Pencarian populer

Catur Bambang, Rajut Asa Lewat Bengkel Difabel Motor Roda Tiga

Catur Bambang, pendiri bengkel difabel di Ciputat, Kamis (9/8). (Foto: Tommy Wahyu Utomo/kumparan)

Jemari tangan itu terus menggerakkan kursi roda hitam yang didudukinya. Gerakan tangan yang lincah membawa langkah dia ke sebuah bengkel kecil di sudut Kota Tangerang Selatan.

Namanya Catur Bambang, pemilik bengkel ‘Modifikasi Motor Roda Tiga’ yang khusus memodifikasi kendaraan untuk difabel. Pria 45 tahun itu membuka bisnis bengkel difabel sejak 2004 karena pengalaman pribadi. Catur yang kakinya diamputasi itu sering kali kesulitan bila ingin berpergian.

“Menjadi difabel ini ke mana-mana kalau mau pergi itu kesulitan masalah transportasi. Dari situ kita membikin rangkaian yang sederhana waktu itu, mudah dikendarain, dan mudah dirawat diservis atau gimana gitu.,” cerita Catur saat ditemui kumparan di bengkelnya, Kamis (9/8).

Catur Bambang (45) Pendiri Bengkel untuk Difabel, saat memodifikasi motor roda tiga di kawasan Rempoa, Ciputat, Tangerang Selatan, Kamis (9/8/2018). (Foto: Tomy Wahyu Utomo/kumparan)

Tekad pria asal Surabaya itu mendapat respons baik dari rekan-rekan sesama difabel. Keluarganya pun mendukung niatan tersebut. Dengan modal sendiri, Catur mulai merintis bisnisnya.

Awalnya Catur merasa kesulitan karena tidak memilliki pengalaman modifikasi motor. Dia dulunya adalah seorang pekerja abdi negara di Surabaya. Namun musibah menimpannya, dia mengalami kecelakaan kerja hingga membuat kedua kakinya diamputasi.

Video

Lepas dari masa-masa kelam yang membuat dirinya trauma, perlahan Catur mulai belajar memodifikasi motor dari rekan-rekannya yang ahli. Catur belajar mengelas dan juga konstruksi motor.

“Untuk mematangkan semua sekitar 3 tahun lebih. Baru saya kuasain semua ilmu tekniknya,” sebut Catur.

Setelah semua teknik modifikasi dikuasai, Catur dihadapkan pada kesulitan lain yaitu mencari bahan baku untuk modifikasi kendaraan khusus difabel. Dia berjuang mencari penjual bahan baku dari Bekasi hingga ke daerah yang jauh dari tempat tinggalnya. Dia mencari sendiri semua bahan-bahan itu hingga akhirnya kini dia punya langganan.

“Kesulitannya dulu pertama-tama bahan baku karena enggak semua bahan baku ada di pasaran. Dan kita harus inden atau pesan. Tapi, lama-lama kita punya channel dan akhirnya tinggal telepon barang ada gitu,” ungkap Catur sembari mengembangkan senyum.

Catur Bambang (45) Pendiri Bengkel untuk Difabel, tiba di lokasi bengkelnya di kawasan Rempoa, Ciputat, Tangerang Selatan, Kamis (9/8/2018). (Foto: Tomy Wahyu Utomo/kumparan)

Pelanggan dari seluruh Indonesia

Dalam sebuah percakapan ringan di teras bengkelnya, Catur mengatakan sudah banyak pelanggan yang datang ke bengkelnya. Bahkan, ada pelanggan yang khusus mengirimkan motor dari Jayapura ke bengkelnya untuk dimodifikasi.

Pria yang sehari-hari tinggal di Bogor itu mengklaim, para pelanggannya datang dari hampir semua wilayah di Indonesia. Maklum, Catur merupakan pendiri bengkel difabel pertama yang khusus untuk sesama difabel. Namanya cukup tersohor di antara para difabel.

“Tinggal Sabang saja yang belum,” celetuknya sembari melempar tawa.

Para pelanggan rela mengirim motornya mahal-mahal hanya untuk dibuatkan roda tiga oleh Catur. Dengan usahanya yang semakin lancar itu, Catur meraup penghasilan yang lumayan.

“Tambah lancar (usahanya), tambah makin banyak konsumennya seluruh Indonesia. Omzet dari 50 sampai 75 juta (per bulan), itu kotor,” sebut Catur.

Catur Bambang (45) Pendiri Bengkel untuk Difabel, saat memodifikasi motor roda tiga di kawasan Rempoa, Ciputat, Tangerang Selatan, Kamis (9/8/2018). (Foto: Tomy Wahyu Utomo/kumparan)

Pesatnya bengkel Catur ternyata memotivasi para difabel lain untuk bisa belajar dengannya. Namun, karena kondisi bengkelnya yang kecil membuat Catur tak mampu merealisasikan asa para temannya itu.

Akhirnya, hanya motivasi-motivasilah yang terus digaungkan Catur kepada rekan sesama difabel. Suatu saat, jika Tuhan menghendaki, Catur ingin bengkelnya semakin besar supaya mampu mewujudkan keinginan teman-temannya.

Meski begitu, dia tetap bahagia melihat teman-temannya bisa mandiri dengan motor roda tiga rancangannya.

“Saya merasa senang kalau karya saya ini bisa dipakai sama teman-teman difabel. Bukan hanya difabel saja, termasuk ibu-ibu mereka bisa nikmatin. Jadi ada kepuasan sendiri lah. Kita merasa karya kita dibutuhkan sama mereka,” kata Catur.

Ikuti kisah Catur Bambang selengkapnya dengan follow topik Bengkel Difabel di kumparan.

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.63