Pencarian populer

Bambang Soesatyo: Saya Akan Ajukan Airlanggga Kembali Jadi Menteri

Airlangga Hartarto (kiri) bersama Bambang Soesatyo. Foto: Antara/Wahyu Putro A

Belasan elite dan kader Golkar memenuhi rumah dinas Bambang Soesatyo di Jalan Widya Chandra III, Kamis (4/7) lalu. Satu per satu berdatangan dan berkumpul, bergantian menunggu waktu bertemu sang empunya rumah.

Dari jajaran elite, tampak Bendahara Umum DPP Golkar Robert Joppy Kardinal, Korbid Kemaritiman DPP Golkar Elvis Junaidi hingga eks Korbid pemenangan wilayah Timur Aziz Samual. Selain itu, tampak pula beberapa ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) tingkat kabupaten/kota yang antre bertemu Bamsoet untuk menyatakan dukungannya.

Pengurus DPP dan DPD berbaur, bersatu dalam keriuhan hajat tuan rumah yang bertekad masuk gelanggang mengincar posisi Golkar-1.

Bamsoet dengan sabar melayani satu per satu tamunya. Baru selesai menerima satu tamu, ia sudah harus beranjak ke ruangan lain menyapa tamu berikutnya. “Ada salah satu ketua DPD mau bertemu,” ujar seorang asisten kepada Bamsoet tiba-tiba.

Ikhtiar Bamsoet meraih kursi Ketua Umum Golkar tak akan mudah. Mantan wartawan ini kudu berhadapan dengan petahana Airlangga Hartarto. Tarung politik Bamsoet dan Airlangga membuat Golkar kembali panas setelah tampak ‘tenang’ setahun terakhir.

Intrik dimulai dengan penentuan jadwal Musyawarah Nasional (Munas) sebagai mekanisme pemilihan ketum baru. Kubu Airlangga ngotot Munas digelar Desember. Di lain sisi, Bamsoet dan gerbongnya ingin Munas dilaksanakan sebelum Oktober. Sebab Oktober merupakan waktu penentuan kursi kabinet dan pimpinan serta Alat Kelengkapan DPR dan MPR di periode Jokowi yang kedua .

Bamsoet tampak santai menghadapi dinamika yang terjadi. Ia mengklaim telah menggaet dukungan mayoritas DPD level kabupaten/kota dan 34 DPD provinsi. “(Pernyataan dukungan) yang sudah tertulis ke kita sudah lebih dari setengah,” kata Bamsoet ketika berbincang dengan kumparan.

Bagaimana Bamsoet merancang strategi politik? Apa yang akan ia tawarkan untuk Golkar? Berikut petikan wawancara kumparan dengan Bamsoet.

Ketua DPR, Bambang Soesatyo. Foto: Jamal Ramadhan/kumparan

Kenapa muncul desakan agar Munas Golkar dipercepat dari Desember?

Jadwal Munas itu Januari sampai Desember. Nggak ada rumusnya dimajukan. Di Anggaran Dasar, nggak ada tertuang (Munas) harus Desember 2019. Jadwal Munas berakhir pada 2018, maka waktunya pada Januari sampai Desember.

Nah kalau katakanlah 2018 itu namanya dipercepat. Kalau lewat dari Desember itu pun akan terlambat. Memang dikatakan bisa maju enam bulan, artinya bisa-bisa range-nya Juni, Juli, sampai Desember 2019. Bisa maju enam bulan, bisa mundur enam bulan. Jadi boleh, tergantung yang menentukan, yaitu di rapat pleno.

Keputusan jadwal Munas itu bukan ditentukan oleh orang-orang, bukan oleh saya, bukan juga oleh Airlangga. Tapi oleh keputusan partai. Ada di mana, ada di rapat pleno yang melibatkan seluruh pengurus DPP. Di situ diputuskan jadwal (munas).

Makanya saya heran, ini kok ada yang kukuh Desember, ada yang minta dipercepat. Pertanyaan yang menarik adalah, kok pada ketakutan Munas sekarang. Tanyanya jangan sama saya.

Ada sejumlah kader yang ingin Munas Golkar diselenggarakan sebelum pelantikan kabinet dan anggota DPR di Oktober, Anda setuju?

Bagi saya pribadi mau kapan aja nggak ada masalah. Ya karena saya mau maju, saya tidak enak masuk ke wilayah itu. Ada teman-teman yang mengusahakan (munas dipercepat).

Idealnya Munas bulan apa?

Idealnya (kapan waktu yang tepat untuk munas) akan lahir dalam suatu rapat, namanya pleno. Ada yang bilang idealnya Desember, ada yang Agustus.

