BNPB: Kerugian Akibat Gempa Lombok Diperkirakan Rp 7,7 T

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sutopo konpers update gempa di Lombok (Foto: Rafyq Panjaitan/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Sutopo konpers update gempa di Lombok (Foto: Rafyq Panjaitan/kumparan)

Rentetan gempa yang melanda Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), menimbulkan kerugian besar bagi masyarakat setempat. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sekitar puluhan ribu rumah dan fasilitas umum, mengalami kerusakan. Bahkan kerugian akibat bencana tersebut ditaksir mencapai triliunan rupiah.

"Meninggal dunia total 515 jiwa, luka-luka total 7.145 orang, pengungsi 431.416 orang, rumah rusak 73.843 (unit), fasilitas umum dan fasilitas sosial 798 unit. Kemungkinan kerugian dan kerusakan Rp 7,7 triliun," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho di Kantor Graha BNPB, Jakarta Pusat, Selasa (21/8).

Sutopo menjelaskan, kerugian dan kerusakan itu meliputi lima sektor. Antara lain, sektor permukiman, infrastruktur, ekonomi produktif, sosial, dan lintas sektor. "Paling banyak menyumbang kerusakan adalah permukiman," imbuh Sutopo.

Dampak Gempa Bumi Lombok (Foto: Rafyq Panjaitan/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
Dampak Gempa Bumi Lombok (Foto: Rafyq Panjaitan/kumparan)

Sejauh ini, sudah dua kali gempa besar mengguncang Lombok. Yakni, berkekuatan 7,0 magnitudo pada 5 Agustus dan berkekuatan 6,9 magnitudo pada 19 Agustus. Sedangkan ratusan gempa susulan berkekuatan kecil hingga sedang terus melanda hingga Senin (20/8).

Kondisi Pasca Gempa di Pelabuhan, Kayangan Lombok Utara (19/8/2018). (Foto: Twitter/@Sutopo_PN)
zoom-in-whitePerbesar
Kondisi Pasca Gempa di Pelabuhan, Kayangan Lombok Utara (19/8/2018). (Foto: Twitter/@Sutopo_PN)

Adapun, sebanyak 8 gempa susulan di antaranya, memiliki kekuatan signifikan dan dirasakan guncangannya oleh masyarakat. "Berdasarkan hasil penghitungan kerusakan dan kerugian, kita masih melakukan penghitungan untuk melakukan recovery. Perkiraan kebutuhan sekitar 7 triliun," ucap Sutopo.