Badan Geologi: Tidak Benar Krakatau Masuk Fase Mematikan

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Konpers perkembangan Gunung Krakatau oleh Antonius Ratdomopurbo, Sekretaris bidang Geologi KESDM. (Foto: Rafyq Alkandy Ahmad Panjaitan/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Konpers perkembangan Gunung Krakatau oleh Antonius Ratdomopurbo, Sekretaris bidang Geologi KESDM. (Foto: Rafyq Alkandy Ahmad Panjaitan/kumparan)

Meningkatnya status Gunung Anak Krakatau menjadi siaga membuat sebagian warga khawatir. Meski status Anak Krakatau meningkat, Sekretaris Badan Geologi Kementerian ESDM, Antonius Ratdomopurbo, membantah bahwa Gunung Anak Krakatau masuk dalam kategori mematikan.

"Satu hal, anak krakatau tidak benar masuk dalam fase mematikan," tegas Purbo saat konferensi pers di Kantor KESDM, Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (27/12).

"Kalau orang naik ke puncak krakatau ya mematikan," tambahnya.

Foto udara letusan gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. (Foto: Antara/Nurul Hidayat)
zoom-in-whitePerbesar
Foto udara letusan gunung Anak Krakatau di Selat Sunda. (Foto: Antara/Nurul Hidayat)

Purbo menjelaskan, saat ini fokus pihaknya adalah mendeteksi longsor dari Gunung Anak Krakatau dan efek dari longsor tersebut secepatnya. Dengan begitu, BMKG bisa segera memutuskan dan memberi peringatan dini terhadap masyarakat.

"Kita memberi masukan ke BMKG seperti itu. Kita itu kalau tidak bisa mendeteksi longsor ya kita deteksi efek dari longsor secepatnya, sedekat-dekatnya," tuturnya.

Ilustrasi Longsoran Anak Krakatau di Sisi Barat Daya. (Foto: Dok. Paper Deplus)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Longsoran Anak Krakatau di Sisi Barat Daya. (Foto: Dok. Paper Deplus)

Purbo melanjutkan, keadaan Gunung Anak Krakatau berbeda dengan gunung meletus lainnya, sebab di sana tidak ada penduduk. Ia menegaskan, dalam keadaan normal yakni status waspada cukup jangan menyentuh anak gunung Karakatau.

"Status itu resiko. Sekarang ada tambahan lagi eskalasi, bentuk-bentuk letusan yang berkembang. Jadi kita nyatakan dengan lontaran maksimal 3 kilometer, ya amannya 5 kilometer," pungkasnya.