Persiapan rapat pleno DPP Golkar di Kemanggisan, Jakarta Barat (27/8/2018). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Tapi, adakah kaitan munas dengan pembentukan kabinet baru dan penentuan Alat Kelengkapan Dewan (AKD) di DPR yang akan dilantik Oktober?

Nggak ada. Kalau kita, katakanlah yang jadi (ketum Golkar) nanti bukan saya, bukan juga Airlangga. Kan dia punya hak untuk mengganti perjalanan seluruh anggota parlemen, AKD, bisa diganti juga.

Tapi jika dicermati, hampir semua parpol koalisi Jokowi akan melakukan kongres di bulan Agustus.

Kenapa?

Mungkin supaya seluruh partai solid terlebih dulu sebelum dimulai penyusunan kabinet?

Itu sudah terjawab. Kita selalu ingin merespons dan mengikuti ritme Pak Jokowi dalam membangun koalisi di pemerintahan yang baru nanti. Kita tak ingin mengganggu konsolidasi awal pemerintahan baru nanti.

Memang idealnya ya sebelum Oktober konsentrasi partai pendukung pemerintah sudah selesai. Kan tinggal Golkar saja yang saya denger masih pengin (munas) Desember. Tapi itu bukan putusan orang per orang. Nggak bisa. Bawa ke rapat di pleno.

Relawan Golkar. Foto: AFP/BAY ISMOYO

Keresahan apa yang disampaikan grass root sehingga mendorong Anda maju jadi ketum?

Ada 5 hal yang disampaikan berulang-ulang. Pertama, mereka mengharapkan Partai Golkar tetap setia dan mendukung program Jokowi sampai selesai. Kedua, mereka ingin DPP dalam keputusannya tidak keluar dari mekanisme partai. Ketiga, zero Plt (pelaksana tugas). Mereka berharap tidak ada Plt-Plt. Semua putusan diambil musyawarah mufakat. Karena posisi DPP itu menjadi pengayom dan pembina di daerah-daerah.

Keempat, menghadapi tantangan ke depan, Partai Golkar harus mau melakukan pembaharuan dengan diisi oleh anak-anak muda porsinya 60-70 persen. Agar Golkar ter-update dan tidak jadi partai yang dihuni oleh orang tua.

Kan kemarin kita sudah tahu hasilnya dan ternyata kaum milenial tidak terlalu minat dengan Partai Golkar. Ternyata mereka memilih partai-partai yang dipimpin oleh orang-orang seumurannya.

Jadi bagaimana mengubah Partai Golkar agar tidak jadul. Artinya kalau sekarang diisi oleh anak-anak muda, semangat mudanya menjadi stigma baru bagi Partai Golkar.

Yang kelima, mereka ingin ketua Partai Golkar itu cukup satu kali (menjabat). Untuk yang ini saya setuju. Kenapa? karena Golkar sebagai parpol harus terus update, mencari terobosan baru dan melakukan pembaruan-pembaruan.

Pemilu 2019, pemilih pemula itu sampai 40 juta. Kita harus perkirakan 2024 ini bisa dua kali lipat jumlah pemilih pemula dan milenial. Jadi kalau kita steretoype-nya jadul, ya wassalam. Jadi harus terus melakukan pembaruan.

Ketua Umum Partai Golkar Airlangga Hartarto Foto: Helmi Afandi Abdullah/kumparan

Melihat tradisi, Ketum Golkar hanya memimpin satu periode?

Ya, siklusnya tidak ada ketua umum Golkar yang terpilih dua kali. Pasti sekali. Kecuali zamannya Ali Moertono ketika Golkar berubah dari Sekber menjadi partai.

Pergantian partai itu bukan hanya pergantian ketua, tapi pergantian rezim. Kalau ketua yang sekarang ini diperpanjang, atau kepilih dua kali, ini berarti rezimnya nggak berubah.

Saya sendiri setuju dengan ini (ketua umum menjabat satu periode). Karena saya berebut posisi ketua bukan hanya satu atau dua kali di organisasi yang memang aturannya hanya satu kali (ketua memimpin).

Ketika saya di HMI, hanya satu kali. Di KNPI, hanya satu kali. HIPMI hanya satu kali. Karena terus dibuat kesempatan dan kaderisasi

Sejauh ini sudah berapa DPD I dan DPD II dua yang mendukung?

Ya itu bicara dapur, jangan disampaikan. Sudah banyak. Kalau kita fokus DPD I cuma ada 34. Tapi setengahnya lebih sudah (menyatakan dukungan) ke kita. Yang sudah tertulis ke kita sudah lebih dari setengah. Nggak perlu saya umumkan.

Apa visi yang dibawa seorang Bamsoet untuk Golkar?

Menurut saya yang menarik lima poin yang disampaikan kader daerah. Saya akan start dari situ. Itu yang harus dijawab.

