Pencarian populer

Cek Fakta Pidato Kebangsaan Prabowo Subianto

Prabowo Subianto (kanan) dan Sandiaga Uno (kiri) saat berada di JCC dalam acara pidato kebangsaan Prabowo, Senayan, Jakarta, pada Senin (14/1). (Foto: Jamal Ramadhan/kumparan)

Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto membacakan pidato kebangsaannya di JCC, Senayan, Jakarta (14/1). Ia menyoroti dan mengaku prihatin tentang sejumlah hal di Indonesia.

Mulai dari isu-isu ekonomi hingga soal stunting. kumparan berupaya untuk melakukan fact check terkait beberapa hal yang diklaim Prabowo.

Berikut beberapa di antaranya.

1. Anak Stunting

Prabowo membeberkan soal kondisi memprihatinkan anak-anak di Indonesia. Satu dari tiga anak di Indonesia, dia sebut, stunting.

“Indonesia negara yang dari 1 dari 3 anak di bawah 5 tahun gagal tumbuh karena kurang protein, kurang gizi,” kata Prabowo.

ilustrasi 'stunting' (Foto: unicef indonesia)

Cek fakta:

Dari hasil Riset Kesehatan Dasar Tahun 2013, prevalansi stunting di Indonesia mencapai 37,2 %, sedangkan Pemantauan Status Gizi tahun 2016 mencapai 27,5%. Sementara itu, batasan World Health Organization (WHO) menyebutkan, angka normal seharusnya kurang dari 20 persen.

Hal ini menunjukkan, 8,9 juta anak Indonesia mengalami pertumbuhan yang tidak maksimal. Atau 1 dari 3 anak Indonesia mengalami stunting. Lebih dari sepertiga anak berusia 5 tahun tingginya di bawah rata-rata.

2. Angka Bunuh Diri di Indonesia

Prabowo juga mengungkapkan, keprihatinannya soal angka bunuh diri di Indonesia yang begitu tinggi. Meski ia tak menyebutkan angka pasti.

“Dalam negara yang begini kaya, 73 tahun merdeka, ada rakyat bunuh diri karena kelaparan ini adalah penghinaan,” kata Prabowo.

Ilustrasi bunuh diri (Foto: Shutterstock)

Cek fakta:

Berdasarkan data WHO tahun 2017, angka bunuh diri di Indonesia mencapai 7,355 kasus atau setara dengan 3 kasus per 100.000 orang. Jumlah itu menyumbang 0,44 persen kasus kematian secara keseluruhan di Indonesia. Angka tersebut menempatkan Indonesia di peringkat 172 dalam kasus bunuh diri secara global.

3. Impor dan Tingginya Harga Gula

Prabowo juga menyoroti pertanian. Secara spesifik, ia menyebut kesedihan petani tebu karena pemerintah Indonesia banyak mengimpor gula.

“Saya juga baru baru ini dari Jawa Timur petani tebu yang sedih karena saat panen banjir gula dari luar negeri,” ungkap Prabowo dengan berapi-api.

Selain itu, dia juga menyinggung harga-harga kebutuhan pokok yang tidak terkendali.

“Harga telur, daging, dan beras sudah berat dirasakan rakyat. Bagaimana bisa di republik ini harga gula 3 kali lebih mahal dari harga dunia?” ungkap Prabowo.

Tumpukan Gula Putih Rafinasi di Pasar Induk Kramat Jati. (Foto: Nurul Nur Azizah/kumparan)

Cek fakta:

Data impor gula dan kembang gula berdasarkan catatan Kementerian Perdagangan dari 2013 hingga 2017 menunjukkan adanya kenaikan.

2013: USD 1.983,2 juta

2014: USD 1.567,5 juta

2015: USD 1.498,6 juta

2016: USD 2.367,5 juta

2017: USD 2.361 juta

Dikutip dari data perdagangan komoditas di bursa ICE Futures, harga gula untuk pengiriman September 2018 hanya 10,1 sen per pon atau turun 5,57 persen. Sementara secara year to date, harga gula telah turun lebih dari 32 persen.

Dengan harga gula di pasar dunia sebesar 10,1 sen dolar per pon, maka setara Rp 3.262.837 per ton dengan kurs Rp 14.800 per dolar AS. Artinya, harga gula impor Rp 3.262 per kilogram, atau hanya seperempat dari harga jual gula kristal putih eceran di Indonesia yang berkisar antara Rp 12.000-Rp14.000 per kilogram.

4. Ketahanan BBM Indonesia

“Bagaimana mau bertahan kalau cadangan BBM Indonesia cuma cukup untuk 20 hari. Cadangan berasnya juga, cuma cukup untuk tiga minggu,” kata Prabowo.

Cek fakta:

Mengutip data Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), cadangan BBM Indonesia berkisar antara 21 hari hingga 77 hari. Hal ini bergantung pada jenisnya yang berbeda-beda.

Petugas mengisi Bahan Bakar Minyak (BBM) kedalam tangki kendaraan roda dua di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). (Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi)

Dalam rilis BPH Migas, pasca-Natal dan Tahun Baru 2019 (Nataru) dimana konsumsi BBM cenderung meningkat, tidak terjadi kelangkaan BBM selama masa Nataru itu. Adapun posisi cadangan berbagai jenis BBM pada awal Januari 2019 adalah sebagai berikut:

Premium: 21 hari

Solar: 24 hari

Pertalite: 21 hari

Kerosene: 73 hari

Pertamax/Akra 92: 21 hari

Pertamax Turbo: 77 hari

Pertamina Dex: 30 hari

LPG: 18 hari

Avtur: 31 hari

5. Sajak di Saku Prajurit yang Gugur di Banten

Prabowo Subianto membuka pidato kebangsaannya di JCC, Senayan, Jakarta, dengan membacakan sajak prajurit yang gugur tahun 1946 di sebuah pertempuran di Banten.

"Kita tidak sendirian, beribu-ribu orang bergantung pada kita, rakyat yang tak pernah kita kenal rakyat yang mungkin tak akan pernah kita kenal tapi apa yang akan kita lakukan sekarang akan menentukan apa yang akan terjadi kepada mereka," kata Prabowo

Cek fakta:

Ditilik secara historis, diduga prajurit yang tewas tersebut adalah Letnan Satu Soebianto Djojohadikusumo. Ia tak lain adalah paman Prabowo Subianto.

Lettu Soebianto adalah perwira TRI (Tentara Republik Indonesia) yang gugur dalam Peristiwa Lengkong, Serpong, pada 25 Januari 1946.

Ketika itu, dia bersama pimpinannya Mayor Daan Mogot atau Elias Daniel Mogot berupaya melucuti senjata tentara Jepang di Lengkong Wetan, Serpong, Tangerang.

Lettu Soebianto ditemani oleh Lettu Soetopo, Polisi Tentara Resimen IV. Selain itu, 70 taruna Akademi Militer Tangerang juga terlibat dalam peristiwa itu.

Dikutip dari buku 'Akademi Militer Tangerang dan Peristiwa Lengkong' yang ditulis oleh R. H. A Saleh tahun 1995, awalnya sempat ada negosiasi antara Daan Mogot dengan pimpinan Jepang saat itu, Mayor Abe.

Ilustrasi pengamanan TNI. (Foto: AFP/CHAIDEER MAHYUDDIN)

Namun, di tengah jalannya proses negosiasi, ada satu letupan senjata yang tidak jelas dari mana asalnya. Setelahnya pasukan Jepang merespons dengan menembakkan peluru tak terarah secara membabi buta.

Sementara prajurit Indonesia yang memang tidak meniatkan diri untuk berperang tak siap. Mereka tak membawa senjata lengkap dan hanya membawa sangkur dan lempar-lemparan granat.

Daan Mogot, Soebianto, dan Soetopo kemudian keluar dari meja perundingan untuk menenangkan suasana. Akan tetapi, mereka justru gugur bersama 33 taruna lainnya.

Pimpinan Resimen Tangerang pun meminta ke Jepang agar menyerahkan seluruh jenazah yang gugur. Saat itu, ditemukan sebuah surat berisi sajak di saku Lettu Soebianto. Sajak tersebut kini terukir di Taman Makam Taruna Tangerang.

Kami bukan pembangun candi / Kami hanya pengangkut batu / Kamilah angkatan yang mesti musnah / Agar menjelma angkatan baru / Di atas pusara kami lebih sempurna.

- Letnan Satu Soebianto Djojohadikusumo

Tulisan ini berasal dari redaksi kumparan. Laporkan tulisan
Tentang kumparan · Bantuan · Ketentuan & Kebijakan Privasi · Panduan Komunitas · Pedoman Media Siber · Iklan · Karir
2019 © PT Dynamo Media Network
Version: 1.1.60