancurkan Bumi, saya harus menjaga perdamaian," kata Carter.

Negara Bersenjata Nuklir. Foto: Basith Subastian/kumparan
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Bagikan ide, informasi, momen dan cerita kamu melalui
kumparan
Dengan ini kamu menyetujui syarat
& layanan dari kumparan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.38