Berebut Takhta Beringin. Foto: kumparan

Anda digadang sebagai salah satu Ketua MPR. Jika maju sebagai ketum, apakah tetap maju atau tidak?

Saya sebenarnya ingin menjadi bapak yang baik. Selama jadi Ketua DPR, banyak waktu yang tersita. Komisi III dulu masih agak oke. Sekarang nggak bisa, karena diatur sama protokol harus menerima ini dan itu. Banyak hal yang hilang. Mengalir sajalah. Kalau memang diberi amanat ya, mengalir saja.

Apakah sudah mempersiapkan nama menteri yang bakal diajukan jika nanti berhasil menjadi ketum?

Saya akan ajukan Airlangga dan Agus Gumiwang Kartasasmita kembali sebagai menteri. Kita harus melihat dengan objektif bahwa kinerja keduanya bagus.

Nama menteri lainnya?

Belum lah.

Kabarnya Anda sudah sowan ke banyak tokoh senior?

Banyak. Bang Akbar Tandjung sudah. Semua sudah saya datangi. Saya lupa siapa saja. Pak Ical (Aburizal Bakrie) baru kontak-kontakan. Pesannya sudah saya baca di berbagai media.

Sowan itu juga untuk meminta restu dan dukungan senior?

Nggak, kita minta pandangan. Gimana Partai Golkar ke depan. Ya menggali harapan yang bisa. Kan kita tidak ingin partai yang sudah dibangun sejak lama ini tinggal kenangan. Partai Golkar punya tradisi menghormati senior.

Para senior ada masukan soal polemik Munas?

Nggak ada. Jadi hanya memberi pesan, jaga kekompakan, solider, kemudian soal tantangan ke depan.

Terus menceritakan pengalaman. Ketika saya sowan ke Pak Jusuf Kalla, beliau cerita. “Sesibuk-sibuknya saya, saya ini Wapres, tapi sebulan dua kali itu rapat di DPP.”

Apakah itu sindiran dari Pak JK untuk kubu sana?

Tanya saja ke Pak JK. Dia bicara sebagai senior, memotivasi adik-adiknya. Intinya mungkin, menurut saya, mengambil hikmahnya yaitu kalau ngurus partai yang benarlah. Ini ke saya, bukan ke orang lain, nanti salah lagi. Lebih pada nasihat buat saya. Sebagai seorang senior ke adiknya. Bagaimana mengelola partai yang baik, bagaimana melakukan konsolidasi dengan daerah. Beliau kan sudah pengalaman.

Kalau Bang Akbar Tandjung dan Pak Luhut Pandjaitan?

Pesan beliau ya sama. Kurang lebih sama lah. Partai Golkar ini ke depan harus solid. Klise semua. Intinya bagus-bagus. Karena memang itulah sikap seorang senior kepada kita. Memotivasi.

Apakah para senior Golkar sudah menentukan sikap, mendukung Anda atau Airlangga?

Nggak. Wanbin (Dewan Pembina), senior-senior, harus berada di tengah adik-adiknya. Kalau mereka memihak, mereka menciptakan konflik.

Ini harapan saya. Seluruh senior harus berada di tengah. Karena yang akan maju bukan hanya saya, bukan hanya Airlangga, yang bagus-bagus nanti akan masuk ke kontestasi. Mereka kan adik-adiknya.

Bambang Soesatyo. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan

Apakah sudah ada rencana bertemu ketua umum parpol koalisi pendukung Jokowi?

Masa saya lapor ke kamu hahaha. Sudah berjalan. Sudah hampir semuanya kita ketemu baik formal atau kebetulan. Rata-rata kan sudah saling kenal.

Apakah sudah bertemu dengan Presiden Jokowi?

(Kemarin) Lebaran. Nanti ketemu lagi tanggal 16 Agustus (Sidang Tahunan MPR).

Tapi khusus ngobrol soal pencalonan jadi ketum?

Kurang lebih bagi saya sih pesan Pak Jokowi ke Pak Airlangga dan Partai Golkar sama untuk pesan ke kita semua.

Saat bertemu dengan pengurus DPP dan DPD Golkar di Istana Bogor, Senin (1/7), Jokowi memberi sejumlah wejangan. Salah satunya agar Golkar solid dan memperkuat kepemimpinan partai. Jokowi juga meminta Golkar menciptakan stabilitas politik nasional.

Artinya pesan Jokowi ke Pak Airlangga saat bertemu di Bogor bukan bentuk dukungan ke salah satu calon?

Ya itu interpretasi masing-masing. Yang merasa tidak setuju, monggo. Saya nggak mau menciptakan sesuatu yang belum terjadi atau terburu-buru atau menginterpretasikannya. Kecuali kalau bahasanya jelas. Ini kan macam-macam interpretasinya. Contohnya ini, Golkar harus diperkuat. Kalau begitu selama ini lemah?

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan