kumparan
15 Sep 2019 20:31 WIB

Busyro: Ada Indikasi Isu Taliban di KPK Politisasi Istana

Mantan Ketua KPK, Busyro Muqoddas. Foto: Arfiansyah Panji Purnandaru/kumparan
Mantan Wakil Ketua KPK Busyro Muqoddas bicara soal istilah penyidik Taliban yang ada di KPK. Ia pun menepis ada isu radikalisme yang berkembang di KPK.
ADVERTISEMENT
Busyro mengatakan, istilah penyidik Taliban dan penyidik India sudah ada di KPK sejak lama. Bahkan, sebelum ia menjadi bagian lembaga antirasuah tersebut. Busyro menjelaskan, istilah Taliban bukan merujuk pada gerakan radikalisme.
“Waktu saya masuk itu sudah ada istilah Taliban. Saya heran, lho kok Taliban. (lalu dijelaskan) Pak, ini enggak ada konotasi agama. Lho mengapa? Karena ini icon Taliban itu menggambarkan orang-orang (militan) Afghanistan. Penyidik-penyidik di KPK itu militan-militan,” ujar Busyro saat ditemui di Kantor PW Muhammadiyah Jatim, Surabaya, Minggu (15/9).
Busyro menyebut, golongan penyidik Taliban tidak didasari oleh agama tertentu. Penyidik Taliban merupakan penyidik gila kerja dan berintegritas di KPK yang memiliki latar agama beragam.
“Ini ada Kristian (agamanya) Kristen, ini ada Kadek (agamanya) Hindu, ini ada Novel cs (agamanya) Islam. Jadi mereka biasa-biasa saja. Jadi Taliban itu enggak ada istilahnya dalam konteks radikal,” tambahnya.
ADVERTISEMENT
Busyro menduga, isu adanya penyidik Taliban yang radikal di KPK dihembuskan dari Istana. Tudingan ini kemudian dikembangkan oleh Pansel KPK.
“Hanya ini dipolitisir dan politisasi itu ada indikasi dari Istana. Orang istana,” terang dia.
Bunga dan bendera kuning di depan lobi Gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta. Foto: Nugroho Sejati/kumparan
“Nah kemudian (istilah Taliban) dikembangkan oleh Pansel. Mengapa baru kemudian Pansel itu kurang pekerjaan. Seakan-akan enggak punya konsep. Padahal ada tiga guru besar, itu materi psikotesnya pakai isu-isu radikalisme,” paparnya.
Busyro menganggap pertanyaan Pansel kepada Capim KPK tidak logis dan kekanak-kanakan. Tidak layak digunakan untuk menyeleksi Capim KPK.
“Pertanyaan-pertanyaan itu childish banget itu. Misalnya ‘kalau ada bendera merah-putih menghormati itu bagaimana?’ (Pertanyaan untuk) SMP, SMP inpres kalau gitu kan. Saya diberitahu itu ngelus dada?” tandasnya.
ADVERTISEMENT
Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan